Momen Israel Nyaris Musnah di Perang Yom Kippur

Abadikini.com, JAKARTA – Pada 6 Oktober 2023, tepat 50 tahun Perang Yom Kippur penyebutan orang Israel atau Perang Oktober penyebutan orang Arab berlalu. Perang ini melibatkan tiga negara Mesir dan Suriah di satu pihak, Israel di pihak lain. Pada hari itu, Mesir dan Suriah menyerang Israel dari dua front berbeda secara bersamaan. Targetnya, merebut wilayah-wilayah yang diduduki Israel dalam Perang Enam Hari tahun 1967.

Dua negara Arab tersebut pernah bergabung menjadi satu negara pada tahun 1958-1961 dengan nama Republik Persatuan Arab. Dalam Perang Yom Kippur, pasukan Mesir menyerang Israel dari selatan, sedangkan Suriah dari utara.

Pasukan Mesir menyeberangi Terusan Suez, lalu menyerbu Semenanjung Sinai yang direbut Israel dalam Perang Enam Hari 1967. Sementara dari utara, pasukan Suriah menyerbu lewat Dataran Tinggi Golan.

Tepat pukul 14.00 pada 6 Oktober tahun itu, lima divisi pasukan Mesir berkekuatan total 100.000 tentara dan 1.350 tank bergerak menuju Semenanjung Sinai. Dari arah utara, 100 jet tempur MiG Suriah dan 600 artileri membombardir seluruh wilayah Golan yang diduduki Israel.

Seperti dilukiskan The Observer, tiga jam kemudian, satu batalion pasukan terjun payung Suriah mendarat di Gunung Hermon sisi Israel dan merebut pos pemantauan Angkatan Bersenjata Israel (IDF).

”Ini perang total dan kami akan kehilangan wilayah. Dalam 24 jam, Suriah hampir menguasai seluruh Dataran Tinggi Golan,” kata Brigadir Jenderal (Purn) Avigdor Kahalani (79), dalam wawancara dengan AFP di Tel Aviv, yang dipublikasikan pada Minggu (1/10/2023). Ia diwawancara terkait kenangannya pada perang, 50 tahun silam.

Kala itu, Kahalani berusia 29 tahun, berpangkat letnan kolonel (kavaleri). Ia menuturkan, serbuan mendadak Mesir dan Syria pada 6 Oktober benar-benar mengejutkan militer Israel. Dari segi kekuatan juga tidak berimbang. Di Dataran Tinggi Golan, ujar Kahalani, rasio tank Israel-Suriah adalah 1 banding 10.

”Tank-tank mereka pun lebih bagus daripada tank-tank kami,” kata dia.

Tentara Suriah menyerbu posisi-posisi pasukan Israel di Suriah dalam Perang Arab-Israel 1973 pada 29 Oktober 1973. Foto: AFP

Posisi Dataran Tinggi Golan sangat strategis. Penguasaan atas dataran itu adalah pertarungan hidup atau mati bagi Israel, Suriah, dan Lebanon. Jika menguasai Dataran Tinggi Golan, Israel bisa mengontrol keamanan dan sewaktu-waktu bisa menyerang Suriah dan Lebanon selatan. Demikian pula sebaliknya bagi Lebanon dan Suriah.

Jika Dataran Tinggi Golan jatuh, tinggal soal waktu saja, pasukan Suriah bergerak terus ke Lembah Sungai Jordan dan kemudian menyerbu Ibu Kota Tel Aviv dan Haifa. Andai ini yang terjadi, negara Israel bisa musnah.

”Saya tidak punya kata-kata untuk melukiskan perasaan bahwa semuanya bisa runtuh dan Anda mungkin tidak punya rumah lagi untuk tempat pulang dari medan pertempuran,” kenang Dudi Banith (79), anggota pasukan terjun payung Israel, kepada The Observer edisi 1 Oktober 2023.

Jika Dataran Tinggi Golan jatuh, tinggal soal waktu saja, pasukan Suriah bergerak ke Lembah Sungai Jordan dan kemudian menyerbu Ibu Kota Tel Aviv dan Haifa.

Dataran Tinggi Golan merupakan wilayah operasi pasukan elite Israel, yakni Brigade Golani Israel. Serangan mendadak itu dipilih Mesir dan Suriah berlangsung pada Yom Kippur, Hari Penebusan Dosa. Ini hari paling suci dalam agama Yahudi. Banyak prajurit Israel cuti dan kembali ke kampung halaman.

Pada hari itu, saat warga Israel termasuk tentaranya merayakan Yom Kippur, seluruh aktivitas berhenti. Tidak ada siaran radio maupun televisi. Toko-toko tutup. Sarana transportasi tidak beroperasi.

Kekuatan tak berimbang

”Kami hanya 12 orang dengan tiga tank, sementara di lembah bawah sana ada tiga brigade tentara Suriah dengan 177 tank,” kata Banith. ”Yang terjadi, setelah serangan dimulai, yang coba kami lakukan hanyalah menghentikan tentara Suriah jangan sampai masuk Galilee dan Lembah Jordan.”

”Dua hari kemudian, benar-benar terasa seperti di neraka. Kami kehilangan banyak saudara, kami kehabisan amunisi. Pada satu titik, musuh tinggal berjarak 350 meter,” lanjut Banith.

Adapun Kahalani menyebutkan, selama empat hari, ia dan rekan satu pasukannya makan sedikit dan hanya minum seadanya. Hanya tersisa beberapa peluru meriam di tank yang diawaki Kahalani.

Namun, setelah tiga hari pertempuran, Brigade Kavaleri yang dipimpin Kahalani membalikkan keadaan. ”Saya harus memimpin serangan untuk merebut kembali bukit demi bukit agar kami mampu menghentikan mereka,” tutur Kahalani.

Tentara Israel pada 12 Oktober 1973 mengambil posisi dengan menyiagakan persenjataan anti-pesawat di Dataran Tinggi Golan dalam Perang Arab-Israel 1973. Foto: AFP

”Dan kemudian datanglah sekitar 160 tank di jalur ini, sementara kami hanya punya 10 atau 12 (tank) yang harus menghentikan mereka,” lanjutnya.

Setelah pertempuran beberapa hari, pasukan Suriah mundur. Sejarawan mencatat, Kahalani sendiri melumpuhkan 45 dari 150 tank Suriah. Pada 1975 Kahalani dianugerahi Medali Keberanian, penghargaan tertinggi dalam militer Israel.

Dalam perang itu, Kahalani kehilangan saudaranya yang tewas bersama 2.600 prajurit Israel. Mesir dan Suriah kehilangan hampir 10.000 prajurit.

Perang berakhir pada 25 Oktober 1973. Pasukan Israel kembali menguasai Sinai dan Dataran Tinggi Golan. Perang hidup-mati bagi Israel itu diabadikan dalam serial film berjudul Valley of Tears yang diproduksi tahun 2020.

Pada 17 Oktober 1973, negara-negara Arab menerapkan taktik lain, yakni ”perang” dengan minyak. Negara-negara Arab yang tergabung dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengurangi produksi minyak mereka sebanyak 5 persen. Mereka juga menerapkan embargo minyak pada AS, sekutu dekat Israel.

Menurut Kahalani, belajar dari Perang Yom Kippur, Israel membangun sistem pertahanan modern, termasuk artileri pertahanan udara Iron Dome yang melindungi Israel dari berbagai serangan udara. Ia menyebut Perang Yom Kippur merupakan tamparan di wajah yang dibutuhkan Israel. Setelah memenangi Perang Enam Hari 1967, Israel sedang terlena dalam mimpi keunggulan militer di kawasan Timur Tengah.

”Tamparan di wajah Israel yang sangat dibutuhkan untuk bangkit,” kata Kahalani.

Perang Yom Kippur mendorong Israel melakukan modernisasi dan menjaga keunggulan teknologi Israel sekaligus menguatkan jaringan lobi Yahudi hingga di Asia Tenggara.

Keberlangsungan hidup bangsa Israel tidak terlepas dari keberadaan sayanim, yakni orang-orang berdarah Yahudi yang berada di seluruh dunia di luar Israel dan menjadi pembantu bagi keberlangsungan Negara Israel. Demikian pula keberadaan lobi Yahudi di Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker