Tak Hanya Enzo, Deretan Perwira TNI Berdarah Campuran Jadi Legenda

Abadikini.com – Nama Enzo Zenz Allie belakangan menjadi sorotan. Ia adalah calon taruna (catar) akademi militer TNI keturuan Prancis-Indonesia.

Dalam sejarah, ada beberapa warga keturunan juga berkarier di militer. Bahkan sukses dan memiliki posisi penting dalam TNI. Dilansir Abadikini dari Merdeka, Siapa saja mereka?

Pierre Tendean

Tak hanya Enzo yang berdarah Prancis, Letnan Pierre Tendean juga perwira TNI sekaligus pahlawan revolusi yang juga berdarah Prancis. Pierre memang sosok yag mudah bergaul dan cerdas. Ia sudah terbiasa bergaul dengan anak-anak desa yang berbeda adat sejak kecil.

Semakin beranjak dewasa, Pierre mulai memiliki keinginan sebagai prajurit. Meskipun sang ayah ingin Pierre masuk ke kuliah kedokteran. Alhasil Pierre mengikuti dua tes, tes prajurit dan tes kedokteran.

Hasilnya, pada November 1958, Pierre diterima dan masuk pendidikan Akademi Teknik Angkatan Darat (Aktekad) di Bandung. Kemudian pada 1962, Pierre lulus dan dilantik sebagai Letnan Dua.

Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie Tjeng Tjoan

Tak banyak yang tahu tentang Purnawirawan TNI John Lie. Ia adalah salah satu pahlawan nasional yang berlatar belakang etnis Tionghoa. John Lie punya banyak jasa untuk Indonesia.

John Lie mulai bercita-cita sebagai pelaut sejak berusia 17 tahun. Rita Tuwasey Lie, keponakan John Lie, menceritakan saat itu John Lie rela kabur ke Batavia karena ingin menjadi pelaut. Di kota ini, sembari menjadi buruh pelabuhan, ia mengikuti kursus navigasi.

Setelah itu John Lie menjadi klerk mualim III pada kapal Koninklijk Paketvaart Maatschappij, perusahaan pelayaran Belanda. Pada 1942, John Lie bertugas di Khorramshahr, Iran, dan mendapatkan pendidikan militer. Ketika Perang Dunia II berakhir dan Indonesia merdeka, dia memutuskan bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) sebelum akhirnya diterima di Angkatan Laut RI.

Pada awal 1950 ketika ada di Bangkok, ia dipanggil pulang ke Surabaya oleh KASAL, Laksamana TNI R. Soebijakto dan ditugaskan menjadi komandan kapal perang Rajawali. Pada masa berikut ia aktif dalam penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan) di Maluku lalu PRRI/Permesta. Ia mengakhiri pengabdiannya di TNI Angkatan Laut pada Desember 1966 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda.

Idjon Djanbi

Letnan Kolonel Inf. (Purn.) Mochammad Idjon Djanbi merupakan anggota TNI berdarah Belanda. Pria bernama asli Rokus Bernardus Visser ini punya jasa besar untuk Indonesia, salah satunya mendirikan Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Visser muda bergabung dengan tentara Belanda yang mengungsi ke Inggris. Tapi rupanya Visser lebih tertarik menjadi pasukan tempur, dia ikut bergabung dalam operasi Market Garden yang dilakukan sekutu untuk merebut Belanda tahun 1944. Setelah itu Visser ikut melakukan operasi amphibi bersama pasukan sekutu.

Karena prestasinya, Visser naik pangkat jadi letnan. Pemerintah Belanda mengirimnya ke Indonesia ketika Jepang kalah dan Belanda ingin berkuasa kembali.

Setelah perang usai, Visser yang sejak awal bersimpati pada Indonesia memilih pensiun sebagai serdadu. Dia menikah dengan seorang wanita Sunda, kemudian masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Mohammad Idjon Djanbi.

Sekitar tahun 1952, Komandan Teritorium Siliwangi Kolonel Alex Evert Kawilarang bercita-cita mendirikan sebuah pasukan elite untuk menumpas DI/TII. Saat itu pasukan reguler sulit bergerak lincah di hutan Jawa Barat yang masih sangat lebat.

Kawilarang pun memanggil Idjon Djanbi dan memaparkan rencananya, sekaligus meminta Idjon menjadi pelatih. Idjon menerima tawaran itu.

Pembenahan terus menerus dilakukan hingga akhirnya Kesko III Siliwangi ini berubah nama menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD), lalu Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD), Pusat Pasukan Khusus AD (Puspassus AD), Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Hingga akhirnya sejak tanggal 26 Desember 1986, nama Kopassandha berubah menjadi Komando Pasukan Khusus atau Kopassus.

Editor
Sulasmi
Topik Berita
Back to top button