Intelijen AS Ungkap Iran Makin Percaya Diri, Perang dengan Washington Bisa Berlarut-larut
Abadikini.com, WASHINGTON — Iran disebut semakin percaya diri dengan kemampuan militernya untuk melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Teheran juga dinilai belum menunjukkan tanda-tanda akan mengendurkan sikapnya dan justru bersiap menghadapi konfrontasi dengan Washington dalam waktu yang lebih panjang.
Penilaian tersebut muncul dalam laporan terbaru The New York Times pada Jumat (4/8) yang mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat serta informasi dari intelijen terbaru.
Menurut laporan itu, belum ditemukan indikasi kuat bahwa Iran bersedia memenuhi tuntutan Washington dan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik sebelum pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November.
Sikap Teheran tersebut menjadi tantangan bagi pemerintahan Presiden Donald Trump yang hingga kini belum dapat memastikan kapan permusuhan akan berakhir. Pada awal pekan ini, Trump bahkan mengakui dirinya tidak mengetahui kapan konflik dengan Iran akan selesai.
Ketegangan antara kedua negara kembali meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di wilayah Iran. Teheran merespons dengan serangkaian serangan balasan yang menyasar kepentingan dan fasilitas militer AS di kawasan.
Upaya diplomatik sempat membuka peluang untuk meredakan konflik. Pada pertengahan Juni, Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman yang dimaksudkan untuk menghentikan permusuhan.
Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama. Serangan kembali terjadi dan membuat konflik yang sempat diupayakan untuk dihentikan kembali memasuki fase ketegangan.
Hingga kini, belum ada penyelesaian permanen. Bentrokan dan serangan sporadis masih terjadi, sementara masing-masing pihak tetap mempertahankan posisi kerasnya.
Di tengah situasi tersebut, Washington kini memilih memperluas tekanan ekonomi terhadap Teheran. Langkah itu menjadi bagian dari strategi AS untuk meningkatkan beban finansial Iran dengan harapan tekanan ekonomi dapat mendorong pemerintah Iran mengakhiri konflik dan membuka jalan menuju kesepakatan.
Namun, berdasarkan penilaian intelijen terbaru yang dikutip The New York Times, tekanan tersebut sejauh ini belum memperlihatkan tanda bahwa Iran siap menyerah pada tuntutan Washington.
Konflik AS-Iran pun memasuki babak yang semakin sulit diprediksi: tekanan ekonomi terus diperbesar dari Washington, sementara Teheran justru dinilai semakin yakin mampu mempertahankan kemampuan serangannya dan menghadapi konfrontasi dalam jangka panjang.



