Serem, Ingin Kaya Gunakan Pesugihan Pocong

Abadikini.com, JAKARTA – Suatu ketika, Sarwini bersama kawan-kawan semasa SMA-nya hendak mencari penjual bakso. Usai capek berjalan-jalan di pusat kota, mereka lelah dan hendak beristirahat sambil menikmati bakso.

“Cuaca panas begini enaknya istirahat sambil makan bakso,” kata Sarwini.

“Ide bagus! Kuy lah jangan pakai lama,” kata temannya menimpali.

Lima orang itu kemudian berkeliling di sekitaran pasar kota dan mencari penjual bakso. Mereka tak punya referensi di manakah tukang bakso yang enak. Alhasil, mereka menggunakan insting saja. Di mana ada warung ramai, di situlah bakso terenak.

Tak butuh waktu lama, mereka tertarik pada sebuah warung penjual bakso yang sangat ramai pengunjung. Turun dari mobil, mereka mendatangi si penjual bakso yang sedang sibuk melayani pembeli.

Seorang teman Sarwini, Indah, merasa tak enak hati saat masuk ke warung tersebut. Ia memang dikenal punya indera keenam di kalangan teman-temannya.

Namun, mengingat hari itu adalah hari bahagia, ia tak mau banyak cerita. Ia berusaha membaur dan berpura-pura seakan tak terjadi apa-apa.

“Ada apa?” tanya Sarwini memecah lamunan Indah.

“Tidak apa-apa,” jawab Indah.

Lima sahabat itu kemudian duduk menunggu pesanan mereka sampai. Sembari menunggu, pandangan Indah memerhatikan sekitar, mengitari seluruh ruangan warung seperti mencari sesuatu.

Indah masih tetap berusaha agar temannya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Itu yang menyulitkan Indah. Saat hatinya merasa tak tenang, ia harus tetap menjaga agar suasana tidak berubah.

Ketika pandangan Indah sampai di sudut pintu masuk, ia agak berhenti, seperti memastikan apa yang dilihatnya. Namun, ia sedikit tak yakin. Ia melihat sejulur kain putih yang mengurai panjang.

“Ah, barangkali kain biasa atau gorden,” pikir Indah.

Ia menghentikan “pengawasannya” pada warung tersebut dan kembali membaur dengan obrolan teman-temannya. Ia masih berusaha agar tak terjadi apa-apa.

Belum lagi ia mendengar apa yang dibicarakan kawan-kawannya, ia tersadar akan sesuatu. Masih mengenai untaian kain putih yang menjulur di pintu masuk yang ia lihat barusan.

Sepertinya itu bukan kain, pikir Indah. Dengan menyentak, Indah kembali menengok ke sudut pintu warung yang ia perhatikan barusan. Pandangannya lalu berfokus pada si kain putih.

Betapa kagetnya ia ketika melihat ternyata itu bukan kain putih biasa. Tepat di ujung kain, ada wajah yang sedang memerhatikan para pengunjung. Itu bukan kain, itu pocong.

Seketika Indah memejamkan matanya sambil menahan tangis. Entah apa yang membuatnya merasa ingin menangis. Teman-teman Indah seketika menyadari ada yang tidak beres.

“Indah, kenapa?”

Tak lama kemudian Indah ambruk tak sadarkan diri. Ia pingsan saat pesanannya belum juga tiba. Kelima sahabat itu kemudian membawa Indah masuk ke dalam mobil dan membatalkan rencana menyantap bakso bersama.

***

Betapa takutnya Astri ketika suaminya, Kelik, kerasukan oleh jin sewaan mereka. Mereka gagal dalam sebuah amalan pesugihan. Mereka melanggar sebuah syarat yang diberikan jin yang mereka sewa sendiri.

“Aku tak mau dilihat orang. Kau telah melanggar,” kata jin tersebut bicara melalui tubuh Kelik.

Astri hanya menangis memohon ampun. Namun, jin tersebut tak bergeming. Ia tetap meluapkan amarahnya. Kelik, yang sudah kerasukan sebuah sosok gaib, melekatkan kedua tangannya seperti jenazah.

Dengan posisi tertidur dan tangan saling menumpuk di atas perut, Kelik terus bicara, atau si jin itu terus bicara. Ia mengatakan tak hanya akan pergi, tapi juga akan menghabisi pasangan suami istri penjual bakso itu.

Astri terus memohon ampun, bahkan sampai tersujud-sujud. Ia ingin diberikan lagi kesempatan dan berjanji tak akan mengulangi lagi. Namun, sebuah perjanjian pesugihan dengan makhluk lain, tidak bisa ditawar-tawar.

Makhluk itu, yang bersemayam dalam tubuh Kelik, kemudian bangun dan meludahi wajah Astri. Seketika Kelik ambruk dan tak sadarkan diri. Giliran Astri yang menumpuk tangannya.

Astri yang tampaknya kerasukan makhluk itu kemudian bergantian meludahi wajah Kelik yang sedang tak sadarkan diri. Mereka kemudian sama-sama ambruk.

Esok harinya, keduanya dikabarkan mengidap penyakit langka yang sulit disembuhkan. Gejalanya aneh. Tubuh memerah seperti terbakar dan pandangan kabur.

Sepasang suami istri itu terus mengidap penyakit aneh tersebut hingga akhir hayatnya.

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama tokoh dan latar merupakan kebetulan.

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button