Sumbangan Dana Kampanye untuk Jokowi-Ma’ruf Dicurigai ICW

Abadikini.com, JAKARTA- ICW menduga sumbangan yang tercatat dari kelompok tersebut digunakan untuk mengakomodasi penyumbang yang tidak ingin diketahui identitasnya.

Indonesia Corruption Watch (ICW) mencurigai aliran dana kampanye ke pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Ada kejanggalan pada sumbangan dana kampanye dari kelompok senilai Rp 37,9 miliar karena status penyumbangnya belum jelas.

Sumbangan tersebut diberikan oleh Perkumpulan Golfer TBIG dan Perkumpulan Golfer TRG. Mereka tercatat memberikan sumbangan kepada Jokowi-Ma’ruf dengan frekuensi sebanyak 113 kali. Masing-masing dari kelompok tersebut menyumbang senilai Rp 19,7 miliar dan Rp 18,2 miliar.

Jumlah tersebut setara dengan 67% dari jumlah dana kampanye yang dilaporkan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf sebesar Rp 55,98 miliar. Sumbangan dari korporasi yang tercatat masuk sebagai dana kampanye sebesar Rp 11,49 miliar. Sementara, dana kampanye yang bersumber dari partai politik tercatat sebesar Rp 5,4 miliar.

Adapun sumbangan dana kampanye yang tercatat milik Jokowi-Ma’ruf hanya sebesar Rp 32 juta. Uang tersebut merupakan perolehan bunga dari dana awal kampanye yang disimpan tim di perbankan sebesar Rp 11,9 miliar. Akuntan publik menyatakan perolehan bunga tersebut merupakan milik Jokowi-Ma’ruf.

Peneliti Divisi Korupsi ICW Almas Sjafrina menduga dua kelompok penyumbang tersebut berkaitan dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk dan PT Teknologi Riset Global Investama. Saham dari kedua korporasi tersebut dimiliki oleh Bendahara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Wahyu Sakti Trenggono.

Almas mencurigai kedua perkumpulan olahraga ini lantaran tidak memiliki identitas dan status yang jelas. “Apakah ini memang informal? Klub olahraga atau apa? Siapa saja sih penyumbang dananya, sehingga bisa menyumbang dana sebesar itu ke presiden?” kata Almas di kantornya, Jakarta, Rabu (9/1).

Dia menduga, Perkumpulan Golfer TBIG dan Perkumpulan Golfer TRG untuk mengakomodasi penyumbang yang tidak ingin diketahui identitasnya. Dia menengarai ada pihak-pihak yang ingin menyumbang di atas batasan jumlah sumbangan yang telah ditentukan.

Berdasarkan regulasi dana kampanye dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, sumbangan maksimal perorangan sebesar Rp 2,5 miliar. Adapun untuk kelompok, perusahaan atau badan usaha nonpemerintah paling besar Rp 25 miliar.

“Daripada melanggar aturan, mereka akhirnya memecah sumbangan melalui asosiasi atau kelompok yang dibentuk itu,” ujar Almas.

Sumbangan yang Diwakilkan

Menanggapi dugaan ICW, Wahyu membantah ada upaya TKN Jokowi-Ma’ruf menutupi identitas penyumbang. Wahyu mengakui memang ada hubungan antara orang-orang di dalam komunitas olahraga tersebut dengan perusahaan TBIG dan TRG.

Hanya saja, sumbangan yang mereka berikan tidak mewakili nama perusahaan. Dengan demikian, mereka tidak diperkenankan untuk menggunakan nama korporasi TBIG dan TRG.

“Ini kan soal nama. Enggak ada hubungannya dengan TBIG, dengan TRG. Kalau nama berasal dari situ kan boleh,” kata Wahyu di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/1).

Menurutnya, ada banyak orang yang tidak memberikan dana secara langsung, melainkan berupa akomodasi, logistik, dan semacamnya. Meski demikian, hal tersebut tetap harus dicatat dalam laporan dana kampanye.

Atas dasar itu, mereka diwakilkan melalui wadah bernama Perkumpulan Golfer TBIG dan Perkumpulan Golfer TRG. Hal tersebut sudah sesuai dengan aturan yang dibuat KPU terkait dana kampanye. “Tanya KPU, (sumbangan dana) ini bisa diwakilkan,” kata Wahyu.

Ia juga membantah ada orang-orang dari Perkumpulan Golfer TBIG dan Perkumpulan Golfer TRG yang menyumbang lebih dari batasan jumlah sumbangan yang ditetapkan KPU. Hal tersebut dapat dilihat dari rincian laporan dana kampanye.

Dia pun memastikan jika TKN Jokowi-Ma’ruf terbuka bertemu dengan ICW untuk membahas masalah laporan dana tersebut. “Kalau ICW mau ketemu, bisa, kami enggak menutup-nutupi,” ujarnya. (ak/katadata)

  • 48
    Shares
Topik Berita

Baca Juga