Saldo Gratis untuk 200 Juta Rekening, Program Rp11 Triliun Dipertanyakan
Abadikini.com, JAKARTA – Rencana pemerintah membuka rekening secara massal sekaligus memberikan saldo gratis kepada masyarakat menuai sorotan. Kebijakan yang ditujukan untuk memperluas inklusi keuangan itu dinilai berpotensi membebani APBN jika tidak disertai perhitungan dan indikator keberhasilan yang jelas.
Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi, mengingatkan pemerintah agar tidak sekadar mengejar jumlah rekening yang berhasil dibuka. Menurutnya, manfaat program harus terlihat dari aktivitas ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat.
“APBN terkuras akibat saldo gratis. Belum lagi kalau rekening tidak berfungsi, tentu akan mubazir,” kata Muslim dilansir dari RMOL Senin (14/9/2026).
Kekhawatiran itu muncul seiring estimasi anggaran yang mencapai sekitar Rp11 triliun untuk membuka hingga 200 juta rekening baru.
Muslim meminta pemerintah memiliki parameter yang terukur untuk memastikan anggaran sebesar itu benar-benar menghasilkan dampak ekonomi.
“Adakah strategi untuk mengukur seberapa jauh pertumbuhan pendapatan dari pembukaan rekening itu? Jangan sampai kebijakan ini hanya sebatas gagah-gagahan dan mencari simpati belaka,” ujarnya.
Meski mengkritisi potensi pemborosan anggaran, Muslim mengakui kebijakan tersebut memiliki sejumlah manfaat jika dikelola secara tepat.
Salah satunya adalah mempercepat penyaluran bantuan sosial secara langsung kepada penerima. Sistem tersebut juga berpotensi mempersempit celah korupsi dalam distribusi bansos sekaligus membuat pendataan masyarakat berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) menjadi lebih efektif.
Menurut dia, keterhubungan rekening dengan identitas kependudukan juga dapat membantu mengantisipasi penyalahgunaan NIK untuk berbagai tindak kejahatan, termasuk aktivitas judi online.
“Pembayaran bansos bisa langsung dan mengurangi risiko korupsi, masyarakat terdata secara efektif berdasarkan NIK. Tentu dengan catatan dikelola secara baik,” pungkas Muslim.



