Trending Topik

Akui Melanggar Tradisi Ini, PM Mongolia Mundur

Abadikini.com, JAKARTA – PM Mongolia Khurelsukh Ukhnaa mengundurkan diri pada, Kamis (21/1/2021) setelah kurang lebih 5 ribu warga demo terkait pemindahan seorang ibu pasien Covid-19 yang dilinai tidak dengan cara manusiawi.

Kemarahan warga Monglia semakin meningkat ditambah lagi dengan adanya sebuah siaran TV menunjukkan seorang wanita yang baru melahirkan dipindahkan ke pusat penyakit menular hanya dengan mengenakan piyama rumah sakit dan sandal plastik di tengah suhu -25 derajat Celcius.

Rekaman video memperlihatkan wanita itu berada di ambulans sambil menggendong bayinya.

Video itu lantas menyulut kritik keras, terutama karena tradisi dan adat istiadat suku Mongolia mengharuskan ibu baru mealhirkan menghindari cuaca dingin dan makanan dingin selama bulan pertama usai melahirkan.

Melansir AFP, sekitar kurang lebih 5 ribu demonstran pun berkumpul pada Rabu (20/1) di alun-alun di seberang gedung-gedung pemerintah di ibu kota Ulan Bator, beberapa dari mereka membawa barang yang dibungkus menyerupai bayi.

Seorang warga bernama Ulziibayar Purevsuren (30) memegang spanduk bertuliskan “mengundurkan diri”

Menanggapi aksi protes, PM Ukhnaa kemudian meminta maaf atas nama pemerintah dan mengatakan dia akan segera mundur.

“Sayangnya, kami membuat kesalahan saat merelokasi ibu itu. Sungguh memilukan melihat bagaimana dia diperlakukan. Sebagai perdana menteri, saya harus bertanggung jawab,” ujarnya.

Di hari yang sama, pada Rabu (20/1) malam, wakil PM sekaligus kepala komisi darurat nasional yang menangani pandemi telah lebih dulu mengundurkan diri, diikuti oleh menteri kesehatan.

Ketika perdana menteri mundur, Presiden Battulga Khaltmaa tetap menjabat sebagai kepala negara.

Aksi protes yang terjadi pekan ini adalah demonstrasi terbaru atas penanganan pemerintah Mongolia terhadap wabah virus corona atau Covid-19.

Setelah memberlakukan kontrol perbatasan ketat, Mongolia tahun lalu hanya melaporkan segelintir kasus Covid-19. Tapi pada November belakngan ini, muncul gelombang baru infeksi dari transmisi domestik hingga memaksa negara melakukan lockdown dan pembatasan.

Pembatasan perjalanan antar provinsi telah diberlakukan sejak November lalu, hingga menyebabkan sekitar 80 ribu orang terdampar di ibu kota.

Banyak dari mereka mengeluhkan lambatnya proses pengujian karena mereka harus menunggu berpekan-pekan hanya untuk dites sebelum diperbolehkan kembali ke rumah. Beberapa dari mereka bahkan harus tidur di mobil karena hotel ditutup akibat lockdown.

Sejauh ini, tercatat berdasarkan data pemerintah setempat ada kurang lebih 1.584 kasus terinfeksi positif Covid-19 di negara di bagian kawasan asia tumur itu.

Back to top button