Kaderisasi PBB Yang Realistik

KADERISASI  berasal dari kata kader. Yang artinya orang yang dibina dan diharapkan akan memegang peran yang penting dalam pemerintahan, partai dan organisasi lainnya. Orang yang dibina itu bisa satu atau sejumlah orang.

Pembinaannya intensislf, sistimatik dan terukur sehingga benar benar dapat memenuhi standar dan harapan organisasi yang mengkadernya. Oleh karena itu kaderisasi sebagai proses pembentukkan atau pencetakkan kader sangatlah diperlukan, apalagi dalam Partai Bulan Bintang (PBB).

Kaderisasi dalam PBB diperlukan untuk mempersiapkan calon pemimpin atau pejabat dalam: 1. Partai itu sendiri yang diharapkan dapat menjadi penerus pemimpinnya yang benar benar berkualitas dan terpecaya, bahkan lebih baik lagi. 2. Untuk diposisikan dalam pemerintahan sehingga PBB memiliki pejabat yang layak dan berkemampuan dalam bekerja profesional dan berintegritas tinggi tanpa melupakan partainya. 3. Dapat menjadi ujung tombak partai dalam menggerakkan masyarakat mendukung PBB sehingga berhasil meraih kemenangan dalam setiap Pemilu.

Harus diakui bahwa kaderisasi PBB selama berdirinya hingga saat ini belum berjalan baik. Karena itu wajarlah jika fungsionaris partai tidak kuat bertahan pada saat PBB dihantam gelombang besar. Mereka justru lebih senang melarikan dan menyelamatkan diri sendiri meninggalkan partai. Bahkan jika perlu membuat partai baru. Di samping itu mereka tidak mampu bersaing dengan partai partai lainnya dalam Pemilu.

Apalagi diantara mereka berasal dari kader ormas yang memiliki karakter masing masing. Sekurang kurangnya ada lima karakter kader ormas dalam partai, yakni: 1. Loyalitas kepada ormasnya lebih tinggi sehinga ada saja masalah dipartai akan kembali ke ormasnya. Bisa juga mereka tetap menjadi pengurus partai. Namun kegiatan ormasnya lebih didahulukan dari pada partainya. 2. Kecenderungan mudah mutung meninggalkan partai bila keinginan dirinya tidak tercapai. 3. Kebiasaan lompat atau nyeberang walau pernah menikmati jabatan di pemerintahan atau legislatif mewakili partai. 4. Mudah membangkang kepada kebijakan pimpinan partai yang dipandang tidak sejalan dengan pandangan ormasnya. 5. Mudah membenci dan memusuhi pimpinan partai, bahkan tidak segan menghujatnya yang dinilai bertentangan dengan pendirian diri dan ormasnya.

Karena itu kaderisasi dalam partai tidak bisa diharapkan dari ormas. Biar ormas mengkader untuk kepentingannya sendiri. PBB mengkader untuk kepentingam sendiri yang dapat dipercaya dan diandalkan sesuai kebutuhannya. Kader ormas kesetiaan pada organisasinya yang lebih kuat dari pada partainya. Secara obyektif bisa dilihat. Jika ada kegiatan organisasinya bersamaan dengan aktifitas PBB, maka dia akan mendahulukan ormasnya. Sebab suka dukanya lebih lama dirasakan di ormasnya tinimbang partainya. Lain halnya kader PBB sendiri. Sebagai hasil dari kaderisasi yang intensif, sistematis dan serius, tentu dia lebih mencintai dan bergiat di PBB dari pada lainnya.

Karena itu kaderisasi PBB perlu dimulai dari generasi baru yang cerdas dan Islamis. Generasi baru ini dapat dimulai dari siswa SLA dan mahasiswa yang tertarik pada PBB. Generasi baru ini dapat dikirim dari DPW dan DPC yang langsung berhadapan dengan masyarakat. Masing masing dapat mengirim anak anak muda yang cerdas dan Islamis itu untuk menjadi kader militan. Namun kaderisasi mereka harus berjalan secara kontinue, berjenjang dan berkelanjutan, sekalian dilibatkan dalam gerak dan aktifitas partai.

Tentu kaderisasi ini perlu waktu lama. Ini yang telah dilakukan partai lain. Mereka punya orang orang yang melakukan tugas itu. PBB belum ada, kecuali pengurus yang memiliki sekolah dan perguruan tinggi, atau yang menjadi guru atau dosen. Itupun tidak mudah dilakukan seperti membalik telapak tangan. Yang paling mungkin kaderisasi terhadap fungsionaris partai yang masih baru dan muda. Mereka dapat diharapkan mengikuti kaderisasi yang intensif dan berjenjang. Diharapkan membuat mereka menjadi kader PBB yang militan, berani, istiqamah dan berkualitas unggul dari kader manapun.

Selain itu, proses kaderisasi PBB sebaiknya dimulai dari atas, dari DPP PBB. Kaderisasi tingkat ini untuk melahirkan kepemimpinan partai Islami, berkemampuan tinggi, unggul, beradab dan berakhlak mulia. Mereka diharapkan: Pertama, dapat menggiatkan partai meraih kemenangan dalam Pemilu. Kedua, calon calon anggota legislatif yang handal, energik, mampu meminpin dan menguasai masalah, termasuk solusinya. Ketiga, calon calon presiden dan pejabat negara atau pemerintahan yang profesional, bersih dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Selanjutnya kaderisasi di tingkat DPW, DPC, PAC dan PRt PBB. Ini hampir sama harapan dan tujuannya dengan DPP. Hanya yang membedakan tingkat kepemimpinan dan pemerintahannya. Jika kaderisasi tingkat pimpinan itu telah berjalan secara intensif, sistemik, terstruktur dan massal (ISTM), maka kemudian dilakukan kaderisasi di tingkat basis massa. Anggota dan simpatisan PBB serta badan otonomnya harus ikut serta dalam aktifitas kaderisasi PBB. Merekalah yang menjadi ujung tombak: Pertama, dalam memperjuangkan partai. Kedua, menarik massa pemilih dalam memenangkam Pemilu. Kaderisasi terhadap mereka ini perlu menjadi perhatian besar pimpinan partai di semua tingkatan.

Tentu dalam setiap proses kaderisasi memerlukan tenaga instruktur yang ahli, profesional, berkemampuan tinggi, berkualitas, memiliki standarisasi yang terukur dan siap melaksanakan tugas di manapun dan kapanpun. Mereka perlu mendapatkan pelatihan, pembinaan dan pemantapan, terlebih dari Badan Pengelola Pengkaderan Partai (BP3).

Tingkatan instruktur perlu digariskan dan ditetapkan melalui pedoman pengkaderan, mekanisme dan standarisasi yang jelas, formal dan melembaga. Namun terlepas dari itu semua, yang paling utama adalah: Proses kaderisasi harus segera dimulai setelah infrastruktur partai hingga ranting telah terbentuk tuntas. Siapkah?

Oleh: Muhsin MK.

Baca Juga

Back to top button