Lem Aibon, Penyelamat Anak Miskin Tetap Sekolah

SENIN yang tak bersemangat pagi itu. Sejak bangun tidur, kemudian mandi, dan bergegas pergi solat subuh di masjid. Rasa-rasanya pagi itu adalah masa di mana tidak ada harapan untuk memulai hari.

Setelah menunggu, di hari minggu penuh, berharap ada keajaiban datang. Namun ketika hari senin semakin cerah, hati dan pikiran tetap sebutek air rendaman cucian baju.

“Yuk, Sarapan,” ajak Emak.

Waktu tinggal 15 menit lagi dari jadual kebiasaan berangkat sekolah, pukul 6 pagi. Namun saya yang sudah berseragam putih abu-abu tetap saja merasa berat untuk sekolah. Saya menengok ke arah pojok ruang tamu, sepasang sepatu buntut teronggok.

Ingin rasanya saya menangis. Sol bawah sepatu lepas sejak sabtu pagi, saat berjalan menuju kelas. Kondisi sepatu sebelah kiri kondisinya memprihatinkan. Jika berjalan, maka akan me-nganga, seperti mulut besar yang kelaparan.

“Mak, saya masuk angin. Pusing dan mual,” kata saya beralasan.

“Makanya, sarapan. Biar perutnya hangat,” kata Emak. Tempe goreng kering yang diberi bumbu garam dan bawang putih sudah tersedia di atas meja. Sepiring nasi putih masih mengebulkan asap juga sudah tersedia.

“Saya tidak sekolah, ya, Mak. Takutnya di Sekolah malah sakit.” Emak tidak menjawab dengan mulutnya, hanya mengangguk, lalu berjalan menuju kamar mandi. Tangannya kini bekerja mencuci baju yang sudah direndam di dalam bak.

Suasana dipecahkan dengan kedatangan Abah yang masuk dari pintu depan. Di tangannya membawa kaleng kecil berwarna kuning. Lem Aibon. Abah mengambil sepatu buntut yang dibeli setahun lalu dari Pasar Baru.

Saya menghentikan makan ketika aroma Lem Aibon benar-benar kerasa menyeruak masuk ke dalam pernafasan. Saya melihat, Abah membubuhi cairan kental lem dengan jari telunjuknya. Mengolesi lem ke dalam sol sepatu, persis seperti sedang mengoleskan mentega ke lapisan roti.

Mata saya sudah sembab. Menangis hanya akan memberatkan hati saja. Lem Aibon pagi itu membuat saya tidak ada alasan lagi pergi ke sekolah. Dari pada menanti sepatu baru, masi mending uangnya untuk membeli beras. Rusaknya sepatu butut masi bisa diselematkan hanya dengan Lem Aibon.

Ya begitulah, perjuangan keluarga dengan kondisi ekonomi keluarga pensiunan buruh pabrik di Kota Cilegon. Sedih memang jika mengingat kisah 12 tahun yang lalu, di mana sekolah hanya modal niat untuk belajar dan memperbaiki masa depan keluarga.

Meskipun kini, ketika penghasilan mampu membeli sepatu terbaik dan membeli Lem Aibon beratus kaleng dari posisi pekerjaan yang lumayan sebagai fotografer, sayangnya semua keberhasilan ini tidak bisa dinikmati oleh Abah dan Emak lagi. 5 tahun menjadi yatim, 3 tahun menjadi piatu. Sedih!

Lebih sedih lagi, Lem Aibon yang menjadi penyelamat sepatu buntut—rupanya dengan lem itu bisa menambah umur sepatu butut hingga lulus sekolah, nasibnya sedang banyak dibincangkan.

Lem Aibon jadi trending topik di media sosial. Bukan karena seorang anak yang mabok menghirup bau lem, tapi para pejabat di wilayah calon mantan Ibu Kota yang disoroti. Anggaran pengadaan Lem Aibon mencapai Rp 82,8 miliar. Sebagai anak sekolah yang pernah diselamatkan dengan Lem Aibon tentu terkejut.

Oh iya, Bisa ya Dinas Pendidikan menganggarkan uang sebanyak itu? Apa anak-anak sekolah di sana butuh juga buat nambal sol sepatu yang sudah buntut?

Berhubung saya bukan birokrat, apalagi politisi, bisa jadi angka itu beneran untuk kebutuhan. Anak-anak sekolah butuh lem, seperti anak-anak miskin di pinggiran kota dan kawasan tempat tinggal kumuh, satu atau dua orang di sana bisa saja senasib seperti saya.

Ribuan anak miskin juga hidup di Jakarta. Bisa jadi ingin sekolah, tapi sepatunya butut.

Saya yang tolol menghitung angka, entah berapa kaleng setiap anak bisa dapatkan untuk ngebenerin sol sepatu dengan Lem Aibon. Ya, kalo sepatunya tidak bermasalah, setidaknyanya buat ngelem sendal Babe dan Nyak juga. Eh, atau seperti warga net yang berkomentar, Lem sebanyak itu bisa buat ngolesin seluruh badan Monas. Gile bener dah…

Hiyalah, sebagai anak miskin yang merasakan Lem Aibon sebagai penyelamat kebutuhan sekolah, setidaknya angka segitu serasa “Menjemput Rizki” bagi yang belanja. Eh salah, kan bukan Rp 80 juta ya, ini senilai Engkongnya “Menjemput Rizki” itu, Rp 82,8 Miliar.

Ya, kalo mau bagi-bagi rizki, mbok ya sembunyi-sembunyi saja. Kalo om KPK pengen cari tahu cara ngelem, hari-hari bakal lebih sedingin senin yang kelam, lho…

Namanya juga lem, bisa merekatkan, bisa juga ngapusi.

Oleh: Mang Pram

Topik Berita
Back to top button
Close