Tak Cuma Medan Perang, Rusia Kini Menghantam Ekonomi Ukraina
Abadikini.com, JAKARTA – Perang Rusia-Ukraina kembali memasuki fase yang semakin menekan perekonomian Ukraina. Serangan Rusia tidak lagi hanya menyasar garis depan, tetapi semakin diarahkan ke infrastruktur, fasilitas logistik, energi, hingga sektor industri yang menjadi penopang ekonomi negara tersebut.
Reuters melaporkan Ukraina kini bersiap menghadapi musim dingin yang berat setelah serangkaian serangan Rusia menimbulkan kerusakan besar pada infrastruktur dan mengganggu aktivitas ekonomi.
Menteri Ekonomi Ukraina Oleksandr Kravchenko mengatakan kerusakan infrastruktur dan aset tetap akibat serangan udara Rusia sepanjang 2026 telah mendekati US$10 miliar.
Dampak ekonomi yang lebih luas bahkan diperkirakan mencapai sekitar 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Perhitungan tersebut mencakup gangguan terhadap aktivitas ekonomi serta tersendatnya ekspor akibat pelabuhan yang secara de facto mengalami hambatan.
“Kami memperkirakan musim dingin akan sangat sulit, baik dari sisi infrastruktur penting yang terus dihancurkan oleh serangan Rusia setiap hari maupun kondisi ekonomi secara keseluruhan,” kata Kravchenko, seperti dikutip Reuters Senin (14/9/2026).
Tekanan terhadap ekonomi Ukraina semakin terasa setelah Rusia dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan serangan udara menggunakan drone dan rudal terhadap sejumlah fasilitas ekonomi.
Pada 10 September, misalnya, Rusia menyerang sebuah stasiun pengisian bahan bakar di Kyiv serta fasilitas perusahaan agribisnis internasional Bunge di Dnipro. Serangan tersebut menjadi bagian dari pola yang disebut Reuters sebagai peningkatan serangan terhadap target logistik dan ekonomi Ukraina.
Serangan terhadap Dnipro juga menunjukkan bagaimana industri yang berkaitan langsung dengan ekspor Ukraina mulai terdampak. Fasilitas Bunge di kota tersebut merupakan salah satu fasilitas pengolahan minyak nabati terbesar di Ukraina dengan kapasitas sekitar 1.600 ton biji minyak per hari.
Sebelum perang, Ukraina merupakan salah satu eksportir minyak bunga matahari terbesar di dunia, dengan pengiriman sekitar 5 juta hingga 6 juta ton per tahun.
Anggaran Ukraina Makin Tertekan
Di tengah kerusakan infrastruktur, pemerintah Ukraina juga menghadapi persoalan anggaran yang semakin berat.
Reuters melaporkan pendapatan anggaran Ukraina dalam delapan bulan pertama 2026 tercatat sekitar US$1,35 miliar di bawah target. Pada saat yang sama, belanja pertahanan mencapai sekitar US$42 miliar, lebih besar dibandingkan sekitar US$39 miliar yang berhasil dihimpun melalui penerimaan domestik dan pinjaman.
Biaya perang Ukraina kini diperkirakan mencapai sekitar US$190 juta per hari. Beban tersebut meningkat akibat inflasi, kebutuhan memperbesar angkatan bersenjata, serta pengeluaran sosial bagi korban perang.
Tekanan juga datang dari sisi inflasi. Bank Nasional Ukraina memperkirakan gangguan logistik dan meningkatnya biaya yang harus ditanggung perusahaan akibat serangan Rusia dapat menambah 0,4 hingga 0,6 poin persentase terhadap inflasi sepanjang 2026.
Inflasi konsumen Ukraina sendiri telah mencapai 7,7 persen secara tahunan pada Juli, naik dari 7,2 persen pada Juni.
Rusia Bidik Jalur Logistik
Serangan terhadap sektor ekonomi menunjukkan perubahan pola dalam perang yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun tersebut.
Rusia semakin menargetkan gudang, pusat distribusi, perusahaan makanan, jaringan energi, stasiun bahan bakar dan jalur logistik yang menopang aktivitas ekonomi Ukraina.
Pada awal September, Rusia juga menyerang infrastruktur pelabuhan dan fasilitas ekspor di wilayah Odesa. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan serangan tersebut merusak titik penyeberangan perbatasan dengan Rumania serta infrastruktur ekspor.
Di sisi lain, Ukraina juga terus melakukan serangan jauh ke dalam wilayah Rusia, terutama terhadap kilang minyak dan fasilitas energi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (13/9) bahkan meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menghentikan serangan terhadap infrastruktur diesel Rusia karena dinilai ikut memperburuk pasokan bahan bakar dan harga diesel global.
Namun bagi Kyiv, serangan terhadap infrastruktur Rusia merupakan bagian dari upaya menekan kemampuan Moskow untuk terus menjalankan perang.
Dengan musim dingin yang semakin dekat, Ukraina kini menghadapi persoalan ganda: mempertahankan infrastruktur vital dari serangan Rusia sekaligus menjaga perekonomian agar tetap berjalan.
Jika serangan terhadap energi, logistik, industri dan jalur ekspor terus meningkat, tekanan terhadap anggaran negara dan biaya hidup masyarakat Ukraina diperkirakan semakin besar.



