Modus Kawin Ghaib, Arya Si Pimpinan Aliran Sesat Hakekok Gauli Pengikutnya

Abadikini.com, PANDEGLANG – Polisi mengamankan belasan orang pengikut ajaran sesat Hakekok saat mandi bareng tanpa busana di areal perkebunan sawit milik PT GAL di Desa Karang Bolong, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (11/3/2021).

Dalam penangkapan itu, polisi juga mengamankan barang bawaan para pengikut aliran sesat tersebut. Dalam tas yang diamankan oleh polisi, ditemukan benda yang diyakini oleh sebagai jimat.

Selain itu polisi menemukan alat kontrasepsi berupa kondom merk Sutra serta uang tunai Rp 75 ribu milik salah seorang pengikut Arya, pimpinan aliran Hakekok Balakastu yang diduga sudah ada di Pandeglang sejak tahun 2009 lalu itu.

”Betul barang itu milik salah satu pengikut aliran sesat yang berhasil diamankan,” kata polisi.

Sebuah video berdurasi 2 menit 16 detik yang beredar di kalangan wartawan juga memperlihatkan seorang petugas tengah memeriksa barang bawaan pelaku ritual dan di dalam tas ditemukan kondom serta jimat.

Wakapolres Pandeglang Kompol Riky Crisma Wardana, Kamis (11/3/2021), menyatakan ajaran kelompok ini mengadopsi ajaran Hakekok. Saat ini, pemimpin mereka Arya beserta kelompoknya sedang diperiksa untuk mendalami motif dan tujuannya melakukan kegiatan tersebut.

Ajaran Hakekok dianggap sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena memperbolehkan kaum lelaki dan kaum perempuan bercampur saat shalat. Shalatnya pun dilakukan di tempat gelap.

Berdasarkan informasi yang beredar, aliran Hakekok Balakasuta ini kali pertama dibawa oleh seorang tokoh yang sudah almarhum berinsial E.

Aliran ini dikembangkan di Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Bogor oleh AE hingga ajaran ini sampai ke A (52) warga Kecamatan Cimanggu dan dikembangkan di sana.

Aliran Hakekok sudah lama muncul di Pandeglang Banten. Aliran ini pernah dikembangkan di padepokan atau majelis zikir di Desa Sekon, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang.

Pada 2009, padepokan ini dibakar warga karena diduga mengajarkan aliran sesat kepada para muridnya.

Kala itu, polisi menyebut padepokan milik Kasrudin sudah berdiri selama lima tahun. Kebanyakan santrinya berasal dari Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

Keberadaan padepokan tersebut membuat warga setempat resah. Puncaknya, warga secara spontan membakar padepokan tersebut.

Warga setempat emosi karena pimpinan padepokan, Kasrudin sering menggauli wanita pengikutnya dengan modus perkawinan ghaib.

Dua anak tiri Kasrudin disebut-sebut turut menjadi korban kawin ghaib.

Seorang perempuan bernama Diah Atian Susanti (45) juga menjadi korban Kasrudin. Diah tinggal serumah dengan Kasrudin tanpa ikatan pernikahan.

Menurut Cepi, warga sekitar, kawin ghaib diduga dilakukan oleh Kasrudin dan pengikutnya yang umumnya adalah warga Jakarta.

Empat tahun setelah pembakaran padepokan milik Kasrudin, aliran Hakekok muncul lagi di Pandeglang.

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button