Kami Tidak Akan Membubarkan Diri, Hanya Karena Yusril Tak Jadi Menteri

Assalamualaikum. Wr Wb.

Salam sejahtera untuk kita semua. Doa saya hari ini tetap sama seperti kemarin. Semoga kita sebagai bangsa dieratkan dalam bingkai perbedaan. Amin.

Lama saya sudah menahan untuk tidak memberikan komentar, namun semakin didiamkan sepertinya isu terkait “Mengapa Prof. Yusril tidak masuk Kabinet Indonesia Maju” semakin liar dan sedikit menyerang kehormatan baik kepada beliau (Prof Yusril) atau kepada kami-kami sebagai loyalis beliau. Astaganya yang berkomentar itu orang yang tidak tahu apa-apa, namun sok tahu seolah mereka sang maha benar atas segala firmannya.

Saudara sebangsa dan setanah air, demi meluruskan hal ini, sebagai juru bicara tak resmi. Berikut saya sampaikan orang-orang yang saya maksud, untuk lebih kekinian saya juluki mereka. “Barisan Pengobral Rindu”

Pertama.

Ada barisan orang-orang Partai Bulan Bintang sendiri yang tidak sejalan pada pilihan Pilpres lalu, dengan tidak masuknya Pak Yusril di kabinet, tanpa perlu komando mereka bersorak seolah mencemooh bahwa Yusril telah salah melakukan manuver. Tanpa mereka tahu tujuan mulia apa dibalik dukungan Yusril kepada Jokowi.

Dalam hal ini, kalau Yusril salah, mengapa Prabowo juga ikut langkah Yusril sekarang ini? Setidaknya ini bisa jadi dalil pembantah, namun sayang kebencian mereka kepada Yusril membuat mereka seolah buta.

Kedua.

Ada masyarakat yang tidak cinta pada bangsa, mereka beragam, ada pegawai honorer yang sok paten, ada masyarakat yang mengaku Islam tapi hobi menebar fitnah dan kebencian, ada masyarakat awam yang memang punya hobi mencaci maki. Dalam ocehan mereka, seolah seirama mereka menyebar foto Pak Yusril dengan Narasi “Syukurin tidak jadi menteri, makanya kalau mau berharap itu hanya kepada Allah, jangan kepada manusia”

Sepintas kalimat penutup dengan membawa nama Allah itu keren, namun kalimat pembuka mereka itu bagi saya menjijikkan. Mereka lupa, dengan mereka seolah menari dan mencomooh Yusril, saya yakin itu jalan penghambat mereka masuk surga. “Itu kalau pula mereka masuk surga”

Saya pernah nimbrung di Postingan para pengobral rindu itu, dengan mengatakan “Anda tahu dari mana Yusril dukung Jokowi berharap kursi menteri, dan mengapa anda tidak bertanya kepada Prabowo mengapa jadi lawan Jokowi kalau hanya berharap jadi menteri?”

Cukup beralasan saya bertanya demikian. Karena sebagai orang yang sedikit dekat dengan Pak Yusril, tidak pernah saya menangkap informasi bahwa beliau melakukan dukungan kepada 01 dan membela Jokowi di Mahkamah Konstitusi dengan harapan jadi Menteri. Namun seperti biasa, mereka yang bermodal komentar tapi wawasan cuma kebencian itu hanya diam seolah tidak pernah berkomentar apapun.

“Semoga mereka mati dalam keadaan bertobat. Amin”

Sebagai loyalis, saya bangga Yusril tak masuk kabinet, setidaknya hal tersebut bisa membungkam omongan orang selama ini, bahwa “Yusril Memelacurkan diri kepada Jokowi demi kursi Menteri” pernyataan ini bukan sekali-dua kami dengar, namun berulang kali bahkan oleh kawan sekubu yang berbeda nahkoda. Seolah mereka membangun narasi besar bahwa masuk neraka-lah orang-orang yang mendukung Jokowi. Bahkan Eggi Sudjana menyebut Yusril itu telah Murtad, halal darahnya. Sekarang, adakah suara Eggi Sudjana menyebut Prabowo Murtad?

“Ohhh barangkali Eggi Sudjana tak bersuara karena lagi di penjara”

Saudara pembaca setanah air, perlu pula saya kabarkan bahwa kami loyalis Yusril itu bukan barisan perajuk. Bukan generasi muda pembangkang, kami taat asas satu komando. Tidak gampang merajuk seperti organisasi yang membubarkan diri karena kecewa tak dapat kursi, setelah dapat kursi tidak jadi bubar. Coba pembaca lihat di berbagai media. Tidak sekalipun orang-orang Yusril memaki Jokowi karena Yusril tidak dapat kursi menteri.

Apa yang saya sampaikan ini tidaklah hal yang dibuat-buat, atau hanya upaya kami menghibur diri. Kami tidak pandai berpura-pura. Kami tidak punya hutang apapun kepada pemerintah. Bahkan ketika Pak Yusril berjuang untuk Tenaga Honorer, beliau tidak mengemis untuk diangkatnya tenaga honorer jadi PNS, tetapi menggugat aturan terkait itu ke Mahkamah Agung. Walau tidak berbuah manis setidaknya beliau telah berbuat tidak hanya berjanji untuk Tenaga Honorer seperti orang-orang di Senayan sana.

Mengapa Yusril menggugat?

Karena beliau sadar benar, perlawan paling bermartabat itu adalah dengan melakukan perlawanan hukum. Begitu pula ketika Partai Yusril ditenggelamkan. Apakah beliau mengemis ke KPU untuk diloloskan agar ikut pemilu?

Jawabnya tidak, beliau menggugat sehingga partainya lolos dan bisa ikut pemilu. Kalaulah tidak lolos parlemen itu perkara lain, walau kata kubu sebelah, PBB nol koma itu karena PBB dukung penista agama, sekarang faktanya Gerindra juga dukung penista agama toch?.

Artinya narasi itu patah seiring berjalan waktu. Jadi sekali lagi, Yusril Bukan pengemis kursi menteri. Apalagi pengemis cinta. Tidak level Yusril itu untuk hanya sekedar mengemis.

Sebagai penutup saya akan mengutip sebuah pernyataan seorang pengacara muda terkenal di republik ini, umurnya masih 33 Tahun, dia salah satu Kuasa Hukum Jokowi juga di Mahkamah Konstitusi pada sengketa Pilpres lalu. Begini dia menggambarkan Yusril.

“Yusril adalah guru terbaik, figur hukum yang tiada bandingnya, sosok demokratis, sangat santun dan tegas pada saat bersamaan, lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara, namun ketika berbicara siapapun lawannya akan tertegun mendengarkan. Pribadi yang egaliter membuatnya sangat akomodatif memberikan kesempatan secara merata kepada siapapun termasuk kepada yang muda untuk berani tampil. Seorang intelektual yang sangat profesional, sangat menghargai waktu dan kuat memegang prinsip, saking kuatnya kadang langkahnya menjadi sulit dimengerti dan mengundang kontroversi. Sangat setia dengan pilihan politik sampai akhir. Jika sekedar memikirkan syahwat politik pribadi, telah lama beliau berpindah haluan. Saat partainya jatuh dan hampir tenggelam, beliau tampil menjadi Sekoci partai bulan sabit itu, bukan sekali-dua, bahkan berkali-kali. Sayalah saksi betapa dalam komitmen beliau untuk persatuan umat Islam, Konstitusionalisme dan Kebangsaan”

“Karena itu untuk anda yang terus berbicara hal negatif tentangnya, saya sarankan berhentilah bicara jika hanya itu yang bisa anda lakukan. Saat anda dan saya masih berbicara rencana perbaikan, beliau telah selesai melakukan. Jika jujur dan cermat membaca kiprah politik beliau yang lalu-lalu. Anda akan paham atas makna di balik setiap langkah-langkahnya”

Begitu ujar Gugum Ridho Putra, S.H,.M.H pada postingan media sosial pasca sidang Sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi.

Demikian barangkali bisa jadi penjelasan, berhentilah kepada yang menghina Yusril, politik ini seni, jangan terlalu ambisi, hari ini kawan, besok lawan begitu sebaliknya. karena dengan berkoalisinya Jokowi dan Prabowo, artinya Cebong Kampret sudah sekolam. Berarti anda yang masih menebar kebencian di republik ini termasuk binatang jenis apa?

Penjelasan Yusril pada acara Mata Najwa sebelum Putusan Mahkamah Konstitusi tempo lalu, bisa jadi data akurat, bahwa beliau tidak mengemis apapun kepada Jokowi. Beliau berujar, “Belum tentu kita yang mati-matian memenangkan ini, kita juga yang menikmati hasilnya, bisa jadi orang yang dilawan yang menikmati hasilnya” sambil menunjuk kubu Prabowo.

Semoga artikel ini bisa bermanfaat. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam tutur yang dituliskan, semoga Tuhan selalu menjaga bangsa ini agar tidak saling membenci antar sesama anak negeri.

Wasalam

Oleh: Yolis Suhadi,S.H
Koordinator Honorer Menggugat

Topik Berita

Berita Terkait

Back to top button
Close