Tak Ada Online, Sekolah di Kuburan pun Kami Sudah Senang

Gara gara pandemi COVID-19 seluruh sekolah di Indonesia melakukan sistem sekolah secara daring sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus covid ke para pelajar. Bagi mereka yang hidup berkecukupan memiliki laptop smartphone dan kouta internet tentulah tidak menjadi masalah, namun bagaimana bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu?

SDN 1 Naioni yang berada di kelurahan Naioni kecamatan Alak Kota Kupang ini, contohnya, anak didiknya banyak yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Jangankan untuk membeli smartphone, untuk makan saja di situasi pandemi seperti ini tentu menjadi satu masalah besar.

Di saat yang lainnya bisa mengikuti sekolah secara daring, mereka hanya bisa berharap agar pihak sekolah tetap mencari solusi untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu ini tidak ketinggalan pelajaran

Kepala Sekolah SDN 1 Naioni, Marselinus Juang bersama para guru menyiasati hal ini dengan membuat kelompok belajar dengan membuka sekolah terbuka tatap muka di lingkungan terdekat mereka, seperti di bawah rimbunan pohon dengan mengelar tarpal, atau, terkadang, di bawah atap kuburan keluarga.

Situasi Kelas terbuka/dokpri

Kegiatan belajar mengajar di buat senyaman mungkin tetapi tetap menerapkan protokol kesehatan seperti berjarak dan bermasker.

Semangat anak-anak didik untuk belajar selalu terlihat dari kehadiran di kegiatan belajar mengajar yang di lakukan 3 kali seminggu.

Banyak tantangan tentunya bagi para guru untuk bisa memastikan kegiatan ini efektif salah satunya ketersediaaan masker dan hand sanitizer agar protokol kesehatan tetap bisa di terapkan.

Bagi mereka yang mampu sekolah secara daring tentunya menyenangkan.

Namun bagi anak-anak yang kurang mampu sekolah tatap muka terbuka menjadi solusi untuk tetap menimba ilmu.

Salut terhadap bapak kepala sekolah dan para guru di SDN 1 Naioni yang tetap semangat mengajar para siswa siswa-siswinya di tengah situasi pandemi yang mulai memporak porandakan banyak ekonomi keluarga dan dengan tidak pastinya kapan sekolah seperti biasa akan kembali di buka.

COVID -19 banyak memberikan kita rasa bersyukur untuk kemudahan kita mengakses internet di kota, meski terkadang malah kita gunakan untuk hal hal yang tidak berguna.

Sedangkan, banyak saudara-saudara kita yang hingga kini tinggal di bawah tiang provider seluler dengan 4G-nya, tetapi untuk mengakses internet tidak sanggup.

Gerakan memberikan akses wifi gratis adalah salah satu hal terbaik yang banyak terjadi di tanah air. Mungkin, ke depannya ada juga yang mau menyediakan perangkatnya untuk bisa mengenalkan anak-anak dari keluarga tidak mampu dengan apa dan bagaimana itu sekolah online.

NTT sebagai provinsi dengan urutan ke-5 termiskin se-Indonesia (BPS Maret 2020) dengan jumlah persentase penduduk miskin sebanyak 1,15 juta jiwa (20,90 %), dan masuk dalam 10 provinsi yang besar kasus angka stuntingnya.

Sektor pendidikan merupakan salah satu harapan untuk memutus rantai kemiskinan dan kurang gizi, pemerintah di berbagai lapisan terutama pemerintah setempat tentu mempunyai tanggung jawab untuk memastikan pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu tetap bisa diakses.

SDN 1 NAIONI ALAK KUPANG/dokpri

Anggota dewan setempat pun diharapkan lebih pro-aktif untuk memperhatikan isu ini agar kelak generasi NTT di masa depan akan menjadi yang generasi yang mumpuni bagi pembagunan NTT dan Indonesia.

Akhir cerita, tetap semangat belajar untuk adik-adik siswa di SDN 1 Naioni Alak Kota Kupang.

Keterbatasan dan kekurangan tidak akan menjadi penghalang untuk mengenyam pendidikan demi masa depanmu karena pemerintah telah menjamin semua warganya untuk mempunyai hak yang sama untuk mengenyam pendidikan apapun kondisi dan situasinya.

Oleh
Nasti Lamag

Sumber Berita
Nasti Lamag

Baca Juga

Back to top button