Trending Topik

Denny Siregar: Bendera Hitam Enzo Allie

"Sebagai remaja, bagi saya Enzo hanyalah remaja yang ikut-ikutan saat memegang bendera hitam yang menjadi ciri khas penjual khilafah"

Abadikini.com, JAKARTA – Remaja blesteran Sunda Prancis yang baru saja viral di media sosial itu mendadak dipertanyakan banyak orang. Enzo yang lolos calon taruna Akmil 2019 itu, fotonya menyebar di mana-mana, sedang membawa bendera hitam bertuliskan tauhid.

Bukan hanya Enzo, bahkan ibunya yang pendukung fanatik Prabowo saat Pilpres kemarin, fotonya juga menyebar ke mana-mana dengan berbagai tudingan bahwa dia adalah simpatisan organisasi terlarang, Hizbut Tahrir Indonesia.

Reaksi spontan masyarakat terhadap kecurigaan bahwa Enzo Allie disusupkan oleh HTI ke dalam tentara, membuat TNI juga mulai mendalami apakah benar Enzo sudah terpapar HTI. Dan ini kelak akan berpengaruh pada karier Enzo ke depan.

Entah kenapa saya punya pikiran berbeda dengan banyak orang.

Semisal Enzo memang terpapar HTI, terus bagaimana cara menyembuhkan dia? Dibuang? Dipinggirkan? Dihina? Ataukah dia dirangkul dan diajak bersama-sama mencintai Pancasila?

Sebagai remaja, bagi saya Enzo hanyalah remaja yang ikut-ikutan saat memegang bendera hitam yang menjadi ciri khas penjual khilafah. Sama seperti kita waktu remaja, yang dengan bangganya memakai baju Guns n Roses, bahkan berambut gondrong ala Slash dan memakai anting sebelah sebagai tanda kita anak Metal.

Tidak ada yang lebih dari itu, apalagi dibilang bahwa kita kelak akan menghancurkan negara karena obat-obatan atau narkotika. Toh pada waktu dewasa juga kita sadar sadar sendiri dan mulai bekerja seperti orang umumnya.

Enzo pun saya yakin begitu. Jejaknya ada karena ia memang sebagai remaja yang tumbuh saat propaganda bendera hitam begitu kuatnya. Dia hanya remaja yang ingin mengikuti gerakan zaman saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Apalagi dikaitkan dengan ideologi segala.

Tetapi memang kewaspadaan perlu ditingkatkan.

Dari kejadian ini kita bisa tahu bahwa masih ada kekurangan dalam perekrutan di TNI. Jejak media sosial ternyata tidak diikutsertakan sehingga mereka bisa “kecolongan”. Dan masyarakat lagi yang harus mengingatkan.

Di luar semua itu, mari kita berhenti menghujat Enzo. Dia ada dalam naungan organisasi besar yang mumpuni yang mampu mengubah ideologi seseorang seperti TNI. Mungkin butuh pengawasan khusus kepada remaja seperti Enzo, dan saya yakin TNI punya program seperti itu.

Yang saya takutkan sebenarnya bukan remaja seperti Enzo yang masuk TNI, tetapi justru remaja-remaja lepas dan pengangguran yang mudah didoktrin oleh ustadz jalanan untuk menjadi pengantin. Mereka tidak bisa seperti Enzo yang berada dalam dekapan orang tua seperti TNI yang bisa mengarahkan mereka ke arah yang lebih baik.

Enzo bagi saya beruntung. Bisa saja jika bukan berada dalam organisasi TNI, kelak dia akan menjadi salah satu teroris yang ditakuti. Bisa saja.

Seruput kopinya.

Oleh: Denny Siregar

Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Editor
Nabila Sarah
Topik Berita
Back to top button