Trending Topik

Dolar AS Mengganas, Rupiah Menuju Rp18.000

Abadikini.com, JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam waktu dekat. Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah berpotensi menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan depan.

Prediksi tersebut muncul setelah rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Jumat (29/5/2026) di posisi Rp17.874 per dolar AS. Pelemahan juga terjadi terhadap sejumlah mata uang asing lainnya, termasuk euro dan dolar Singapura.

“Kemungkinan besar antara Senin saat libur atau Selasa, rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS,” kata Ibrahim.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan pasar saham domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup naik signifikan 87,69 poin atau 1,43 persen menjadi 6.217 pada sesi I perdagangan.

Kenaikan IHSG didorong penguatan saham-saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, seperti BREN, CUAN, dan BRPT.

Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi internal, pasar disebut merespons negatif sejumlah kebijakan ekonomi pemerintah, termasuk pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani kepada Purbaya.

Menurutnya, sejumlah pernyataan yang muncul pasca pergantian menteri dinilai tidak sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar sehingga memicu ketidakpastian.
Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memicu gejolak di pasar modal Indonesia dan berdampak pada perubahan di jajaran pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Faktor lain yang turut menekan rupiah adalah meningkatnya defisit transaksi berjalan Indonesia. Pada kuartal I-2026, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar US$4 miliar atau setara 1,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Nilai tersebut meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$149 juta. Secara kuartalan, defisit juga tercatat naik sekitar 60 persen.

Kondisi itu dinilai membuat investor asing cenderung menahan diri untuk masuk ke pasar obligasi maupun saham Indonesia.

“Investor menjadi lebih berhati-hati sehingga pemerintah pada akhirnya harus mencari sumber pembiayaan baru melalui utang,” ujar Ibrahim.

Di tengah kondisi tersebut, minat masyarakat terhadap instrumen valuta asing juga meningkat. Fenomena fear of missing out (FOMO) disebut mendorong sebagian investor memindahkan dana dari emas dan simpanan konvensional ke aset berbasis dolar AS.

Berdasarkan data OJK, dana pihak ketiga (DPK) valas tumbuh 10,87 persen secara tahunan pada April 2026. Kenaikan didorong pertumbuhan tabungan valas sebesar 23,12 persen dan deposito valas sebesar 22 persen.

Ibrahim turut menyoroti dampak pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026. Kebijakan tersebut dinilai memunculkan ketidakpastian baru, khususnya bagi pelaku industri pertambangan yang telah memiliki kontrak jangka panjang dengan mitra usaha sebelumnya.

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker