Penjualan Klub Sepak Bola Israel Beitar Jerusalem ke Kerajaan UEA Dibekukan

Abadikini.com, JAKARTA – Asosiasi Sepak Bola Israel pada Kamis (10/2/2021) membekukan penjualan 50 persen saham Beitar Jerusalem kepada pengusaha UEA dan kerajaan Hamad bin Khalifa Al Nahyan, membuat masa depan klub sepak bola terkenal itu semakin suram.

Mengutip dari Middle East Eye, Jumat (12/2/2021), pada bulan Desember 2020 lalu, kerajaan Emirat setuju untuk membeli setengah klub seharga 300 juta shekel (hampir $ 92 juta) dari Moshe Hogeg, CEO Beitar Jerusalem.

Namun, bulan lalu pengalihan hak kepemilikan ke Hamad bin Khalifa menemui hambatan, ketika Asosiasi Sepak Bola Israel membuka penyelidikan atas kesepakatan itu dan mengajukan pertanyaan tentang “kesenjangan yang signifikan” dalam situasi keuangan Emirat.

Asosiasi Sepak Bola mengatakan pada hari Kamis (10/2) bahwa Beitar Jerusalem telah menarik permintaannya untuk mentransfer 50 persen saham ke Hamad bin Khalifa dan bahwa Hogeg tetap menjadi pemilik tunggal Beitar – tetapi dapat mengajukan aplikasi baru di masa depan, seperti dilaprkan media Mako.

Tiga pekan lalu, Beitar sudah mendapat perpanjangan penyerahan dokumen yang hilang dalam lamarannya yang habis masa berlakunya pada Minggu.

Pada bulan Januari, media olahraga Israel melaporkan bahwa Hamad bin Khalifa gagal memberikan sertifikat asli dari polisi Dubai yang membuktikan bahwa ia memiliki catatan kriminal yang jelas. Sebagai gantinya, kerajaan menyerahkan salinan paspor diplomatiknya bersama pernyataan tertulis dengan tanda tangannya yang menyatakan bahwa dia tidak memiliki catatan kriminal, seperti diberitakan situs berita olahraga Ibrani One.

Menurut surat kabar bisnis The Marker, Asosiasi Sepak Bola Israel mengatakan kekayaan yang dinyatakan Hamad bin Khalifa adalah $ 1,6 miliar, tetapi sekitar $ 1,5 miliar itu merupakan obligasi non-tradeable yang terkait dengan pemerintah Venezuela. Negara Amerika Selatan berada di bawah sanksi AS dan memiliki ekonomi yang runtuh.

Obligasi Hamad bin Khalifa yang tidak dapat diperdagangkan dianggap tidak berguna, menurut Megiddo, sebuah perusahaan intelijen keuangan yang disewa oleh Asosiasi Sepak Bola.

The Marker juga melaporkan bahwa aset Hamad bin Khalifa, beberapa di antaranya berada di Lebanon, Abu Dhabi dan Dubai, pada kenyataannya memiliki nilai yang lebih rendah daripada yang dinyatakan di buku.

Hogeg mengkritik Asosiasi Sepakbola, menuduhnya “menyabotase” kesepakatan dengan bin Khalifa dan merugikan klub dengan “merekrut sebuah perusahaan investigasi dan membocorkan informasi yang bias dan menyesatkan atas namanya”.

Pernikahan antara Beitar Jerusalem dan seorang bangsawan Emirat selalu terasa aneh.

Penggemar Beitar Jerusalem terkenal dengan nyanyian rasis terhadap orang Palestina, Arab, dan Muslim.

Ini adalah satu-satunya klub di Liga Premier Israel yang tidak pernah memiliki pemain dari komunitas Palestina di Israel, yang terdiri dari 20 persen populasi negara itu.

Meskipun sebagian pendukung klub menyambut baik kesepakatan itu, berharap itu akan menghidupkan kembali nasib buruk Beitar, yang lain melakukan protes yang menyerukan agar pengambilalihan Emirat dibatalkan.

Baca Juga

Back to top button