Refleksi Kritik Tentang Bima Religius

Ketika Daerah Religius meniscyakan Potensi kemanusiaan berkembang dengan landasan keimanan dan ketaqwaan Kepada Allah SWT.  Dihadapkan pada soal Kebringsan Manusia.  Apa yang tersirat dalam benak Pemimpin? Apa yang tersirat pada benak penegak Hukum? pemuka Agama dan kepada Pejuang Kemanusiaan?  Haruskah saling menyalahkan? Entah apa yang terjadi pada tanah keramat (Mbojo) itu? Begitu sulit mengurai berbagai persoalan kemanusiaan ini.

Mungkinkah sujud kita semua diatas sajadah belum sempurna atau kemilau cayaha Dunia memalingkan wajah kita padanya?  Entahlah.

Spirit Religiulitas harus mampu menjelaskan berbagai persoaalan kemanusiaan ditanah Mbojo. Lewat Institusi yang dibentuk dengan otoritas dan perannya masing-masing.

Disisi lain Pendidikan Agama terasa vakum tidak memiliki peran penting dalam menanamkan nilai -nilai kemanusiaan Religius yang melingkupi pembina serta pembentukan Etika dan moral Keagamaan Khususnya dikalangan Remaja. Padadahal Remaja sangat rentan dan labil dalam menangkap trend Jaman sehingga mudah terjebak dengan perilaku menyimpang salah satunya adalah Kejahatan, dan Remaja juga yang paling banyak menjadi korban dari situasi yang tak terkondisikan ini.

 

Pendidikan Agama bukan hanya di sekolah Formal saja tapi harus dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga adalah wadah utama pendidikan Anak dan Remaja sebelum masuk kependidikan Formal,  jadi peran sertanya menentukan juga dalam membentuk kepribadian Remaja. Berbagai Malapetaka yang terjadi dan menimpa anak-anak dari sebuah keluarga, terjebak dengan Narkotika, Miras dan kejahatan lainya yang terkadang  berujung pada pembantaian apa tidak cukup jadi bahan renungan setiap orang tua bahwa malapetaka yang terjadi pada setiap anak mungkin juga akan terjadi pada anak setiap orang tua di Mbojo termasuk  Pemimpin, penegak hukum dan Pemuka Agama.

Kesadaran dalam melihat berbagai persoalan ini harus dimulai dari mencari sebab munculnya berbagai persoalan itu sendiri. Sehingga penanganan dan solusi dapat diraih secara seksama dari berbagai element Sebab ini tanggung jawab bersama.

Akhir kata, Semoga kita semua dirahmati kekutan serta pengetahuan untuk membangkitkan kesadaran bersama untuk mencari solusi berbagai persoalan tanah adat kita (MBOJO) yang kita cintai.

Oleh.: Bambang Ir. Mantan Ketua Umum BOM BJ

Editorial: (ak.leo)

Baca Juga

Back to top button