PBB dan Generasi Milenial

DALAM satu kesempatan diskusi bersama senior Partai Bulan Bintang (PBB) di daerah, mereka dihantui pesimisme melihat masa depan partai. Alasannya PBB semakin ditinggal konstituen karena sikap dan perilaku elitnya. Ormas Islam yang menjadi pendukung utama PBB hanya tinggal catatan sejarah. Faktanya mereka memberikan kebebasan kepada jamaahnya menentukan pilihan sendiri. Komitmen mereka terhadap partai penerus Masyumi ini semakin melemah.

Sikap pesimisme ini hendaklah dijauhkan dari aktivis, kader dan fungsionaris PBB. Sebagai partai yang didirikan mencapai suatu cita-cita mulia sesuai tujuan, visi dan misinya tentu tidak membutuhkan sikap negatif seperti itu. Pemikiran dan pandangan positif ke depan dalam arti optimismelah yang perlu dimiliki mereka dalam memperjuangkan PBB. Dalam kerangka inilah keberadaan generasi milenial sedemikian penting dalam membangun optimisme perjuangan PBB di Indonesia.

Generasi milenial ini termasuk yang menjadi amunisi baru PBB. Generasi ini lahir antara  tahun 1980-1990 atau awal 2000. Generasi ini juga dikenal sebagai kelompok yang menjadikan internet sebagai bagian dari hidupnya. Sekitar 3 jam atau lebih memanfaatkan teknologi yang berhubungan dengan dunia maya. Bahkan mereka lebih aktif dalam pergaulan dunia maya ketimbang dunia nyata.

Ternyata memperkenalkan PBB di dunia maya sedemikian penting dan berpengaruh. Generasi milenial sudah menjadi bagian dari hidupnya, sehinga mereka yang terlibat dalam  partai bisa memberikan info dan citra yang positif PBB melalui media sosial. Apalagi bagi mereka yang sudah memiliki jaringan yang luas dalam pergaulan di angkasa. Bahkan tidak mustahil merekapun kerap bertemu dan berkumpul di darat. Mereka ini yang diharapkan berperan besar mempromosikan dan mengkampanyekan PBB melalui internet, twitter, facebook, instagram, WhatsApp dan teknologi informasi lain yang dikuasainya.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa bagi partai yang menguasai generasi milenial akan meraih kemenangan dalam Pemilu. Pendapat ini sejalan dengan pandangan konvensional yang menyatakan kuasailah generasi muda guna meraih masa depan gemilang. Karena itu kehadiran generasi milenial di PBB diperlukan dan diharapkan perannya dalam memenangkan partai dalam Pemilu. Hanya saja keberadaan mereka perlu mendapatkan tempat yang tepat dan strategis jika dipandang perannya lebih besar dari kader PBB yang lain.

Sebagaimana diketahui bahwa kader PBB dewasa ini tidak semua dari generasi milenial. Masih banyak generasi kolonialnya. Peran mereka dalam memperjuangkan dan memenangkan partai dalam pemilu tidak dapat dipandang remeh. Apalagi masih besar jumlah rakyat Indonesia yang tidak tersentuh teknologi informasi dan komunikasi. Mereka juga bergelut dalam kemiskinan dan kebodohan yang perlu mendapat perhatian partai. Karena itulah kedua generasi, milenial dan kolonial, tidak perlu dipertentangkan dalam partai. Malah mereka perlu disenergikan dengan baik oleh pimpinan partai.

Pimpinan PBB memiliki tanggung jawab yang besar dalam mensinergikan dan mengendalikan dua generasi yang berbeda ini dengan baik dalam  memajukan dan memenangkan partai. Dua generasi ini memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Generasi milenial kelebihannya dalam penguasaan teknologi komunikasi dan informasi yang canggih berhubungan dengan dunia maya. Argumentasi dan fakta yang dikemukakan lewat tulisan lebih dominan ketimbang lisan. Mereka dapat menjelaskan visi misi partai lewat media sosial dan online termasuk berdiskusi dan melakukan perdebatan. Berbeda dengan generasi kolonial dalam hal berkomunikasi dan menyampaikan informasi lisan dalam media diskusi di darat dan melalui media elektronika lebih baik dan berpengalamanan walau lemah dalam aktifitas di dunia maya.

Kepengurusan DPP PBB 2019-2024 mencerminkan dua generasi ini. Keduanya harus dihindarkan dari keadaan air dan minyak tapi perlu berbaur, saling berbagi dan kerja sama yang kompak dalam memajukan, memperjuangkan dan memenangkan partai. Pertemuan-pertemuan yang rutin dan berkala dalam kerja-kerja partai termasuk pembahasan isu-isu Ideologi, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, informasi dan komunikasi bangsa dan ummat.

Generasi milenial dan kolonial dalam PBB perlu bekerja sama secara kompak dan harmonis dalam setiap aktifitas dan perjuangan partai sesuai dengan potensi dan profesi masing-masing. Mereka harus saling mengisi dan tidak saling menyalahkan. Sebagai sesama aktivis dan fungsionaris partai tidak perlu lagi mempersoalkan tua-muda, lama-baru, milenial-kolonial, tetapi semua terlibat dalam ikatan kebersamaan dan kerja sama yang kuat untuk memajukan dan memenangkan PBB.

Generasi milenial yang biasa cuek-bebek karena sibuk dengan teknologi dan aktifitas media sosial saat berada dalam partai harus peduli pada generasi lainnya. Generasi kolonial yang lebih tua dan dewasa perlu memberikan suri teladan yang positif pada mereka dalam berpartai. Karena itu tuntunan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam perlu diperhatikan, “Yang tua menyayangi yang muda. Yang muda menghormat yang tua”. Dalam PBB sebagai partai Islam hendaklah mereka harus saling sayang menyayangi dan hormat menghormati. Juga mereka wajib saling mendukung dan bekerja sama dalam tim work yang solid, dinamis dan profesional. Yang diikat oleh asas, ideologi, tujuan dan visi misi perjuangan demi kejayaan negara, bangsa dan agama (Islam).

Optimisme kemajuan dan kemenangan PBB tidak terlepas dari keberadaan generasi milenial ini. Mereka juga yang dapat menjadi daya tarik dan daya pikat partai dalam merekrut dan mendorong generasi sesamanya yang masih cair untuk mendukung dan memilih PBB. Berikan kesempatan yang sama kepada mereka agar menjadi pemimpin partai di masa yang akan datang. Menjadi tugas pemimpin PBB dewasa ini untuk membimbing dan mengarahkan mereka agar menjadi pemimpin partai Islam yang lebih baik dan berkualitas dalam memajukan dan memenangkan PBB. (MK. 30.1.2020)

Oleh: Muhsin MK

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close