Kisah Haru Seorang Guru Mengaji Banting Setir Jadi Kuli Kala Pandemi Virus Corona

Abadikini.com, BOGOR – Ahmad Irfan (35), guru mengaji asal Rancamaya, Bogor Selatan, Kota Bogor, mengaku harus meminjam uang kepada rekannya guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sejak pemerintah menetapkan kegiatan belajar dari rumah saat pandemi Virus Corona.

“Pinjam palingan, kerja serabutan itu pun kalau ada,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (21/4).

Ia, yang tinggal bersama seorang anak berusia enam tahun dan seorang istri, sebelumnya memiliki anak didik berjumlah 30 orang. Pengajian dilakukan selama enam hari dengan masing-masing murid menyisihkan iuran listrik per bulan Rp20 ribu.

Namun, semuanya terhenti setelah Presiden Joko Widodo sebelumnya mengeluarkan imbauan mengenai kegiatan belajar, bekerja, dan beribadah di rumah, Minggu (15/3), atau hampir dua pekan setelah kasus pertama pasien positif Covid-19 terungkap.

Efeknya, beberapa pemerintah daerah mulai aktif mendatangi masyarakat untuk meminta menghindari kerumunan, termasuk kegiatan pengajian. Hal itu pula yang dialami Irfan.

Namun, Irfan menyatakan sudah menghentikan kegiatan pengajian itu 10 hari sebelum Kota Bogor menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Rabu (15/4).

“Para ustaz terkena dampak oleh peraturan social dan physical distancing. Karena 10 hari sebelumnya Pemda sangat-sangat aktif untuk melaksanakan larangan kerumunan orang di pengajian, majelis,” tuturnya.

Dia pun meminta pemerintah daerah ataupun pusat tetap memperhatikan kehidupan para guru ngaji selama masa pandemi Covid-19 ini. “Belum ada [bantuan sosial],” imbuh dia.

Guru mengaji lainnya, Abdul Muhit (33), warga Jalan Raya Sukabumi Kilometer 19, Bogor, mengaku harus menjalani pekerjaan serabutan, seperti menjadi kuli bangunan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saat PSBB.

“Enggak ada bantuan pemerintah untuk guru ngaji sampai sekarang. Kadang ikut kuli bangunan,” ucap dia, ketika dihubungi melalui sambungan telepon.

Sebelumnya, ia memiliki 50 santri anak-anak. Selain itu, ia juga aktif mengisi pengajian di majelis taklim, dengan jumlah peserta sekitar 50-an orang kaum ibu dan 20 orang kaum bapak.

“Pendapatan paling kalau ada sedekah. Sedekah tiap pengajian dari ibu-ibu atau bapak-bapak. Kalau untuk anak-anak kita enggak tentukan bayaran. Paling cuma bayar iuran listrik satu bulan sekali. Ada juga sih yang ngasih satu bulan sekali ada yang ngasih sedakah buat listrik 1 bulan,” tutur Muhit.

Ia, yang memiliki tanggungan seorang istri dan tiga anak, meminta pemerintah untuk lebih memerhatikan guru mengaji dan pemilik pondok pesantren kala pandemi Corona.

“Seharusnya pemerintah juga jangan hanya memerhatikan yang lain, memerhatikan guru-guru ngaji juga. Terutama yang mempunyai pondok pesantren, dampak Covid-19 kan sangat besar,” harap dia.

Diketahui, jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Bogor, hingga Selasa (21/4), mencapai 66 orang. Terdapat 6 orang sembuh dan 11 meninggal dunia. Sementara, 49 pasien lainnya masih dalam pengawasan rumah sakit.

Bansos Kemenag

Terpisah, juru bicara Kementerian Agama (Kemenag) Oman Fathurahman menyatakan pihaknya memiliki program bantuan sosial (bansos) khusus bagi para guru mengaji, marbot masjid, dan para ustaz majelis taklim sebagai jaring pengaman sosial di tengah pandemi Covid-19.

“Sejak minggu lalu itu sebetulnya salah satu prioritas gugus tugas penanganan Covid-19 di Kemenag itu untuk membantu guru-guru ngaji, marbot masjid, ustaz-ustaz yang informal,” kata dia, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/4).

Oman menyatakan program bantuan sosial itu dapat berupa uang dan sembako. Meski demikian, ia tak merinci jumlahnya. Pihaknya akan menilai terlebih dahulu soal kebutuhan guru mengaji tersebut.

“Tergantung kebutuhan yang diminta. Berdasarkan asessment-nya. Ada yang uang dan sembako. Lalu guru madrasah honorer juga mereka dapat dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah), tapi kini BOS-nya ditingkatkan, yang awalnya 30-an persen dilebihkan dari 50 persen. Ada afirmasi-afirmasi seperti itu,” terangnya.

Selain itu, Oman menyatakan pihak Kantor Wilayah Kementerian Agama di seluruh Indonesia kini tengah mendata para guru ngaji, marbot, dan ustaz majelis taklim yang berhak menerima bantuan. Tujuannya, bantuan dapat tepat sasaran.

Ia pun meminta agar para guru mengaji untuk aktif melaporkan datanya ke Kakanwil Kemenag di daerahnya masing-masing.

“Kami kesulitan kalau dari masyarakat tak mengirimkan data. Nanti data dari Kakanwil dari seluruh Indonesia masuk ke kita. Nanti kita distribusikan bantuannya itu melalui maskng-masing Kakanwil Kemenag itu,” kata Oman.

Sumber Berita
CNN Indonesia
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close