Telkom dan Telkomsel : Kebo Nyusu Gudel?

AKHIR-akhir ini publik ramai membaca komentar Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang menyindir PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Persero) atau Telkom. Menurutnya, sebagai BUMN, Telkom terbilang enak karena pendapatannya banyak ditopang oleh anak usahanya yang maju, PT Telkomsel.

Karena pendapatan Telkomsel yang besar digabung ke Telkom, Erick Thohir juga mengatakan induk usaha jadi bisa menyetorkan dividen besar dan kalau Telkomsel untung seperti itu, sebaiknya tidak perlu ada Telkom [1].

Target penerimaan dividen pada tahun 2019 diproyeksi sebesar Rp 45,6 triliun. Sebesar Rp 44,7 triliun diantaranya berasal dari BUMN di bawah pembinaan Kementerian BUMN. Sisanya sebesar Rp 850 miliar dari BUMN di bawah Kementerian Keuangan.

Realisasi pendapatan dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari bulan Januari 2019 sampai dengan bulan Agustus 2019 mencapai Rp 42,39 triliun.

Adapun lima BUMN yang menyetorkan dividen terbesar untuk periode bulan Januari sampai dengan Agustus adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sejumlah Rp 9,25 triliun, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk sejumlah Rp 8,45 triliun, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sejumlah Rp 6,75 triliun, PT Pertamina (Persero) sejumlah Rp 4,5 triliun, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sejumlah Rp 2,25 triliun [2].

PT Telkom menyetor dividen hampir dua kali lipat dari PT Pertamina. Padahal pendapatan usaha PT Pertamina jauh di atas PT Telkom.

Dari ikhtisar keuangan laporan laba rugi BUMN sampai dengan akhir 2018, pendapatan usaha PT Pertamina sebesar 798,68 triliun rupiah, sedangkan pendapatan usaha PT Telkom sebesar 132,6 triliun rupiah.

Laba bersih Telkom Group di tahun 2018 sebesar 36,406 triliun rupiah. Sedangkan laba bersih Telkomsel di tahun 2018 sebesar 25,5 triliun rupiah. Ini berarti Telkomsel menyumbang sekitar 70% dari total laba bersih Telkom Group di tahun 2018. Namun tidak bijak jika kita mengesampingkan peran Telkom sebagai induk semang Telkomsel.

Telkomsel bisa menjadi pemimpin pasar operator seluler di Indonesia tidak terlepas dari peran Telkom sebagai operator telekomunikasi incumbent.

Telkom memberikan akses interkoneksi kepada Telkomsel sejak awal berdirinya Telkomsel di tahun 1995. Sehingga pelanggan Telkomsel bisa terhubung dengan seluruh pelanggan Telkom dan operator telekomunikasi lainnya.

Telkomsel juga menikmati kedudukannya sebagai anak perusahaan Telkom dengan mendapatkan layanan sewa tower dan satelit Telkom dengan tarif khusus.

Keistimewaan lain yang diberikan Telkom kepada Telkomsel adalah perlindungan terhadap bisnis Telkomsel di kawasan timur Indonesia.

Telkom sebagai incumbent operator cenderung memproteksi masuknya operator telekomunikasi seluler selain Telkomsel di kawasan tersebut, dengan tujuan supaya pendapatan eksisting Telkomsel tidak terganggu.

Selain menyinggung soal dividen dan pendapatan Telkom, Menteri BUMN Erick Thohir juga menyindir Telkom yang tidak bergerak ke bisnis pengumpulan data. Padahal, big data saat ini merupakan tambang baru, mengalahkan minyak.

Sayangnya, data penting di dalam negeri justru dikuasai asing. Salah satunya dipegang oleh Alicloud yang merupakan perusahaan data milik Alibaba dari China. Erick Thohir punya pengalaman soal data ini. Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan sendiri pada saat perayaan Asian Games kemarin, dirinya harus menggunakan Alicloud [1].

Padahal seharusnya, peran itu bisa diambil oleh Telkom sebagai BUMN telekomunikasi.

Sebenarnya Telkom melalui anak perusahaannya Metranet sudah memiliki portofolio bisnis big data dan smart platform, dengan brand Bigbox.

Salah satu klien Bigbox adalah PT Pertamina dengan program Digitalisasi Pertamina, yang mana saat ini mentargetkan transformasi 5518 SPBU di Indonesia menjadi sistem digital yang terkoneksi dengan platform bigdata BigBox [3].

Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan pengalaman customer, merampingkan proses dan membuat pendapatan yang dicatat lebih transparan. Bigbox bahkan sudah masuk dalam Top 10 Big Data Solution Providers – 2019 versi APAC CIO Outlooks [4].

Pada saat perhelatan Asian Games 2018 Telkom melalui Telkomsel juga memperagakan penggunaan teknologi 5G dengan mengoperasikan bis tanpa awak pengemudi [5].

Lucu rasanya jika Erick Thohir selaku Ketua Panitia Asian Games 2018 tidak mengikuti teknologi terkini yang sedang dikembangkan Telkom Group.

Melihat kenyataan tersebut, sebaiknya Menteri BUMN jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Telkom dan Telkomsel ibarat “Kebo Nyusu Gudel” atau orang tua yang menjadikan anaknya sebagai sapi perah.

Langkah Telkom membuat anak perusahaan di bidang telekomunikasi seluler di tahun 1995 merupakan langkah cerdik mengantisipasi bisnis fix phone yang saat itu mulai decline.

Telkom saat ini juga mengantisipasi perkembangan bisnis digital dengan terus menggenjot pemasaran IndiHome sebagai layanan fixed broad band nya yang merupakan kebutuhan dasar di era digital.

Namun Telkom juga harus terus berinovasi dan mengelola bisnisnya secara lebih lincah di era disruptif saat ini. Telkom harus merampingkan anak-anak perusahaannya yang banyak dan memiliki portofolio bisnis yang tumpang tindih.

Produk-produk digital Telkom masih banyak yang kalah bersaing dengan produk serupa dari mancanegara. Misalnya Blanja.com vs Shopee, LinkAja vs Gopay atau Ovo, Melon vs Spotify.

Di sisi lain Telkomsel juga harus terus berinovasi di tengah gempuran over the top companies seperti Facebook yang memiliki layanan suara melalui jaringan data gratis seperti Whatsapp Voice Call.

Kementerian BUMN jangan sampai seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang tidak mendukung keberadaan BUMN di bisnis telekomunikasi.

Kemenkominfo membuat PP Nomor 71/2019 yang membuka peluang bagi perusahaan swasta atau korporasi untuk menyimpan datanya di luar negara Indonesia.

Padahal apabila data tetap wajib disimpan di dalam negeri, maka perlindungan, pengolahan, serta pengkapitalisasian data untuk kepentingan nasional menjadi semakin mudah.

Kondisi ini dipersulit dengan terbukanya Pemerintah Indonesia terhadap keberadaan perusahaan asing dalam bisnis data center di Indonesia.

Pada bulan Maret 2018 data center atau pusat data milik layanan komputasi awannya, Alibaba Cloud, resmi beroperasi di Jakarta, Indonesia. Kehadiran data center ini menyusul setelah kurun dua tahun Alibaba Cloud memantau pasar di Tanah Air.

Pemain asing lainnya yang mengincar kue bisnis data center di Indonesia adalah Amazon. Amazon Web Services, Inc., (AWS) mengumumkan akan membuka data center region di Indonesia pada akhir 2021 atau awal 2022.

Patut dipertanyakan mengapa peran utama untuk percepatan terwujudnya Ekonomi Digital Indonesia tidak dipegang oleh BUMN yang bergerak di bisnis jasa telekomunikasi di negeri ini yang telah memiliki NeuCentriX, yaitu neutral data center yang terkoneksi ke berbagai service dan network provider dari seluruh dunia.

BUMN Indonesia telah memiliki NeuCentrIX yang saat ini terdapat di 17 lokasi, yaitu di 11 kota di dalam negeri, 3 lokasi di Singapura dan 1 lokasi di Hong Kong [6].

Dari pada gaduh dengan bisnis Telkom dan Telkomsel, sebaiknya Kementerian BUMN mengambil langkah-langkah strategis supaya Telkom Group yang memiliki lisensi lengkap di bidang bisnis telekomunikasi, bisa menjadi perusahaan telekomunikasi paling terkemuka di dunia. Rencana menjadikan Telkomsel sebagai BUMN, bisa diawali dengan buy back saham Singtel di Telkomsel [7].

Oleh: Oleh : Satrio F. Damardjati
Penulis adalah Ketua Umum PETANI dan Inisiator Petani Go Digital.

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close