Bukan Soal Menang, Tapi Cara Berpikir Basri Salama yang Salah

“Kadangkala seseorang sudah menganggap dirinya pintar, padahal dia tidak tahu apa-apa, selain baru belajar menyusun kata-katanya dalam beretorika” Jun

Baca Juga

Citra buruk dari politik gagasan yang dikampanyekan oleh pasangan Basri Salama dan Guntur Alting (BAGUS) nampak tercoreng di Kelurahan Tambula, Kota Tidore Kepulauan. Entah itu karena situasi politik atau kerena lepas kendali setelah kedok Basri Salama terbongkar di debat Kedua Pilwako Kota Tidore Kepulauan.

Kami akan memulai tulisan ini dengan pertanyaan kritis Ali Ibrahim terhadap Basri Salam, terkait kontribusi Basri Salama saat masyarakat Kota Tidore Kepulauan tengah menghadapi bencana non alam, Covid-19.

Pertanyaan Ali Ibrahim terkait eksistensi Basri Salama sebagai seorang tokoh dalam masa pandemi Corona, membuat Basri Salama tidak dapat berkutik. Sebab sepanjang covid-19 batang hidung Basri Salama tak nampak sekalipun untuk memberi perhatian kepada masyarakat kota Tidore Kepulauan.

Untuk menanggapi pertanyaan kritis Ali Ibrahim itu, Basri berdalih bahwa dirinya tidak bisa masuk ke Tidore karena lockdown. Padahal faktanya, diawal-awal pandemi corona, lockdown belum di berlakukan sama sekali.

Fakta keduanya, sebelum covid 19 benar-benar hilang, Basri Salama sudah berada di Tidore untuk mengurus persiapan pendaftaran sebagai Calon Walikota Kota Tidore Kepulauan.

Dan fakta ketiganya, banyak juga tokoh-tokoh Tidore memberikan perhatiannya terhadap masyarakat Tidore, baik yang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepulauan maupun melalui lembaga-lembaga diluar Pemerintahan.

Sementara fakta lain yang paling menunjukkan betapa tidak cerdasnya Basri Salama dengan jawabannya itu adalah fakta di era 4.0 ini, bantuan dapat di salurkan kapanpun dan dimanapun memlalui teknologi berbasis aplikasi. Maka tidak ada alasan lagi sebagaimana yang menjadi alasan Basri Salama itu, kecuali memang dirinya berniat untuk membohongi publik Tidore dengan dalaih-dalih yang sporadis terpikirkan.

Itu artinya bahwa Basri Salam sedang “sesat” berfikir dalam menjawab pertanyaan Ali Ibrahim itu. Bagi kami, dalih Basri Salama terkait lockdown ini bukanlah alasan yang tepat. Tapi alasan yang dibuat-buat karena tersudut dengan pertanyaan Ali Ibrahim. Atau bahkan Basri Salama ingin mencoba menipu masyarakat Tidore dengan alasan-alasan yang tidak logis sama sekali itu.

Disisi lain, pasca debat kedua yang di langsungkan di Kompas TV pada beberapa pekan kemarin itu, Basri masih terbawa-bawa dengan emosional debat. Sehingga pertanyaan itu diseret oleh Basri dan Tim Suksesnya keatas panggung kampanye untuk mencari pemebenaran mereka.

Ingat!! Pembenaran bukan Kebenaran. Sehingga tak heran bila orasi Basri di Kelurahan Tambula adalah orasi yang penuh emosional dan kehilangan akal sehat, tidak rasional sama sekali. Untuk membuktikan situasi psikologis Basri itu, cukup mudah dengan melihat materi-materi orasinya, yang kami rangkum sebagai berikut;

Pertama, Basri dengan sifat takaburnya menyampaikan bahwa jika dirinya menjadi walikota saat covid-19 “pasti tidak satupun rakyat Tidore terkena virus corona”. Siapapun tidak ingin terpapar corona, tetapi patut di sadari bahwa dalam hidup dan kehidupan manusia ini ada Qadar Allah yang sudah pasti terjadi, yakni bencana, musibah dan azab.

Sehingga dalam kalimat Basri Salama yang kutipkan diatas adalah kalimat yang penuh dengan unsur takabur. Sementara Tuhab tidak menyukai orang-orang yang sombong dan takabur, dan apabila ada manusia lainnya yang menyukai orang sombong dan takabur, maka kadar diri mereka juga sombong dan takabur di hadapan tuhan.

Kedua, Basri menganggap Kota Tidore Kepulauan hanyalah Pulau Tidore. Padahal faktanya, Kota Tidore Kepulauan terdiri atas empat pulau, yakni Maitara, Mare, Tidore dan Halmahere. Di sisi lain, central perlintasn antar Kabupatan di Maluku Utara ada di daratan Oba, Kota Tidore Kepulauan.

Artinya bahwa sebagai seorang kandidat Basri Salama tidak mengenal sama sekali wilayah Kota Tidore Kepulauan. Sehingga dengan seenaknya menawarkan solusi yang sama sekali tidak tepat.

Ketiga, Basri Salama menganggap bahwa Lockdown dan atau PSBB adalah solusi terbaik untuk “tidak satu yang terkena virus corona”. Padahal ketika kebijakan lockdown dan PSBB diterapkan oleh Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen, banyak rakyat yang mengeluh sehingga kebijakan ini hanya bisa di pergunakan sebagai pengendalian penyebaran covid-19.

Sebab PSBB sangat berdampak terhadap sebagian besar sendi-sendi ekonomi masyarakat. Disinilah letak dari sesat berfikirnya Basri Salama, mungkin dia sedang berpikir bahwa satu kebijakan bisa di terapakan semudah kata-kata yang keluar dari mulutnya, tanpa berfikir panjang.

Keempat, Menurut Basri Salama membagikan masker untuk masyarakat adalah hal yang “Halifuru”. Mungkin Basri Sedang lupa bahwa memakai masker adalah prokes covid-19, selain mencuci tangan dan jaga jarak. Sekaligus ini membuktikan Bahwa Basri Salama adalah orang yang tidak bisa menghargai usaha dan prestasi orang lain.

Jika kita mengikuti perkembangan covid-19, maka Kota Tidore Kepulauan termasuk yang paling tanggap melakukan pengendalian penyebaran corona dengan membagikan masker gratis kepada masyarakat. Dan itu patut di banggakan oleh seluruh masyarakat Tidore.

Kelima, Basri menganggap kematian karena corona adalah hal yang tidak harus terjadi. Bahkan menurutnya, kabar duka kematian sekda dan Istri Ali Ibrahim tidak seharusnya terjadi. Padahal kematian adalah kekuasaan Tuhan, sekaligus membuktikan bahwa segenap pemerintahan Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen, bekerja mati-matian bahu membahu dalam melindungi masyarakat dari virus corona.

Sampai disini, meski ada kesimpulan lainnya yang tidak sempat kami uraikan. Kami dapat menangkap dengan jelas motif dari orasi Basri Salama itu.

Motif itu kemudian mengantarkan kami pada kesimpulan bahwa Basri sedang sesat berfikir, mungkin karena disebabkan oleh motif haus kekuasaan dan atau sebuah kebodohan yang nyata.

Untuk itu perlu kami ingatkan kembali agar tidak memilih pemimpin yang takabur dan terlalu banyak berorasi tanpa memikirkan situasi dan kondisi masyarajat.

“Tidak sedikitpun ada jalan bagus bagi Orang yang Takabur dan tidak ada selamat baginya di kemudian hari” Jun.

Hari ini, jelang hari puncak pesta demokrasi Kota Tidore Kepulauan. Secara matematis angka kemenangan sudah dapat di gambarkan dengan berbagai indikator teoritik yang teruji.

Namun, tulisan ini bukan sekedar soal kemenangan. Sebab kurang lebih dua minggu lalu, secara teoritik indikator kemenangan pasangan petahana, Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen (AMAN) sudah dapat dipastikan diatas 60% dari total DPT Kota Tidore Kepulauan.

Tetapi ini soal pendidikan politik terhadap seluruh masyarakat kota Tidore Kepulauan. Ini soal budaya buruk yang sengaja dibangun oleh sejumlah oknum politisi penantang AMAN jilid II, ditengah-tengah kontestasi politik. Ini lebih pada soal perilaku tidak terpuji yang sengaja di tampilkan oleh salah satu kontestasi Pilwako Kota Tidore Kepulauan.

Ini soal, bahasa-bahasa tidak etisnya Basri Salama dalam berkampanye, bahkan bahasa-bahasa itu seolah-olah menyalahi ketetapan Allah SWT. Terutama terkait pandemi covid-19 yang melanda seanteru isi bumi. Bahkan dengan bencana dan ujian Allah swt ini, Basri memanfaatkannya dalam rangka memproduksi isu politik yang dipakai untuk menyerang Ali Ibrahim.

Padahal sudah menjadi referensi semua orang bahwa covid-19, menyebar hampir disetiap pelosok bumi. Bahkan menginfeksi sejumlah kepala negara pada negara-negara maju di dunia ini. Tentu menganggap remeh Covid-19 dan menyalahkan orang lain atas bencana ini adalah sebuah tindakan takabur atas kehendak Allah swt.

Dari semua fakta ini, maka benarlah bila mana pesta demokrasi memberi ruang bagi para kontestan untuk berkompetisi secara politik. Tak terkecuali kesempatan juga untuk calon pemimpin yang bermental tidak Bagus. Sebab demokrasi Indonesia memberi hak dan kewajiban yang sama bagi seluruh rakyat.

Sehingga tidak menutup kemungkinan Masyarakat dalam pentas demokrasi memilih kandidat pemimpin yang “salah”. Yakni pemimpin yang penuh polesan pencitraan untuk menutup kepalsuan dirinya.

Artinya, bisa jadi memperhatikan tindak laku Basri Salama dalam kampanye-kampanye Pasangan BAGUS kita dapat simpulkan bahwa Basri Salama adalah sebuah pilihan yang tidak layak untuk kepentingan Rakyat Tidore di masa mendatang.

Oleh: Oleh Mas Jun
Penggiat Sosial

Baca Juga

Back to top button