Yasin Ardhy dan Pindang Patin

SATU lagi kader utama Partai Bulan Bintang (PBB), Yasin Ardhy SH. MH, meninggal dunia di masa pandemi Covid-19. Sebelumnya KH Abdul Qadir Jaelani, Jamaluddin Karim SH dan H. Ramlan Marjoned.

Yasin Ardhy termasuk dosen sekaligus pakar hukum yang dimiliki PBB selain Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra SH. Pada masa awal PBB masih berjaya ada sejumlah pakar hukum. Diantaranya Dr. Anwar Harjono SH, Prof. Dr. Rifyal Ka’bah MH, Hartono Marjono SH, KH, Abdul Qadir Jaelani, Syarifin Maloko SH, MH, Bahrum Martosukarto SH, Abdurrahman Saleh SH, Prof. Dr. Tahir Azhari SH, Abdurrahman Tarjo SH dan lain-lain.

Anwar Harjono sebagai founding father PBB wafat menjelang Pemilu 1999. Rifyal Ka’bah sempat menjadi Hakim Agung juga sudah tiada. Hartono Marjono juga sudah wafat, setelah ia keluar dari PBB, begitu juga KH Abdul Qadir Jaelani, beliau meninggal dunia pada, Selasa (23/2/2021), pukul 10.00 WIB di kediamannya karena sakit dan usia yang sudah tua. Sepekan setelah almarhum wafat, menyusul Yasin Ardhy tepatnya pada hari yang sama, Selasa (2/3/2021). KH Abdul Qadir Jaelani pernah jadi anggota DPR RI saat itu ia menggantikan Yusril Ihza Mahendra setelah ditunjuk Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) sebagai Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia Kabinet Persatuan Nasional 2000-2001.

Kemudian ada sosok Syarifin Maloko, ia pernah menjadi Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta, beliau masih ada dan sehat setelah sebelumnya sakit. Bahrum Martosukarto dan Tahir Azhari juga sudah mendahului. Abdurrahman Saleh pernah menjadi Jaksa Agung RI dan duta besar masih hidup. Demikian pula Abdurrahman Tarjo SH. Hanya setelah Muktamar Bogor ia tidak berada di PBB. Sedang Jamaluddin Karim paska Pilpres 2019 meninggalkan partai.

Praktis hanya Yasin Ardhy yang tetap bertahan di DPP PBB sejak periode pertama hingga periode Muktamar di Belitung 2019. Jabatannya dari mulai Wakil Sekjen, Sekjen, Ketua, Wakil Ketua Umum dan Ketua Mahkamah Partai hasil Muktamar Belitung.

Sebelumnya, almarhum Yasin Ardhy juga pernah menjabat Ketua Badan Kehormatan Pusat (BKP) hasil Muktamar Bogor. Ia termasuk pendiri PBB yang aktif sejak awal berdiri hingga menjelang wafatnya. Ia selalu berperan dalam PBB berkaitan dengan AD dan ART Partai. Ia berbicara jelas, mudah dipahami dan sistematik jika menjelaskan landasan hukum dan peraturan partai itu. Kini PBB kehilangan orang yang konsen pada masalah hukum organisasi partai. Di samping soal hukum ketatanegaraan.

Pada saat Mukernas PBB periode 2014-2019 di Malang, Yasin sebagai Ketua BKP khusus mengadakan pertemuan dengan Badan Kehormatan Wiayah (BKW) PBB se Indonesia. Saya waktu itu Ketua BKW Jawa Barat hadir. Namun sayang, karena saya jatuh sakit di hotel tempat Mukernas, terpaksa pulang hingga tidak bisa mengikuti sidang sidang BKP-BKW.

Yasin Ardhy sempat mencari-cari dan mengontak saya. Sejak itu kami tidak bertemu. Kami baru berjumpa pada saat rapat caleg PBB Dapil 6 Depok Bekasi jelang Pemilu 2014 di rumah Ir. Umar Abdul Fatah, Ketua DPC PBB Depok di Cimanggis. Waktu itu ia caleg PBB nomor 1 di Dapil 6 Jawa Barat. Pada Pemilu 2019, ia ditempatkan di dapil lain.

Karena kami berbeda posisi di kepengurusan PBB jadi selama periode 2014-2019 lama tak bertemu wajah. Dengan istrinya pernah sama sama aktif di Korps Mubaligh Bulan Bintang saat dipimpin Ramlan Marjoned. Karena itu dengan keduanya bukan hanya teman di partai tapi juga kekeluargaan.

Hubungan kekeluargaan itu tetap kuat hingga saat bertemu dalam Muktamar Belitung 2019. Di luar arena muktamar kami bertemu saat mencari makan siang. Tiba tiba ia dan istri mengajak makan di warung nasi tidak jauh dari hotel. Kami hanya berjalan kaki. Ternyata keduanya sudah pernah ke warung nasi itu. Rupanya di warung itu ada makanan khas yang disukainya. Pindang Patin. Kami menikmatinya bersama.

Selepas Muktamar Belitung Yasin Ardhy kerap hadir ke Markas DPP PBB. Ia sudah melaksanakan tugasnya sebagai Ketua Mahkamah Partai. Ia tetap konsen pada masalah hukum. Pada saat akan ditetapkan Rancangan Undang Undang (RUU) Cipta Kerja tahun 2020, ia diminta menyampaikan penjelasannya di depan rapat Majlis Syuro PBB.

Ketika acara pembukaan Muktamar Pemuda Bulan Bintang di Asrama Haji Pondok Gede, ia hadir sebagai undangan. Ia bilang langsung berangkat dari Kampus Universitas Islam Asysyafiiyah (UIA) dan tidak bawa kendaraan sendiri. Waktu itu muktamar dibuka oleh Ketum DPP PBB, Yusril Ihza Mahendra.

Sebelum mendapat khabar wafatnya saya kerap melihat dalam profil dan status, Yasin menampilkan fotonya dalam beberapa action. Malah saat ia baru bergabung ke Bip, “WA”nya Turki, saya lihat foto profilnya yang cerah dan seperti dalam kondisi sehat tak ada tanda sakit apa-apa.

Namun ada berita di WAG PBB Cabang Kota Depok, dari Evi, Wakil Bendahara DPP, ia jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Tentu kami merasa terkejud tentang berita itu. Berhubung dalam situasi masih pandemi Covid-19, banyak yang tak bisa membezuknya. Keesokan harinya tersiar kabar di WAG itu juga, ia meninggal dunia di RS Mitra Keluarga Bekasi, Jawa Barat.

Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun. Kamipun tak dapat hadir berta’ziyah. Kecuali hanya menyampaikan doa untuknya, “Semoga Allah menerima amal ibadah dan mengampuni dosa-dosanya. Aamiin”. (MK.3.3.2021).

Oleh: Muhsin MK

Baca Juga

Back to top button