Proyeksi Kondisi Ekonomi dan Politik Indonesia Hadapi Dampak Virus Corona

KONDISI Ekonomi sangat bermasalah karena pengaruh bubble economy, namun tanpa Corona diprediksi turun diangka 4%. Dengan adanya pandemi Virus corona, prediksi perlambatan laju ekonomi sudah dan semakin parah.

Dua tahun yang lalu beberapa ekonom sudah menjelaskan masalah ekonomi dan solusinya, early warning system sudah diberikan, namun tak dihiraukan, sehingga gelembung makro makin besar. Gelembung makro ekonomi, gagal bayar, anjloknya daya beli, kehadiran bisnis digital dan penurunan pendapatan petani. Semua indikator makro merosot lebih jelek dibandingkan 10-15 tahun lalu. Defisit neraca perdagangan, transaksi berjalan, tax dsb. Logika ekonomi saat semua indikator makro merosot, seharusnya mata uang melemah. Hal tersebut tidak terjadi karena didopping utang pemerintah dari luar negeri dengan bunga lebih mahal.

Jika kondisi ekonomi normal, angka ekonomi tumbuh 6,5% dan pertumbuhan kredit bisa mencapai 15-18%. Namun merosotnya daya beli, Penjualan yang anjlok,  pertumbuhan kredit merosot. Pengaruhnya daya jual dan daya beli masyarakat bawah merosot. Di masyarakat bawah uang sangat susah dan penjualan anjlok karena uang yang beredar sangat sedikit karena kesedot untuk bayar utang.

Setiap Menkeu menerbitkan Surat Utang Negara (SUN), 1/3 dari dana di bank tersedot untuk membeli SUN.  karena SUN mampu menjamin defisit anggaran dan menggairahkan iklim investasi, kendati bunganya lebih mahal dari deposito. Akibatnya pertumbuhan kredit seret dan berakibat kelangkaan uang beredar di masyarakat.

Potensi dan kejadian gagal bayar kasus Jiwasraya. Diperkirakan akan ada gagal bayar reksadana, dana pensiun, dan lainnya dengan nilai total Rp 150 triliun atau 100 miliar dollar AS.

Gelembung digital sudah terlalu besar dan kemungkinan akan mengalami koreksi sekitar 40-50%.

Merosotnya pendapatan petani. Mundurnya waktu tanam petani karena pengaruh musim kering pada September 2019 lalu, membuat petani baru bisa memulai masa tanam pada Januari ini. Otomatis musim panen baru akan terjadi pada Mei /Juni mendatang. Namun saat musim panen, diprediksi Bulog bakal menolak beras dari petani. Pertama, karena krisis keuangan dan kerugian Bulog. Kedua, Bulog masih menyimpan stok impor 1,7 juta ton.

Ketujuh hal diatas terjadi pada saat bersamaan. Sehingga, menjelang lebaran bisa terjadi krisis dan berimbas pada peta politik. (Semoga tidak terjadi)

Menilik sejarah perubahan politik di negeri ini selalu diawali dengan krisis ekonomi.

Perubahan besar selalu terkait atau dimulai karena adanya krisis ekonomi.

Krisis ekonomi akan berdampak pada perubahan politik. Hal ini diakibatkan bukan karena ada oposisi yang hebat, tapi memang krisis itu sendiri menciptakan momentum perubahan.

Solusi Mengurangi Dampak Corona Terhadap Ekonomi

Geser secara radikal dengan melakukan realokasi APBN 2020.

Stop (moratorium) proyek-proyek infrastruktur besar 2020. Alokasikan hanya untuk sektor kesehatan, makanan dan daya beli rakyat miskin.

Jangan lakukan ‘macro pumping’ dan jangan ada ‘buyback’ saham-saham BUMN.

Siapkan SOP (Standard Procedures) ketika serangan corona.

Gunakan momentum pandemic Corona untuk genjot produksi dalam negeri, seperti pertanian, buah-buahan dan sayur-sayuran. Bantu kredit, bibit, pupuk sehingga bisa panen setiap 3 bulan.

Nilai tukar rupiah makin anjlok dan index IHSG sudah anjlok. Jangan biarkan mata uang rupiah dan index terombang-ambing. Ubah flexible exchange menjadi fixed exchange  untuk 1 tahun.

Bekukan perdagangan saham sampai waktu yang belum ditentukan. kalau dibuka terus, akan semakin anjlok, dan akan semakin panik.

tukar (swap) utang2 yang yield-nya sangat tinggi dan sangat merugikan bangsa. Segera negosiasi swap bond yg sangat merugikan.

Soal tindakan preventif dan kuratif menghadapi corona, pujian perlu diberikan kepada masjid saifuddaulah, Masjid Transit Kota Bandung. Jelas, terukur dan persuasif.

Oleh : Zaky Roby Cahyadi

Baca Juga

Back to top button