4 Fenomena Astronomi Bakal Hiasi Langit pada Bulan Ini

Abadikini.com, JAKARTA – Fenomena astronomi kembali terjadi di langit pada pekan ketiga Juli 2021. Tercatat ada setidaknya 4 fenomena astronomi yang terjadi pada 19-25 Juli.

Melansir laman Instagram Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), berikut ini ulasannya 4 fenomea alam tersebut.

1. Konjungsi Bulan-Antares
Puncak konjungsi Bulan-Antares terjadi pada 20 Juli 2021 pada pukul 19.06 WIB. Fenomena ini dapat disaksikan sejak pukul 18.10 WIB dari arah timur-timur tenggara. Kemudian akan terbenam di arah barat-barat daya pukul 02.30 WIB.
Peneliti di Pusat Sains Antariksa Lapan, Andi Pangerang Hasanuddin mengatakan, Antares merupakan bintang paling terang ke-15 setelah Aldebaran. Bintang yang satu ini disebut Alfa Scorpii karena terletak dikonstelasi Scorpius.

2. Perige Bulan
Perige Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling dekat dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27 1/3 hari dengan interval dua perige Bulan yang berdekatan bervariasi antara 24 5/8 hingga 24 1/2 hari.

Perige Bulan di Juli 2021 terjadi pada 21 Juli pukul 17.34 WIB dengan jarak 364.546 km dari bumi, iluminasi 90,4% dan berada di sekitar konstelasi Ofiukus.
Perige Bulan ini dapat disaksikan sejak pukul 15.00 WIB dari arah timur-tenggara dan terbenam keesokan harinya di barat-barat daya sekitar pukul 04.00 WIB.

3. Perihelion Merkurius
Perihelion secara umum adalah konfigurasi ketika planet berada di titik terdekat dari Matahari
Perihelion Merkurius terjadi setiap rata-rata 88 hari sekali atau dalam setahun terjadi empat kali. Perihelion Merkurius di bulan ini terjadi pada 27 Juli 2021 pukul 08.04 WIB dengan jarak 46 juta kilometer dari Matahari.
Sebelumnya, fenomena ini terjadi pada 29 Januari dan 27 April dan seri berikutnya akan terjadi pada 20 Oktober 2021. Lebar sudut Merkurius jika diamati dari bumi ketika perihelion 26,6% lebih besar dibandingkan ketika aphelion, meskipun perbedaanya tidak begitu signifikan ketika diamati melalui teleskop.

4. Fase Bulan Purnama

Fase Bulan Purnama terjadi ketika matahari, bumi dan bulan ada pada satu garis lurus sama seperti saat fase new moon. Namun, posisi bulan yang diterangi matahari menghadap bumi.

Konfigurasi ketika Bulan terletak membelakangi Matahari dan segaris dengan Bumi dan Matahari. Mengingat orbit bulan yang membentuk sudut 5.1 derajat terhadap ekliptika. Puncak fase Bulan Purnama ini terjadi pada 24 Juli pukul 09.36 WIB dengan jarak 364.546km dari bumi.

Bulan purnama dapat disaksikan selama dua hari berturut-turut yakni pada malam sebelum 23 Juli dan kemudian berkulminasi keesokan harinya. Selain itu, Bulan Purnama dapat disaksikan pada 24 Juli malam hari setelah terbenam matahari.

Baca Juga

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker