Kwik Kian Gie Di-Bully Netizen? Ayo, Ayo Jangan Baperan!

TOPIKNYA soal utang negara. Berbalas pantunlah Kwik Kian Gie dengan staf khusus Menkeu, Yustinus Prastowo di media sosial Twitter.

Baca Juga

Ada dua hal yang kita perhatikan. Pertama soal topik diskusi yang menyangkut soal utang negara. Dan kedua soal “keluhan” Kwik Kian Gie perihal kebebasan menyampaikan pendapat.

Untuk yang pertama sih oke-oke saja. Bagus diskusinya, mencerahkan. Tapi tatkala Kwik Kian Gie “mengeluh” dan membandingkan kondisi kebebasan menyampaikan pendapat di ruang publik antara era orba-nya Pak Harto dengan era sekarang ini, sontaklah netizen bereaksi.

Nah reaksi netizen inilah yang dianggap oleh Kwik Kian Gie telah “kelewatan”. Bahkan sampai tega “mengodal-adil” urusan pribadi beliau.

Yah… iya juga sih. Apa sih relevansinya hal-hal pribadi sampai mesti diodal-adil?

Soal pertama. Kita nikmati dulu diskursus antara Kwik Kian Gie dengan Yustinus Prastowo soal utang negara ya. Singkat saja.

Dimulai dengan cuitan Kwik Kian Gie di akun twitter pribadinya yang bilang bahwa utang besar yang jatuh tempo tidak masalah karena bisa dibayar dengan utang baru.

Juga menyoroti soal obligasi pemerintah Indonesia yang katanya bisa laris manis lantaran pemerintah yang berani bayar bunga tinggi.

“Yang bayar bunga yang membengkak terus kan kaum milenial, yang pandai membuat unicorn? Perhatikan kalau talk show kan pinter-pinter,” kata Kwik Kian Gie.

Merespon cuitan itu, Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo membagikan informasi tentang posisi yield surat utang pemerintah. Ditayangkan bahwa yield utang pemerintah sebetulnya cukup rendah jika dibandingkan dengan beberapa negara setara.

Informasi yang dibagikan oleh Yustinus Prastowo adalah perbandingan grafik yield SBN Indonesia dengan beberapa negara dalam periode 23 Oktober 2020 dan 2 Januari 2021.

Dalam data tersebut ditunjukan bahwa yield SBN Indonesia turun, dari 4,38 persen pada Oktober 2020 menjadi 4,14 persen pada Januari 2021.

“Bunga pun semakin rendah. Mari bicara dengan data Pak!,” begitu ajakan dari Yustinus Prastowo.

Nah, terhadap klarifikasi Yustinus – yang sangat baik itu (tenang dan faktual) – respon dari Kwik Kian Gie sayangnya malah jadi melenceng ‘out of topic’. Begini responnya:

“Saya tidak mengerti Pak Yustinus menganggap saya mengkritik pemerintah soal utang negara. Kan sangat jelas yang saya katakan bahwa utang besar tidak masalah, karena kalau jatuh tempo bisa dibayar dengan menerbitkan obligasi atau SUN lagi.”

Lalu seperti berbalas pantun:

“Monggo Pak Kwik. Bapak sendiri yang bilang Obligasi pemerintah kita laris manis karena berani bayar bunga tinggi, itu yang saya klarifikasi.”

Ya memang, jelas sekali bahwa Yustinus Prastowo – dalam responnya itu – hanya sekedar mengklarifikasi “tuduhan” soal obligasi pemerintah yang katanya laris manis lantaran berani bayar bunga tinggi.

Sampai di sini – sayangnya – diskusi kedua cerdik-pandai itu jadi ‘out of topic’, not in the same page, different boat! Atau apalah istilahnya. Pokoknya jadi tidak nyambung. Putus hubungan!

Malah Kwik Kian Gie terkesan rada “ngambek” dan bilang:

“Baik-baik, banyak terima kasih. Saya tak mikir dulu lebih baik tutup mulut total saja atau tambah giat dengan data yang valid dan konstruktif. Rasanya kok sulit dibayangkan ya para buzzer itu dibayar. Banyak terima kasih untuk semua nasihat yang saling bertentangan.”

Lho kok!

Dalam cuitan tersebut, Kwik Kian Gie kembali menjelaskan bahwa ia lebih baik tutup mulut kepada yang sudah memberi nasihat. Sampai bilang “Saya belum pernah setakut saat ini mengemukakan pendapat yang berbeda dengan maksud baik memberikan alternatif.”

Lalu nyambung ke soal kondisi kebebasan menyampaikan pendapat di era orba Pak Harto dibandingkan dengan era jaman now.

“Saya belum pernah setakut saat ini mengemukakan pendapat yang berbeda dengan maksud baik memberikan alternatif. Langsung saja di-buzzer habis-habisan, masalah pribadi diodal-adil. Zaman Pak Harto, saya diberi ruang sangat longgar. Kritik-kritik tajam, tidak sekalipun ada masalah.”

Lalu jadi ramai deh. Ramainya bukan soal topik diskusi utang negara dengan Yustinus Prastowo lagi, tapi soal bullying, diodal-adilnya masalah pribadi olah para buzzer.
Media sosial macam Twitter ini memang media yang terbuka, artinya bisa jadi ada banyak pihak yang ikut nimbrung dengan segala komentarnya masing-masing.

Sampai di sini kita sebagai penonton jadi kecewa deh.

Sebetulnya kita ingin menyimak diskusi soal topik yang pertama. Yaitu soal utang negara tadi. Khan bagus, saling mencerahkan.

Administrasi Presiden Joko Widodo juga sudah bilang bahwa ia perlu kritik dari masyarakat.

Kritik terhadap kebijakannya, dengan segala argumentasi yang masuk akal, alternatif kebijakan. Seperti wacana yang awalnya dibangun oleh Kwik Gian Gie dengan Yustinus Prastowo.

Semoga Kwik Kian Gie yang kita kenal punya kapasitas pemikiran yang mumpuni bisa kembali membangun wacana kritis seperti di awal.

Biarlah yang baperan itu para politisi karbitan saja, atau pejabat lama yang sudah tak terpakai lagi.

Salam damai.

Oleh: Andre Vincent Wenas
Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB).

Back to top button