Indonesia Tak Punya Pendeteksi Tsunami karena Longsor Laut

Abadikini.com, JAKARTA – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Indonesia belum memiliki alat peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh longsor bawah laut dan erupsi gunung.

Hal itu menjadi alasan mengapa tidak ada peringatan dini saat tsunami Selat Sunda menerjang pada Sabtu malam lalu, ketika wilayah terdampak sepanjang Pantai Carita sampai Tanjung Lesung sedang dipadati wisatawan yang merayakan liburan akhir tahun.

“Kemudian terjadi terjangan tsunami. Tidak ada peringatan dini tsunami karena Indonesia tidak memiliki peringatan tsunami yang disebabkan longsor bawah laut. Longsor bawah laut terjadi karena erupsi gunung,” kata Sutopo saat jumpa media di kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa (25/12).

Dengan begitu tidak ada orang yang berkesempatan untuk melakukan evakuasi. Tsunami terjadi secara tiba-tiba tanpa diketahui warga sekitar atau pun wisatawan.

Menurut Sutopo Indonesia baru memiliki alat peringatan dini tsunami yang disebabkan gempa tektonik. BNPB akan mendapat data potensi tsunami kurang dari lima menit setelah gempa tektonik.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari masyarakat, tinggi tsunami yang melanda Selat Sunda beragam dari 2 sampai 5 meter. Tanjung Lesung adalah salah satu wilayah yang diterjang tsunami setinggi 5 meter.

Sementara, Kabupaten Pandeglang menjadi daerah terparah akibat tsunami.

Hingga Selasa ukul 13.00 WIB, jumlah korban meninggal akibat tsunami mencapai 429 orang, 1.485 luka-luka, 154 orang hilang dan 16.082 orang mengungsi. (ak/cnn)

  • 19
    Shares
Topik Berita

Baca Juga