Wah, Bareskrim Tetapkan Rizieq Shihab, Mantu dan Dirut RS Ummi Jadi Tersangka

Abadikini.com, JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri menetapkan Habib Rizieq Shihab, Menantu Muhammad Hanif Alatas dan Direktur Utama (Dirut) RS Ummi Bogor dr Andi Tatat sebagai tersangka.

Penetapan tersang itu terkait dengan kasus dugaan pidana menghalangi atau menghambat penanganan wabah penyakit menular terkait pengambilan uji swab.

“Dari hasil gelar perkara, penyidik menetapkan tiga orang sebagai tersangka, Rizieq, dr Tatat dan Hanif Alatas,” kata Andi kepada wartawan, Senin (11/1).

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, polisi berencana melakukan pemeriksaan terhadap mereka.

“Minggu ini rencananya (pemeriksaan),” imbuh lulusan Akpol 1991 ini.

Sebelumnya, RS Ummi Bogor dilaporkan Satgas Covid-19 dengan nomor LP/650/XI/2020/JBR/POLRESTA BOGOR KOTA. Adapun pasal yang disangkakan yakni Pasal 14 Ayat 1, 2 UU Nomor 4 Tahun 1984

Dalam laporannya, RS Ummi Bogor diduga menghalangi atau menghambat Satgas dalam penanganan atau penanggulangan wabah penyakit menular Covid-19 yang akan melakukan swab tes terhadap salah satu pasiennya yang diduga terpapar Covid-19 yakni Habib Rizieq.

RS Ummi Kota Bogor dinilai tidak memberikan penjelasan yang utuh terkait protokol proses penanganan terhadap pasien tersebut.

Sementara itu, Pengacara Rizieq, Muhammad Kamil Pasha menilai penetapan tersangka yang bertubi-tubi terhadap kliennya seperti kisah dalam novel 1984 karya George Orwell.

Menurut dia, Rizieq ibarat target operasi dari dua karakter di novel itu, yakni Bung Besar atau Big Brother dan Ministry of Truth.

“Jadi akan dicari-cari atau diada-adakan terus kesalahannya oleh Big Brother dan Ministry of Truth,” kata Kamil seperti dikuti dari Tempo, Senin (11/12021).

Dalam Novel itu, kata Kamil, Big Brother dan Ministry of Truth memiliki tujuan untuk membentuk opini dan cara berpikir masyarakat yang sesuai dengan visi partai. Melalui kewenangan yang dimilikinya, ujar dia, mereka membuat masyarakat tidak mengetahui lagi bagaimana kehidupan yang sebenarnya, dari masa lalu hingga masa kini.

“Mereka tidak mengetahui sejarah secara jelas, alasannya tak lain karena partai membolak-balik realitas dengan mengubah dan membentuk kebenaran sesuai dengan kehendak partai itu sendiri,” kata Kamil.

Baca Juga

Back to top button