Membaca Pro Kontra Komentar di Medsos

MENCERMATI kondisi sosial politik di masyarakat sehubungan dengan serangkai kejadian bom yang terjadi, secara tidak langsung menciptakan polarisasi keberpihakan terhadap beragam tanggapan dan isu atau kejadian tersebut.

Ciri khas yang terjadi atas banyak kejadian bom adalah memunculkan pandangan atas kostum agama tertentu, sehingga tercipta stigma tentang perilaku jahat jika melihat orang berkostum tersebut. Bahkan dari ucapannya saja sudah nyinyir yaitu mengatakan “laki-laki pakai rok”, atau mencirikan “perempuan ber-hijab”.
Ini adalah salah satu angle… suatu sudut pandang…

Terhadap pihak yang bersikap skeptis dengan kejahatan bom yang terjadi, pihak korban berkata “kalian tidak kelihatan rasa empatinya terhadap orang² yang terbunuh, terluka, terancam… kalian memang menjijikkan…”
Ini juga salah satu angle…

“Memang akhirnya lupa untuk ber-empati, karena terasa tuduhan terhadap agama, rasa agamis kami lebih terasa terganggu ketimbang ikut merasakan kepedihan seperti korban…”
Inipun sebuah angle…

Mengapa menjadi skeptis? Karena pada setiap kejadian, ada tuduhan, makian, cercaan yang dilontarkan langsung tidak langsung menuju bukannya kepada personnya, tapi kepada kelompok agamanya, dan tergiring untuk menilai pemahaman agamanya, walau memang tidak berbahasa langsung menghina agamanya.
Inipun salah satu angle…

Begitu maraknya berbagai komentar yang mencerca kejahatan bom, yang semakin terstigma bahwa itu adalah perbuatan orang agama tertentu, maka muncullah “perlawanan pikiran” bahwa agama kami jangan dihina.

Penjahat atau kelompok atau orang perorang yang punya tujuan jahat selalu ada dimana-mana. Pihak yang jahat tetaplah jahat. Agama tidak pernah memerintahkan untuk jahat.
Jika agama ditafsirkan dapat dijadikan alasan untuk berbuat jahat maka yang menafsirkan seperti itu adalah jahat. Dan yang menuduh “agama tertentu” itu juga sejatinya termasuk perbuatan jahat.
Jadi ternyata sekarang bermunculan “penjahat baru…”
Ini juga salah satu angle…

Tuduh-menuduh bagaikan menilai mana yang duluan ayam atau telor.
Apalagi jika diperluas dengan cara analisis geopolitik, cara pikir mengikuti sejarah, serta cara pikir asal-usul teologis yang takkan berakhir sampai akhir zaman.

Dari sekian banyak angle… akhirnya tersarikan menjadi 2(dua) angle saja… yaitu pro-kontra.

Membaca pro-kontra itu akan mengubah pikiran menjadi membatu atau mencerahkan…

Jika kembali pada memori kolektif agamis dari pihak yang pro-kontra, maka hal ini tak akan selesai oleh dominasi informasi resmi dari pemegang otoritas keamanan…

Silakan memilih,
apakah mau selalu berprasangka?
apakah mau selalu terlibat dalam suasana seperti ini?

Ekspresi pro-kontra di medsos juga dapat merupakan bagian dari gejolak memunculkan kejahatan, mungkin!

Oleh: Ir. Alexander David Pranata Boer, MH
Praktisi Hukum

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button