Dari Sudut Pandang Intelijen, Jokowi-Ma’ruf akan Menang

Oleh: 

Marsda Pur Prayitno Ramelan, Analis Intelijen.

Pendahuluan

Pelaksanaan pemilu pemilihan presiden dan legislatif bila dihitung sejak kemarin (7/3/2019) tersisa 40 hari lagi. Pada peristiwa politik yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia seperti ini, saya memiliki pengalaman monitoring menarik pada pilpres 2004.

Tiga bulan sebelum pencoblosan, intelijen AS membuat prediksi dan lapor ke Gedung Putih bahwa “the next president is SBY”, dan itu benar. Dari sumber clandestine dasar laporan adalah hasil survei khusus yang dipercaya, walaupun saat itu banyak pihak yang tidak mempercayainya. Dengan metodologi yang tepat, inilah satu-satunya alat pengukur baik popularitas dan elektabilitas.

Nah, bagaimana membaca posisi 2 paslon (pasangan calon) saat ini menjelang pilpres 17 April 2019? Alat ukur elektabilitas calon yang bisa digunakan sebagai dasar pegangan tetap hasil survei. Memang banyak yang kurang percaya karena ada hasil survei yang dijadikan alat untuk kepentingan pembuat atau pemesan.

Walaupun hasil survei bisa dijadikan alat untuk memengaruhi konstituen, selisih yang terlihat masih ditoleransi tetap masih dapat dipergunakan sebagai referensi. Kembali kepada kepiawaian analis intelijen strategis pada komponen politik dalam membacanya.

Dari sudut pandang intelijen, hasil survei adalah informasi, bukan intelijen. Tapi beberapa informasi atau hasil survei bila sudah dinilai, dikonfirmasi, dan dianalisis akan menjadi produk yang bisa masuk kategori (disebut) intelijen, informasi matang bagi end user. Prinsip dasar pola dan metoda kerjanya sama seperti yang digunakan oleh intelijen AS di atas.

Fakta-fakta

  1. Sejak pemilu presiden 2009, saya membuat beberapa artikel yg bisa dipergunakan sebagai basic descriptive intelligence. Produk terakhir yang ditayangkan ini: Merebut Zona Merah, Bagaimana Strategi Militer BPN dan Perang Total TKN Bekerja?

Pada artikel tersebut, tanpa mengecilkan hasil di propinsi lainnya, ditemukan bahwa the real battle adalah tiga propinsi di Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur).

Pada pilpres 2014, Jateng dan Jatim merupakan kunci kemenangan paslon Jokowi-JK , Prabowo-Hatta unggul di Jabar, Jokowi unggul besar di Jateng, di Jatim menang tipis. Dari beberapa informasi, pada pilpres 2014, Jokowi-JK kalah di 10 propinsi, termasuk Jawa Barat. Sedangkan pada 9 propinsi Jokowi kalah 3,9 juta suara, tetapi di Jawa Barat kalah 4,6 juta.

Jadi persaingannya memang salah satunya di Jawa Barat. TKN serta Cawapres Ma’ruf Amin, terus bekerja keras di Jabar, di mana PKS pernah mampu mendudukkan dua periode Gubernur yang diusungnya dan pada pilgub 2018, calon PKS dan Gerindra, walau kalah, saat terahir membuat kejutan: perolehan suaranya melonjak tinggi.

Strategi timses Jokowi ini cerdik dengan memecah konstituen Gerindra dan PKS dengan adanya 4 cagub pada pilgub 2018. Untuk detailnya dapat dibaca fakta-fakta masa lalu yang pernah saya tulis sebagai berikut:

Pelajaran dari Pilkada Jabar

Strategi Parpol Menjelang 2019

Golkar Mulai Membaca Gerilya PKS

  1. Kini tahapan pilpres memasuki kegiatan debat, antara paslon, capres dan cawapres. Rencana KPU akan dilaksanakan lima kali. Setelah debat pertama antara Paslon 01 dengan Paslon 02 hari Kamis (17/1/2019), lembaga survei LSI ( Lingkaran Survei Indonesia), Denny JA merilis hasil survei elektabilitas capres-cawapres.

Survei dilakukan pada 18-25 Januari 2019, menggunakan 1.200 responden. Hasil survei yang dilakukan di 34 provinsi menunjukkan bahwa debat tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap elektabilitas kedua pasangan capres-cawapres. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf: 54,8 % (naik 0,6 %), Prabowo-Sandi: 31 % (naik 0,4 %), Rahasia: 14,2 %.

  1. Survei terbaru LSI yang digelar pada 18-25 Februari 2019, terhadap 1.200 responden menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin 58,7 %; Prabowo-Sandi 30,9 %; suara tidak sah 0,5 %; dan yang belum menentukan pilihan 9,9 %.
  2. Lembaga Survei Cyrus Network merilis hasil survei elektabilitas pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2019. Survei dilakukan pada 18-23 Januari 2019 terhadap 1.230 responden. CEO Cyrus Network Hasan Nasbi di Hotel Akmani Jakarta Pusat, Kamis (28/2/2019) menyatakan, ” Sebanyak 77,5 % pemilih sudah tetap (tidak berubah) dan 15,1 % masih mungkin berubah, 7,4% tidak menjawab. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf : 57,5 % , kategori pemilih sudah tetap : 47,8%, masih mungkin berubah: 8,2 persen. Sementara, Prabowo -Sandi: 37,2 %, pemilih sudah tetap: 29,7 %, masih mungkin berubah: 6,5%. Belum memutuskan dan tidak menjawab: 5,3 %.
  3. Hasil survei dari sepuluh lembaga yang merilis hasil pada periode September 2018-Januari 2019, menempatkan elektabilitas paslon Jokowi-Ma’ruf Amin unggul dari paslon 02 (Prabowo-Sandi). Elektabilitas rata-rata keduanya, Jokowi-Ma’ruf (54,9 %), Prabowo- Sandi (32,4 %), tidak menjawab dan Tidak Tahu 12,7%.
  4. Hasil survei Charta politika dari tanggal 22/12/2018 hingga 2/1/2019, elektabilitas kedua Paslon Capres dan Cawapres per-propinsi adalah sebagai berikut :

SUMATERA

Dari 10 propinsi, Paslon 02 elektabilitasnya unggul di lima propinsi (Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi, Riau). Sementara Paslon 01 unggul di lima propinsi (Kepulauan Riau, Sumsel, Bengkulu, Bangka Belitung, Lampung)

KALIMANTAN

Dari 4 propinsi, Kaltara, Kaltim, Kalteng dan Kalsel, elektabilitas semua dimenangkan Paslon 01

PULAU JAWA

Dari 6 propinsi, Paslon 01 (P01) elektabilitasnya unggul di 5 propinsi :

DKI Jakarta (P0-1, 47,5%, P0-2, 43,8%, TT/TJ 8,8%).

Jawa Barat (P-01, 44,3%, P-02, 37,1%, TT/TJ 18,6%).

Jawa Tengah (P-01, 72,5%, P-02, 13,9%, TT/TJ, 13,6%).

Jawa Timur (P-01, 54,8%, P-02, 30,6%, TT/TJ, 14,5%).

Paslon 02 hanya unggul di Propinsi Banten (P-01, 41,13%, P-02, 47,5%, TT/TJ, 11,3%).

SULAWESI

Dari 6 Povinsi, Paslon 01 unggul di 3 propinsi (Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Utara). Untuk Paslon 02 unggul di Gorontalo, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara).

Bali, NTB dan NTT

Paslon 01 unggul di Propinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur, untuk Paslon 02 unggul di Nusa Tenggara Barat.

MALUKU

Pada dua propinsi Maluku dan Maluku Utara elektabilitas kedua Paslon sama seimbang.

PAPUA

Propinsi Papua dan Papua Barat keunggulan elektabilitas pada Paslon 01.

  1. Keterlibatan negara lain dalam pilpres April 2019 jelas tidak dapat diabaikan. Sebagai contoh masalah pilpres di AS, selalu disebutkan bahwa Hillary Clinton lebih unggul dalam survei, tapi Trump akhirnya yang jadi presiden, karena serangan cyber pihak Rusia.

Akan tetapi di Indonesia menurut saya berbeda, jelas tidak seperti itu, pilpres AS adalah pertempuran cyber dua raksasa dunia dan kepentingan Rusia di dunia internasional, masalah geopolitik dan geostrategi sangat kental.

Indonesia diharapkan jadi mitra AS, Menhan RI Ryamizard Ryacudu, mampu menembus jantung inner circle Presiden Trump dan meyakinkan AS pemahaman tentang konsep Indo Pasific.

Pihak luar yang bersaing di Indonesia adalah Amerika serta China. Amerika besar pengaruhnya, menilai Indonesia sebagai salah satu bagian dari konsep Indo Pacific selain Australia, India dan Jepang. Perubahan Pacific Command menjadi Indo Pacifik adalah strategi dalam menghadapi ambisi China dengan konsep ambisius BRI.

China tidak bermain langsung dalam pilpres, tetapi strateginya akan menguasai sebuah pemerintahan dan negara melalui jebakan ekonomi (depth trap).

AS hanya ingin presiden Indonesia terpilih mau menjadi mitra dalam mengantisipasi ambisi China dengan konsep BRI. Dari kedua paslon, sebelumnya diplomasi pertahanan Menhan RI Ryamizard Ryacudu telah sukses menjelaskan ke Menhan AS General Mattis tentang posisi Indonesia.

Di samping itu Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahyanto juga berhasil membangun hubungan baik dengan Kepala Staf Gabungan AS, General Joseph Dunford.

Analisis

Dari fakta-fakta lembaga survei tersebut, mencermati hasil survei dalam lingkup waktu 3 bulanan menjelang pilpres, nampak bahwa Paslon 01 (Jokowi-Ma’ruf) mampu meningkatkan elektabilitasnya dibandingkan perolehan suara pada pilpres 2014, terutama di propinsi Jawa Barat, sebagai kunci di Pulau Jawa. Di Jawa Tengah Paslon 01 tidak tergoyahkan dan di Jawa Timur demikian juga masih unggul.

Dari fakta elektabilitas tersebut terbaca bahwa serangan hoaks yang disebut oleh petahana mampu memengaruhi 9 juta orang, bila diukur dari hasil survei, nampak tidak terlalu signifikan efek negatif elektabilitasnya dibandingkan jumlah 192 juta pemilih di DPT.

Hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian memang strategi serangan, tetapi kegiatan tersebut rawan karena dinilai melanggar hukum, mudah diantisipasi, itu adalah bagian atau dinamika kampanye abu-abu.

Dalam teori conditioning, penggalangan tidak dibenarkan dilakukan secara terus menerus dalam jangka waktu lama, justru akan berbalik dan akan merugikan penyerang. Hal ini yang mungkin kurang dihitung BPN, Jokowi sebagai tokoh sederhana dan merakyat justru menjadi tokoh teraniaya terus diserang.

Nah, kini masyarakat justru bersimpati dan mendukungnya. Serangan pendukung paslon 02 saya nilai tidak mampu menyerang baik identitas, kompetensi, kapabilitas dan integritas Jokowi sebagai petahana.

Prabowo yang sebelumnya demikian keras bersuara, dengan nada menekan, terlihat pada debat pertama menjadi lebih santun, tetapi sudah terlambat, publik sudah cukup banyak membuat keputusan dalam tiga bulan terakhir.

Penggunaan jargon Islam untuk menyerang petahana nampaknya juga tidak sukses, karena JKW juga Muslim yang mampu menunjukkan bersatu dengan ulama Muslim. Dukungan NU tetap menjadi kekuatan dukungan umat Muslim moderat, selain Jokowi, PKB juga akan meraih keuntungan.

Saya melihat, justru ada dukungan ke Paslon 02 yang rawan, seperti munculnya berita dukungan HTI, khilafah dan kelompok radikal. Hal tersebut merugikan Paslon 02, karena konstituen Muslim di Indonesia mayoritas moderat dan abangan yang kurang suka dengan aksi kekerasan dan tindak radikalisme.

Dari fakta sepuluh lembaga survei, ditemukan elektabilitas rata-rata kedua paslon, Jokowi-Ma’ruf (54,9 %), Prabowo- Sandi (32,4 %), tidak menjawab dan Tidak Tahu 12,7%.

Menurut Lembaga Survei LSI, setelah debat pertama Paslon (17/1/2019) Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf: 54,8 % (naik 0,6 %), Prabowo-Sandi: 31 % (naik 0,4 %). Hasil menunjukan bahwa debat pengaruhnya tidak signifikan. Survei memberikan indikasi bahwa konstituen tidak terlalu terpengaruh dengan debat, memang memberikan respon positif.

Dua bulan menjelang pilpres, menurut LSI, elektabilitas Paslon 01 semakin menguat, Jokowi-Ma’ruf 58,7 %, Prabowo-Sandi 30,9 %.

Lembaga survei Cirrus Network 18-23 Januari 2019, menyebut elektabilitas Paslon 01 (Jkw-Ma’ruf), 57,5 % , pemilih sudah tetap : 47,8%, masih mungkin berubah: 8,2 %. Paslon 02 (Prabowo -Sandi), 37,2 %, pemilih sudah tetap: 29,7 %, masih mungkin berubah: 6,5%. Belum memutuskan dan tidak menjawab: 5,3 %. Fakta ini menunjukkan bahwa keunggulan elektabilitas Paslon 01 lebih besar yang sudah tidak berubah dibandingkan elektabilitas Paslon 02 yang lebih kecil, yang tidak berubah hanya 29,7%.

Dari Fakta Lembaga Survei Charta Politika, terlihat di tiga propinsi kunci di Pulau Jawa, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf kini mampu unggul tipis di Jawa Barat (P-01: 44,3%, P-02: 37,1%), di Jawa Tengah unggul signifikan besar (P-01 : 72,5%, P-02 : 13,9%), dan di Jawa Timur unggul cukup besar (P-01 : 54,8%, P-02 : 30,6%).

Nampaknya strategi BPN yang mencoba mengintervensi garis belakang JKW di Jawa Tengah tidak berhasil, kemungkinan BPN terlambat mengantisipasi sejak awal. Seperti analisis sebelumnya, justru Jawa Barat, wilayah kekuatan Prabowo serta basis PKS berhasil di penetrasi TKN dan Cawapres 01.

Dari analisis fakta dan data di atas, nampak bahwa dalam waktu tiga bulanan, elektabilitas JKW-Ma’ruf rata-rata di kisaran 54,9 %-58,7%, sementara elektabilitas Prabowo-Sandi rata-rata 30,9 %-32,4%. Mereka yang percaya dan sudah tetap memilih Paslon 01 lebih besar dari yang sudah tetap memilih Paslon 02.

Kesimpulan dan Penutup

Dari fakta-fakta yang berlaku serta analisis, sementara disimpulkan dan dapat diperkirakan bahwa Paslon 01 (Jokowi-Ma’ruf) kemungkinan menang pada pilpres 17 April 2019 lebih besar dibandingkan peluang paslon 02, Prabowo-Sandi.

Kesimpulan ini 40 hari menjelang hari H pilpres, tetapi intelijen AS pada 2004 tiga bulan sebelum hari H telah membuat kesimpulan, apakah sebenarnya tiga bulan sebelumnya para konstituen sudah menentukan pilihan? Ini yang perlu di simak.

Sebagai catatan, analisis intelijen itu sulit dan akan berakhir menjadi prediksi, tetapi prediksi yang sudah melalui pakem kegiatan intelijen serta fakta-fakta yang berlaku.

Sebagai penutup, perang dan persaingan masa kini dan mendatang akan banyak dipengaruhi oleh cyber war. Karena itu dari prediksi kemenangan di atas, Jokowi-Ma’ruf serta tim suksesnya harus mampu mempertahankan keunggulan dari serangan cyber lawan politiknya.

AS hanya ingin Presiden Indonesia terpilih mau menjadi mitra dalam mengantisipasi ambisi China dengan konsep BRI. Ujung tombak dalam menetralisir kemungkinan ATHG dari luar dapat dipercayakan kepada Menhan Ryamizard yang sudah mengunjungi dan berbicara dengan para Menhan negara-negara besar itu, Ryamizard sangat dihargai dan dihormati di luar.

Adanya informasi yang disebut petahana bahwa Tim cyber Rusia disebut ikut main di sini, menurut penulis itu hanyalah sub sistem bisnis belaka, bukaninner circle Putin. Ancamannya lebih kepada upaya conditioning, bukan perang cyber habis-habisan, akan habis pula kantong penyewanya kalau begitu.

Sebagai saran, mohon Pak Jokowi agak mengurangi tindakan yang terlalu bebas, seperti naik kereta apa adanya. Dari kacamata intelijen, langkah itu positif sebagai presiden yang dekat dengan rakyat, tetapi negatif dari sisi security. Paspampres mohon menyarankan, jangan ambil risiko, beliau masih Presiden RI yang harusnya diatur dengan sistem security khusus.

Tetapi siapa yang bisa melarang presiden? Kecuali mungkin kalau membaca saran ini. Penyesalan tidak pernah di depan, selalu di belakang. Mohon jangan over confident, Pak. Kira-kira begitu semoga bermanfaat.

  • 549
    Shares
Editor
Arkan Adib Wiratama
Topik Berita

Baca Juga