Ngawurnya Rizal Ramli Soal Infrastruktur

Pada tanggal 4 April 2019, di UGM, saya berdebat dengan Rizal Ramli, dimana salah satu argumen saya yang dibantah oleh Rizal Ramli adalah tentang pembangunan infrastruktur distribusi/konektifiti seperti jalan, pelabuhan di Cina, dimana saya mengatakan bahwa Cina membangun infrastruktur bukan karena sesuai kebutuhan suatu wilayah atau daerah, melainkan infrastruktur tersebut dibangun untuk konektifitas dan distribusi antar wilayah agar perekonomian berkembang dan tumbuh.

Oleh karena Rizal Ramli mengatakan bahwa argumen saya tersebut tidak cerdas, maka saya berhak untuk menjawab dengan cerdas bukan? Rizal Ramli mengatakan bahwa argumen saya diatas ngawur karena dia mengaitkan pembangunan infrastruktur di Cina dengan pertumbuhan ekonomi China selama 25 tahun, yakni 12%.

Apa betul ngawur? Atau jangan-jangan kecerdasan Rizal Ramli hanya dijadikan alat untuk mengelabui rakyat semata!Pasalnya adalah Rizal Ramli tidak menyebutkan dari tahun berapa sampai dengan tahun berapa pertumbuhan sebesar 12% tersebut, bahkan dia sengaja menutup-nutupi apakah pertumbuhan ekonomi Cina yang 12% tersebut terjadi sebelum pembangunan infrastruktur yang masif di Cina atau sesudahnya?

Pada periode 1980-1990, infrastruktur di China itu sangat menyedihkan dan penyebab utama bottleneck (leher botol) pada perekonomian China  dimana pertumbuhan-nya hanya 3,9% pada tahun 1990, kemudian Cina mulai menggenjot pembangungan infrastruktur dari tahun 1992 s/d 2013, seperti jalan raya, kereta api, bandara, dan pelabuhan dan lain-lain yang justru kemudian menjadikan pertumbuhan ekonomi Cina menjadi melesat!

Jika Jokowi memulai dan melakukan hal yang sama dengan Cina, dimana pertumbuhan kita malahan lebih baik daripada Ketika Cina memulai pembangunan infrastruktur maka diharapkan akan mernumbuhkan sentra-sentra perekonomian diberbagai wilayah di Indonesia.

Jadi jelas bukan bahwa Rizal Ramlilah yang menggunakan kecerdasan-nya untuk mengelabui masyarakat secara ngawur!

Oleh: Inas N Zubir

Ketua Fraksi Hanura

  • 17
    Shares
Editor
Bobby Winata
Topik Berita