Humor Gus Dur: Kecerdasan Tukang Becak Madura dan NU HMI

Oleh:

Fachry Ali MA, Pengamat Sosial Keagamaan

Abadikini.com, JAKARTA – Malam makin larut. Satu persatu tamu di rumah saya di kawasan Clayton, Melbourne, pulang. Tinggal, mungkin, lima orang tamu yang ‘setia’. Kiai Abdurrahman Wahid (publik memanggilnya Gus Dur) yang duduk bersila di atas karpet dengan menyenderkan punggungnya di kursi panjang.

Kursi senderan Gus Dur itu memang  dilengkapi tempat khusus meletakkan telpon itu saya beli di toko barang-barang second hand di Dandenong. Saya ingat, Ketut Mardjana (kelak pernah menjadi Dirut PT Pos) yang mengantarkan saya ke sana.Tapi, kendati jumlah tamu telah menipis, cerita-cerita kecil tetap berlanjut.

Kali ini, Kiai Abdurrahman Wahid berkata: “Tahun 1950-an di Surabaya masih ada trem. Sebuah kenderaan umum mirip kereta, tapi lebih pendek, yang digerakkan listrik. Suatu ketika, trem tersebut melaju kencang di atas relnya. Tiba-tiba, sebuah becak yangg dikayuh seorang Madura berhenti persis di lintasan rel itu. Jarak trem-becak hanya tinggal 15 meter.”

Maka lanjut Kiai Wahid, dengan gugup dan susah-payah, masinis menekan rem sehabis-habisnyanya. Dan trem berhasil terhenti hanya beberapa inci dari becak. Dengan wajah merah dan napas terengggah-engag karena marah dan penuh emosi, sang masinis melotot dan berteriak kepada tukang becak itu:

“Hai! Kamu kok diri di situ?! Tidak bisa mundur?!” teriaknya.

Dengan tenang, tukang becak itu menjawab enteng sembari ngeloyor membawa pergi becaknya:

“Saya bisa. Sampean enggak.”

*****

Kiai Abdurrahman Wahid, Saya dan NU ‘Cabang HMI’

Sejak 1978, saya sudah menulis di Kompas. Sebagian besar tulisan saya —sebagai hasil penempatan saya di Jepara untuk pengembangan industri ukir-ukiran pd 1977-78 oleh LP3ES— adalah tentang  pembangunan pedesaan dan industri kecil.

Kiai Abdurrahman Wahid kala itu sudah aktif di LP3ES, sebagai konsultan Program Pengembangan Pesantren yg dikelola Abdullah Sjarwani.

Pada suatu hari, Kiai Abdurrahman Wahid bertanya apakah saya sudah membaca tulisan antropolog Jepang Mitsuo Nakamura tentang hasil Muktamar NU di Semarang?

Maka, kontan saya jawab: ‘Belum,’ jawab saya.

Mendengar jawaban saya, Kiai Abdurrahman Wahid tampak ‘kesal’ dan bertanya: “Bagaimana orang seperti kamu tidak membacanya?!”

Selang beberapa hari kemudian, Kiai Abdurrahman Wahid menyerahkan satu kopi tulisan antropolog itu. Saya menyimak dengan seksama.

Dan melalui tulisan Nakamura itu, saya ‘menemukan’ NU. Sejak itu, tulisan saya tentang NU cukup banyak di Kompas. Malah berseri. Kalau boleh mengklaim, sayalah yg pertama dan persisten menulis tentang NU sejak akhir 1970-an dan pertengahan 1980-an. Tentu dengan berbagai catatan kritis terhadap  organisasi sosial terbesar di Indonesia ini.

Maka, suatu hari, Kiai Abdurrahman Wahid, datang kepad saya. Tampaknya, ia baru membaca tulisan saya tentang NU. Dan sang kiai berkata: “Fachry, saya ditanya orang NU tentang kamu.”

Lantas saya bertanya balik: ‘Tentang apa pertanyaannya Cak Dur?’

Kiai Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa kalangan NU itu bertanya: ‘Ini Fachry Ali NU cabang mana?’
‘

“Nah,” kata saya, “Cak Dur jawab apa?’
”

“Saya jawab saja, Fachry Ali adalah NU Cabang HMI,” tukas Gus Dur enteng.

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close