MBG Disorot Media Internasional, Kasus Keracunan Tembus 1.700 Orang
Abadikini.com, JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah kasus keracunan makanan dilaporkan terjadi di sejumlah daerah dalam sepekan terakhir. Media internasional Reuters menyoroti sedikitnya lebih dari 1.700 anak dan orang dewasa di Indonesia yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Jumlah itu diperkirakan masih bertambah menyusul munculnya laporan kasus baru dari berbagai wilayah.
Kasus terbaru terjadi di Lasem, Jawa Tengah. Sebanyak 777 orang yang terdiri dari 752 siswa dan 25 guru dilaporkan mengalami diare dan muntah-muntah setelah menyantap menu MBG pada Rabu.
Menu yang dibagikan berupa ayam bakar. Kepala SMA Lasem, Juhartutik, mengatakan persoalan sudah terlihat sebelum makanan dikonsumsi. Seorang pencicip makanan menemukan sebagian ayam dalam kondisi berlendir.
Ayam yang dinilai tidak layak kemudian dipisahkan. Namun, sebagian makanan lainnya tetap didistribusikan kepada siswa dan guru.
Menurut Juhartutik, pihak dapur menyampaikan bahwa makanan telah dimasak sekitar pukul 03.00 dini hari, sedangkan konsumsi baru dilakukan pada siang hari.
“Yang berlendir sudah disisihkan. Operator dapur bilang makanan dimasak pukul 03.00 dini hari, tapi baru dimakan siang hari,” ujarnya dikutip Jumat (4/9/2026).
Sebagian besar korban diperbolehkan pulang setelah mendapat penanganan. Namun, 15 orang harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Dokter setempat, Joko Paryanto, mengatakan para korban mengalami gejala yang mengarah pada keracunan makanan.
Dalam waktu berdekatan, kasus serupa juga dilaporkan dari sejumlah daerah lain. Di Sidoarjo, Jawa Timur, sebanyak 664 siswa mengalami keracunan pada Selasa. Sehari kemudian, 49 orang dilaporkan terdampak di Nganjuk, Jawa Timur, sedangkan 237 orang mengalami kejadian serupa di Agam, Sumatera Barat.
Jika seluruh laporan dalam sepekan terakhir dihimpun, jumlah korban telah menembus lebih dari 1.700 orang.
Angka tersebut bahkan menjadi perhatian di tingkat parlemen. Anggota DPR Charles Honoris sebelumnya menyebut data dinas kesehatan menunjukkan sekitar 50.000 orang telah terdampak kasus keracunan yang dikaitkan dengan pelaksanaan program MBG.
Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan kasus tersebut akan ditangani secara serius. Operasional salah satu dapur penyedia MBG yang berkaitan dengan kejadian di Sidoarjo juga telah ditangguhkan.
Persoalan keamanan pangan kini menjadi salah satu titik rawan dalam pelaksanaan program yang menyasar jutaan penerima manfaat tersebut. Penyimpanan makanan yang tidak sesuai standar serta keterlambatan distribusi makanan matang disebut menjadi faktor yang kerap memicu persoalan.
Kasus di Lasem memperlihatkan betapa krusialnya jeda antara proses memasak dan waktu makanan dikonsumsi. Makanan yang diproduksi sejak dini hari tetapi baru disantap beberapa jam kemudian membutuhkan pengawasan ketat, terutama dalam hal suhu, penyimpanan, dan distribusi.
Sorotan terhadap MBG pun tidak hanya datang dari dalam negeri. Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Juli menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap program tersebut baru berada di kisaran sepertiga. Persoalan keracunan makanan menjadi salah satu faktor yang disebut memengaruhi ketidakpuasan publik.
Rentetan kejadian tersebut membuat keberhasilan MBG tidak lagi hanya diukur dari seberapa banyak makanan yang dibagikan, tetapi juga dari seberapa aman makanan tersebut sampai ke meja makan para penerimanya.



