Rupiah Dekati Rp18.000, Menkeu Purbaya Yakin Indonesia Tetap Jadi Magnet Investor
Abadikini.com, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar Rupiah yang terus mendekati level Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat dipastikan belum mengganggu ketahanan fiskal pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi tersebut sudah diperhitungkan dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Purbaya, pemerintah telah mengantisipasi kemungkinan depresiasi Rupiah hingga mendekati posisi saat ini sehingga ruang fiskal masih tetap terjaga.
“Dari sisi anggaran, kami sudah memperhitungkan depresiasi Rupiah hingga mendekati level saat ini. Jadi, anggaran saya masih oke meskipun Rupiah melemah ke level saat ini,” kata Purbaya di Wisma Danantara, Senin (1/6/2026).
Meski tekanan terhadap rupiah masih berlangsung, pemerintah disebut tidak hanya berfokus pada stabilitas kurs semata. Prioritas utama saat ini adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tetap kuat dan berkelanjutan.
Purbaya meyakini fundamental ekonomi nasional yang solid akan menjadi faktor utama yang mendorong penguatan Rupiah dalam jangka panjang. Menurutnya, investor global akan lebih tertarik menanamkan modal di negara yang mampu menawarkan prospek pertumbuhan menjanjikan.
“Investor asing, terutama FDI, akan melihat negara dengan prospek pertumbuhan terbaik sebagai tujuan investasi. Itu yang pada akhirnya akan memperkuat mata uang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti posisi Indonesia di antara negara-negara anggota G20. Dengan laju pertumbuhan yang masih relatif tinggi, Indonesia disebut berada di peringkat kedua setelah India.
“Prospek ekonomi Indonesia kuat dan pelemahan Rupiah sejauh ini belum memberikan dampak yang menghambat aktivitas ekonomi,” katanya.
Selain faktor domestik, Purbaya menilai perkembangan geopolitik global juga mulai menunjukkan sinyal positif. Ia mengacu pada sejumlah laporan media internasional yang menyebut adanya peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel.
Menurutnya, potensi meredanya ketegangan global dapat menciptakan sentimen yang lebih baik bagi pasar keuangan dalam beberapa bulan mendatang.
“Prospek perdamaian dan kondisi global yang lebih baik sudah mulai terlihat. Saya percaya dalam dua atau tiga bulan ke depan situasinya akan jauh lebih baik dibanding sekarang,” ujarnya.
Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah pada perdagangan Senin sore ditutup di level Rp17.805 per Dolar AS, menguat 76 poin dibanding perdagangan sebelumnya. Namun secara tahunan berjalan (year to date/ytd), mata uang nasional masih tercatat melemah sekitar 6,7 persen hingga akhir Mei 2026. Dalam sebulan terakhir saja, depresiasinya mencapai 3,1 persen.


