Joanna Palani Sniper Cantik yang Habisi Ratusan Nyawa Militan ISIS

Abadikini.com, JAKARTA –¬†Kejatuhan ISIS di Timur Tengah tentu tak bisa dipisahkan dari sepak terjang para pejuang yang telah berhasil menumbangkannya. Rupanya salah satu pejuang yang melawan ISIS adalah seorang sniper wanita yakni Joanna Palani. Tak ayal ia pernah menjadi salah satu sosok yang paling diburu oleh ISIS.

Di balik kecantikannya, rupanya perempuan berkewarganegaraan Denmark ini sangat berbahaya. Lewat bidikan senapannya, ia mengaku telah melenyapkan 100 nyawa anggota ISIS. Tak heran namanya sempat jadi pusat perhatian di tahun 2017 silam.

Sayangnya, meski ikut berkontribusi melawan ISIS, ia malah menemui berbagai kesulitan saat pulang ke Eropa. Ia bahkan divonis hukuman penjara. Berikut 5 fakta kisah hidup Joanna Palani seperti dilansir Abadikini dari laman Akurat.

1. Berasal dari keluarga Kurdi

Palani yang ternyata berasal dari keluarga Kurdi, lahir tahun 1993 di kamp pengungsian Irak, di tengah padang pasir Ramadi, saat berlangsung Perang Teluk. Saat itu, keluarga Palani terpaksa meninggalkan Kurdistan di Iran karena alasan budaya dan politik.

Keluarganya menentang perang Islam yang dicetuskan mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ruhollah Khomeini terhadap kaum Sunni Kurdistan. Ayah dan kakek Palani adalah pejuang Peshmerga yang akhirnya harus meninggalkan kampung halaman mereka Kermanshah menuju Ramadi. Saat berusia 3 tahun, ia dan keluarganya masuk program kuota pengungsian sehingga bisa bermigrasi ke Denmark.

2. Tumbuh besar di Denmark

Sesampainya di Denmark, negara itu sungguh berbeda bagi keluarga Palani. Meski hidup di tempat yang aman dan tak bersentuhan lagi pada hal berbau perang, namun Palani merasa tidak pada tempatnya. Itu sebabnya ia merasa harus berperan dalam melawan ISIS atas nama perempuan dan untuk menghormati latar belakangnya sebagai seorang Kurdi.

Joanna Palani/ Foto Instagram

3. Berhenti kuliah, pergi berperang

Saat masih di pengungsian, ia ingat ikut menggali-gali lubang di padang pasir untuk mencari air. Di saat itulah Palani kecil bertekad mengubah di dunia. Berawal dari tekadnya itu, ia memutuskan keluar dari perguruan tingginya di tahun 2014 dan bertolak ke Suriah untuk berperang.

Palani yang saat itu berusia 21 tahun bergabung dengan Unit Perlindungan Wanita Kurdi (YPJ). Awalnya, ia ditugaskan menjadi penyabot militan, tetapi lama-kelamaan wanita berambut pajang itu dipercaya menjadi penembak jitu atau kerap disebut sniper.

Tak main-main, Palani menjadi bagian kelompok yang membebaskan para perempuan Yazidi yang diculik. Tak tanggung-tanggung, wanita cantik ini telah melenyapkan 100 nyawa anggota ISIS. Tak heran ia diburu ISIS dan kepalanya dihargai USD 1 juta (Rp14,1 miliar).

4. Diabaikan keluarga

Siapa sangka sepak terjangnya di medan perang justru mendatangkan konsekuensi permanen pada status sosialnya, baik secara internasional maupun dalam keluarganya. Palani sadar keputusannya pergi berperang akan membuat dirinya berada dalam bahaya, tetapi ia tak menyangka bakal diabaikan keluarganya sendiri.

Ikut berperang di Timur Tengah menyulitkannya hidupnya di Eropa. Pasalnya, Denmark menganggapnya sebagai seseorang yang berbahaya. Ia divonis 9 bulan penjara lantaran ikut berperang sebagai prajurit ilegal. Palani pun dilarang meninggalkan negara dan paspornya disita. Lebih parah lagi keluarganya mengabaikannya. Mereka tak pernah menghadiri sidangnya.

5. Merasa disisihkan negara asalnya

Tanpa uang, tempat tinggal, atau teman, Palani merasa pemerintah Denmark seharusnya memfasilitasi mantan pejuang yang kembali ke masyarakat. Segalanya pun menjadi sulit baginya. Meski banyak mantan pejuang atau anggota kelompok radikal yang pulang dari pertempuran diberi konseling psikologis agar bisa berbaur dengan warga Denmark, mantan sniper itu justru merasa tersisih.

“Yang lain sudah diurus, sedangkan saya dihukum. Saya tidak memperjuangkan agama atau bangsa saya sendiri, tetapi juga untuk dunia luar yang terancam oleh ISIS. Saya tidak menyangkal keputusan ini dibuat sepenuhnya oleh diri saya sendiri. Saya harus tetap memegang teguh tekad itu dan menegakkan kepala saya,” ungkapnya.

Sambil menyelesaikan masalah hukumnya, Joanna Palani mencurahkan segala perasaan dan yang dialaminya ke dalam sebuah memoar berjudul “Freedom Fighter: My War Againts ISIS on Frontlines of Syria”. Ia berharap kisahnya akan membuka mata dunia tentang revolusi gender di Timur Tengah dan berharap kaum perempuan berani menceritakan kisah mereka.

Editor
Rafael N

Baca Juga

Back to top button