Yusril, Islam, Politik dan Negarawan

Oleh :

Mohammad Novel Damopolii

(Departemen Opini dan Publik DPP Partai Bulan Bintang)

Dia dijuluki “Sang Petarung dari Belitung”. Ketika  menjadi Mahasiswa di Universitas Indonesia, Yusril di didik oleh Founding Fathers. Guru politiknya adalah Muh.Natsir, Kasman Singodimejo, Syafruddin Prawiranegara dan Oesman Raliby (merangkap gurunya dalam menulis teks pidato). Dalam ilmu Hukum Yusril diajari oleh Ismail Sunny (Guru Besar Hukum UI) . Didikan tokoh-tokoh besar tersebut membentuk karakter dan sikap seorang Yusril dalam memandang Islam, Hukum dan Politik.

Sejak Muda, Pria yang pernah menjadi Sekretaris “Petisi 50” ini konsisten memperjuangkan hak-hak Umat Islam di Indonesia.

Yusril juga tercatat pernah menjadi Ketua Majilis Tarjih PP Muhammadiyah. Tatkala  Umat Islam terus menerus  mendapat tekanan oleh Kekuasaan di bawah Soeharto, Ia bergabung dengan lingkaran kekuasaan menjadi Speech Writernya The Smiling General.

Bergabungnya Yusril ke dalam lingkaran kekuasaan diakui memberi warna setiap kebijakan Soeharto tentang Islam. Tak kurang dari disetujuinya Pengadilan Agama terpisah dari Pengadian Negeri, yang sebelumnya masih satu atap.

Seperti yang dikatakan Yusril: “Kalau Soeharto berbicara pakai mulutnya Harmoko, maka saya menggunakan

mulutnya Soeharto untuk kepentingan Islam “.

Pasca Reformasi, bersama beberapa tokoh Islam,Yusril mendirikan “Partai Bulan Bintang” dengan harapan dapat menjadi wadah perjuangan umat Islam.

Kepiwaian Yusril dalam mengelola Konflik terekam tatkala mendesak Soeharto untuk mundur serta menghindarkan konflik horisontal antara tentara dan rakyat.

Kedewasaan Yusril dalam Berpolitik serta sikap sebagai Negarawan terlihat tatkala memberikan kesempatan Gus Dur untuk maju dalam pemilihan Presiden 1999. Tatkala itu,seperti diakuinya dia memiliki kesempatan besar untuk terpilih menjadi Presiden. Seperti yang dikatakannya :”Demi Persatuan Umat Islam, saya menyatakan mundur dalam pencalonan presiden”.

Dimasa Yusril menjadi Menkumham dibawah Presiden Megawati, ia membentuk KPK, PPATK, dan Mahkamah Konstitusi.

Dalam menyusun Undang-Undang, Yusril mengakui menjadikan Qur’an  dan Hadits sebagai sumber inspirasinya.

  • 58
    Shares
Topik Berita

Baca Juga