BMKG Ungkap Titik Gempa Kawasan Megathrust Selatan Jawa

Abadikini.com, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap titik gempa Megathrust Selatan Jawa. Gempa tersebut bisa memico tsunami yang diperkirakan bisa mencapai pantai Jakarta dalam 3 jam.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan berdasarkan hasil pemodelan menunjukkan tsunami sampai di Pantai Jakarta dalam waktu sekitar 3 jam setelah gempa, dengan tinggi 0,5 meter di Kapuk Muara – Kamal Muara dan 0,6 meter di Ancol – Tanjung Priok.

Daryono juga menyebut bahwa berdasarkan hasil analisisnya, gempa di kawasan Megathrust selatan Jawa bakal berpengaruh ke Jakarta jika terjadi di selat Sunda.

“Pemodelan tsunami Selat Sunda akibat gempa magnitudo 8,7 yang dilakukan BMKG menunjukkan bahwa tsunami dapat sampai pantai Jakarta,” tulis Daryono lewat Instagram pribadinya (20/8).

Pemodelan yang dilakukan Daryono itu untuk menanggapi hasil pemodelan gempa yang dilakukan Ahli Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB). Ahli memperkirakan terjadi tsunami akibat gempa di kawasan Megathrust, selatan Jawa yang berpotensi capai Jakarta hingga menyapu istana.

Di samping itu Daryono mengungkapkan dengan adanya hasil kajian terkait potensi tsunami dampak gempa Megathrust di selatan Jawa yang berdampak hingga Jakarta, pihaknya selalu mengapresiasi tiap hasil riset potensi bencana dengan skenario terburuk agar masyarakat siap dan siaga.

Daryono menilai hasil riset semacam itu diperlukan untuk acuan mitigasi tsunami, sehingga perlu untuk dibuat skenario yang paling pahit agar penduduk siap walaupun belum diketahui kapan terjadi.

Dia mengimbau masyarakat untuk tidak panik akan pemodelan itu. Sebab kajian dibuat bukan untuk menakut-nakuti tetapi bertujuan mempersiapkan strategi mitigasi yang tepat dan efektif demi mengurangi risiko kerusakan dan korban jiwa.

Daryonomenyebut selat Sunda masuk dalam jalur Megathrust Selatan Jawa, yang melintang di selatan Sumatera hingga Sumba, termasuk pulau Jawa. Namun, ketika disinggung apakah tsunami akibat gempa Megathrust selatan Jawa bisa menyentuh Istana Negara, Daryono enggan berkomentar.

“Saya belum bisa komentar terkait landaan itu, karena hasil kami hanya sekitar 0,5-0,6 m di pantai Jakarta,” kata Daryono.

Selain itu, menurutnya jika gempa di jalur Megathrust selatan Jawa tidak terjadi di kawasan Selat Sunda, maka hanya minimal terjadi tsunami di Jakarta.
“[Efek] di pantai Jakarta bisa lebih kecil jika tidak pas (pusat gempa) di Selat Sunda,” kata dia.

Permodelan tsunami yang dilakukan Daryono diukur dari muka air laut rata-rata (mean sea level). Sehingga dalam kasus terburuk, jika tsunami terjadi saat pasang, maka tinggi tsunami disebut dapat bertambah.

Selain itu, ketinggian tsunami juga dapat bertambah jika permukaan di pesisir Jakarta turun. Menurut Daryono, pemodelan tsunami bersifat tak pasti (uncertainty) yang sangat tinggi.

“Hal ini disebabkan karena persamaan pemodelan sangat sensitif dengan data dan sumber pembangkit gempa yang digunakan,” ujar Daryono.

Daryono juga mengungkap sejarah bencana tsunami yang menyapu DKI Jakarta atau yang pada masa lalu dikenal sebagai Batavia.

Ia mengatakan tsunami pernah melanda Jakarta pada 27 Agustus 1883 akibat adanya erupsi katastropik Gunung Krakatau di Selat Sunda. Erupsi itu memicu tsunami hingga ketinggian lebih dari 30 meter.

“Erupsi katastropik ini menyebabkan runtuhnya badan Gunung Krakatau ke laut serta terjadinya kontak material erupsi yang panas dengan air laut sehingga memicu tsunami lebih dari 30 meter,” tulis Daryono lewat akun Instagram pribadinya, Senin (23/8).

Bataviaasch Handelsblad yang terbit pada 28 Agustus 1883, melaporkan tsunami tidak hanya menerjang Pulau Onrust, tetapi juga menerjang Pantai Batavia (Jakarta) dan Tanjung Priok. Pulau Onrust saat ini bagian dari gugusan pulau di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Sejak 1848, Daryono mengatakan Pulau Onrust dan sekitarnya difungsikan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai Pangkalan Angkatan Laut, namun sarana itu akhirnya rusak berat akibat diterjang gelombang tsunami 1883.

Tsunami menerjang daratan dan menghempaskan perahu-perahu di pesisir Batavia. Suasana di perkampungan Tionghoa di pinggiran sungai mendadak diliputi kepanikan akibat ketinggian air mendadak naik.

Baca Juga

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker