Ironi menjadi Wartawan: Menjawab Kemarahan Para Polisi Moral di Media Sosial

Wartawan, terlebih reporter, adalah partikel paling kecil dari sistem oligarki dan kapitalisme media. Tapi justru wartawan didorong sebagai pion paling depan, bahan bakar yang menggerakkan perusahaan media.

Sebagaimana pion, wartawan tak punya kuasa untuk mengkritisi langkah yang diambil atasannya. Tanpa mengerdilkan ragam buruh lainnya, wartawan adalah salah satu profesi buruh yang paling marginal di lingkaran industri yang bergelimang duit. Kita menyebutnya sebagai buruh tinta.

***
Dulu aku meyakini bahwa penyebab buruknya kualitas produk jurnalistik media arus utama di Indonesia karena tidak diimbangi oleh sumber daya manusia dengan wawasan jurnalisme yang memadai. Alias, wartawan tidak becus bikin berita karena tidak pernah belajar mata kuliah dasar seperti pengantar ilmu jurnalistik, wawancara, atau reportase.

Beberapa tahun belakangan ini aku perlahan yakin sumber daya manusia untuk industri media sudah mulai mumpuni. Sebab, ada banyak kolega dan kerabat yang aku ketahui cukup andal wawasannya lalu lalang di depan layar tv dan berbagi gagasan melalui tulisan di media cetak maupun media digital. Baguslah, semakin banyak media massa yang mendapatkan suplai praktisi pers dari disiplin ilmu jurnalistik.

Tapi nyatanya aku salah. Sejumlah media massa masih betah berdagang berita klise dan sensasional. Seperti yang terjadi baru-baru ini, terkait berita miring tentang salah seorang pesohor pop Korea. Menariknya, berita tak sedap itu cepat mendapat protes dari warganet, utamanya di media sosial. Banyak yang menyayangkan, tak sedikit pula yang menyerang karakter individu wartawan pembuat berita terkait dengan hujatan dan bulian. Galak bagai polisi moral yang melakukan operasi tangkap tangan.

Akupun sadar kualitas produk jurnalistik di industri media arus utama Indonesia masih belum terangkat signifikan meski sudah disuplai banyak praktisi dari disiplin ilmu jurnalistik. Ada hal-hal lebih besar yang membuat ekosistem media kita terlihat begitu bobrok. Ini bukan hanya tentang terbatasnya pemahaman pada mata kuliah dasar seperti pengantar ilmu jurnalistik, wawancara, atau reportase.

***

Di kampus ilmu jurnalistik, ajaran untuk menjadi idealis, skeptis, dan tidak mudah goyah merupakan hal lumrah. Dan para calon buruh tinta kerap terbuai dengan mewahnya sebuah idealisme. Bahkan tidak sedikit yang abai pada prospek finansial ketika memilih untuk menjadi tenaga profesional di industri media. Padahal bukan rahasia lagi bila upah yang diterima tidak berbanding lurus dengan beban, risiko dan tanggung jawab sebagai pekerja media.

Namun di mata mereka, profesi ini adalah pekerjaan paling mulia yang bisa mereka lakukan kelak setelah lulus dari bangku kuliah. Tak apalah berakhir dekil di jalanan asal bisa merasakan megahnya sebuah proses investigasi. Tak apalah siap sedia ditugasi ke mana saja tanpa mengenal jam kerja asal bisa menyuarakan kabar perjuangan yang sebelumnya tidak pernah terdengar. Tak apalah gaji bisa dicukup-cukupi, yang penting sudah bisa berkontribusi untuk kemaslahatan orang banyak dari olahan-olahan informasi dalam berita. Mereka rela mengalah pada aspek upah demi idealisme.

Tapi apakah cikal bakal insan pers juga benar-benar diajarkan bagaimana berpikir taktis dan bernegosiasi menghadapi editor/redaktur/pemred/bos yang menghambakan monetisasi? Apakah para idealis muda itu juga diajarkan untuk realistis di industri media arus utama yang semakin hari semakin dekat dengan digitalisasi jurnalisme kuning; yang menghalalkan segalanya untuk merebut perhatian dan minat pembaca agar bisa dikonversi menjadi sejumlah klik?

Idealistis dan realistis sering bersinggungan ketika para wartawan muda terjun ke dunia pers. Sejumlah jebolan pendidikan jurnalistik malah geger dengan realita industri media massa arus utama masa kini. Aktualisasi diri mereka di media tempat bekerja dipaksa menjauh dari idealisme yang dipupuk bertahun-tahun di bangku kuliah. Pemahaman jurnalistik mereka dibenturkan pada keinginan pasar dan disederhanakan menggunakan ukuran jumlah traffic ke halaman berita.

Bila sudah begitu, pada akhirnya mereka terpaksa realistis dan mengkaji kembali kemuliaan pekerjaan yang mereka geluti. Pilihan acap kali mengerucut pada dua, keluar dari media terkait atau mencoba nyaman dan menerima realitas yang pahit dari meja redaksi.

Mereka yang memutuskan keluar bisa memperpanjang nafas idealisme, setidaknya idealisme untuk diri sendiri. Mereka juga masih bisa menyalurkan idealisme yang dipunya untuk media-media massa alternatif yang menjunjung produk jurnalistik berkualitas tinggi. Hanya saja, media macam ini baru terhitung jari.

Bagaimana dengan mereka yang bertahan dan mencoba nyaman meski tahu tak ada idealisme yang awet di industri media arus utama? Mereka rela kalah dan menyerahkan kemewahan terakhir mereka, yakni idealisme.

Bagi sarjana-sarjana muda jurnalistik, menjadi wartawan di media-media arus alternatif yang berusaha memegang idealisme pun terkadang masih menjadi batu locatan yang terlalu jauh untuk ditekuni. Selain karena jumlah media alternatif masih segelintir, lulusan baru dari kampus jurnalistik masih gamang bila dihadapkan untuk menyeriusi pendapatan freelance sebagai sumber utama finansial pribadi.

Perlu diketahui, sejumlah media tidak ingin mengikat wartawan dengan kontrak tetap dan lebih mempertimbangkannya sebagai kontributor. Wajar saja akhirnya banyak wartawan berlabuh ke perusahaan media arus utama yang menawarkan kestabilan pendapatan walau nominalnya kecil.

***

Mereka yang bekerja menjadi wartawan harusnya lebih banyak diapresiasi karena sejatinya sudah banyak kekalahan yang mereka alami. Dan kalian polisi moral masih ingin mereka kembali merasa kalah kesantunan dengan hujatan-hujatan tidak membangun yang membuli karakter personal itu?

Harusnya kalau kalian marah dengan produk jurnalistik yang buruk, marahlah pada industri media dan pemegang kebijakan ruang editorial yang memilih produk-produk macam itu karena untuk memenuhi standar ganda konten kalian-kalian juga. Wartawan, utamanya reporter atau wartawan muda hanyalah pion dari kebijakan media tempat mereka bekerja. Harusnya kalau kalian marah, tinggalkan saja media-media yang masih menjajakan produk itu, jangan pernah lagi mendonasikan traffic pada mereka.

Karena sekali industri tetaplah industri, tak peduli industri berbungkus pers yang dianggap sebagai alat kontrol sosial sekalipun. Ujung-ujungnya industri media juga akan mengorbankan apa saja demi bisa memonetisasi selera pasar.

Aldo Fenalosa, Penulis adalah seorang yang kini bekerja penuh waktu di sebuah startup e-commerce.

Tulisan ini sudah pernah di muat di situs whiteboardjournal.com dengan judul “Ironi menjadi Wartawan: Menjawab Kemarahan Para Polisi Moral di Media Sosial”

Back to top button