Save Remaja dan Kawula Muda Milenial di Era New Normal

Abadikini.com, MALANG – Himpunan Mahasiswa Program Studi (Hima Prodi) Pendidikan Sarjana Terapan Keperawatan & Profesi Ners, Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang menggelar Diskusi Ilmiah Nasional via media daring Zoom. Dengan tema, “Save Remaja dan Kawula Muda Milenial Serta New Life Style di Era New Normal”.

Salah satu pembicara di diskusi tersebut, Dosen pada Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Tri Anjaswarni, yang kebagian mendapatkan sub tema, “Remaja dan Kawula Muda Milenial Serta Kesiapannya Memasuki Era New Normal dengan Gaya Hidup Baru.

Tri Anjaswarni memaparkan, pentingnya pembahasan tentang remaja di masa pandemi Covid-19 dikaitkan dengan Bonus Demografi. Selanjutnya, ia memaparkan hasil survey kesiapan remaja memasuki New Normal dan New Life Style di masa New Normal.

Bonus Demografi adalah kondisi suatu wilayah, dimana usia produktif lebih banyak dibanding usia non produktif. Disebut Bonus, karena hanya terjadi sekali dalam beratus-ratus tahun & tidak bertahan lama.

Menurut BKKBN, usia produktif adalah penduduk yang berusia antara 14-65 tahun. Mereka dianggap produktif karena dinilai sudah bisa bekerja dan menghasilkan uang.

Sedangkan usia 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas termasuk dalam kelompok yang dianggap tidak memadai sebagai manusia produktif. Lebih lanjut menurut BKKBN bahwa, penduduk yang usia produktif mencapai 70 % mulai tahun 2020, dan inilah yang akan menjadi kekuatan bangsa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

“Kapankan Bonus Demografi akan dimulai? Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) periode bonus demografi Indonesia dimulai tahun 2020 dan akan terus berlangsung sampai dengan tahun 2045.

“Dalam rentang 25 tahun, penduduk usia produktif Indonesia jauh lebih banyak daripada penduduk bukan usia produktif dan hal ini akan mempengaruhi tingkat ketergantungan penduduk yang diperkirakan mencapai tingkat ketergantungan terendah yaitu 46,9% pada tahun 2030,” ungkap Tri, sapaan akrabnya. Rabu, (10/6/2020).

Berdasarkan hal ini, maka Tri menjelaskan bahwa, siapakah Generasi Emas menuju Indonesia Emas pada tahu 2045? Mereka adalah kelompok remaja dan kawula muda generasi milenial saat ini. Yaitu mereka yang lahir pada tahun 1980 sampai dengan tahun 2000 (berusia 20-40 tahun).

“Merekalah yang akan berperan dalam menciptakan perubahan-perubahan dan meningkatkan perekonomian bangsa, meneruskan estafet kepemimpinan bangsa, meneruskan cita-cita bangsa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” imbuhnya.

Tri menjelaskan bahwa, remaja dan kawula muda milenial adalah aset bangsa. Remaja adalah penentu masa depan bangsa. Dan generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas.

“Di pundak para remaja dan kawula muda, generasi milenial dan generasi emas inilah kita sangat menaruh harapan yang tinggi agar mereka menjaga dan meneruskan cita-cita bangsa Indonesia menuju kejayaan,” ujar Tri yang pemerhati kesehatan remaja tersebut.

Akan tetapi, diia, pada saat Indonesia menyiapkan diri masuk pada Bonus Demografi di tahun 2020, dan penataan diri menuju Indonesia Emas 2045, badai virus corona menghadang dan mengancam kesehatan seluruh rakyat Indonesia. Termasuk ancaman buat para remaja dan kawula muda Indonesia yang sedang bersiap diri menuju Indonesia Emas 2045.

“Sanggupkah remaja mengamankan dirinya untuk survive di tengah pandemi corona ini? Dan sanggupkah kita para orang tua dan pemerhati kesehatan remaja mengamankan mereka, agar mereka aman dan tetap survive sehingga dapat meneruskan perjuangan bangsa menuju Indonesia Emas,” tanya Tri.

Lebih lanjut, Tri menegaskan bahwa, remaja dan kawula muda milenial adalah garda terdepan penyelamat masa depan bangsa Indonesia.

Terkait hasil survey kesiapan remaja dan kawula muda milenial memasuki era New Normal dengan perilaku baru sebagai gaya hidup baru. Tri membahasnya dalam 6 kelompok kesiapan, yaitu kesiapan untuk melakukan physical distancing (menjaga jarak fisik), sosial distancing (menjaga jarak sosial).

Selanjutnya, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), meningkatkan kesehatan dan imunitas tubuh, selalu menggunakan masker dan tinggal di rumah (stay at home) sesuai protokol kesehatan Covid-19.

Survey untuk mengukur kesiapan menggunakan rentang sangat siap, siap, tidak siap dan sangat tidak siap. Berdasarkan hasil survey terhadap para remaja dan kawula milenial menunjukkan bahwa, sebagian mereka belum sangat siap.

“Sebagian dari mereka menunjukkan kesiapan yang biasa, bahkan ada yang tidak siap dan sangat tidak siap. Untuk remaja dan kawula muda yang sangat siap untuk menerapkan perilaku baru sebagai gaya hidup baru (New lifestyle).

Merupakan hal yang sangat baik dan menjadi modal bagi mereka untuk bisa sehat dan survive pada saat memasuki Era New Normal,” ungkap perempuan yang raih gelar Doktornya di Universitas Airlangga (Unair).

Akan tetapi, kata Tri, bagi mereka yang kesiapannya masih kurang, atau bahkan tidak siap atau bahkan sangat tidak siap. Hal ini adalah ancaman bagi mereka, dan berpotensi untuk tertular karena kurang patuh dalam mengimplementasikan gaya hidup baru sesuai standar dan protokol kesehatan dalam pencegahan Covid-19.

Abadikini.com, -JAKARTA – Lanjut Tri, bahwa Era New Normal adalah penyesuaian pola kehidupan lama kepada pola kehidupan baru dengan pola perilaku baru sebagai gaya hidup baru (new lifestyle) dengan mengacu pada protocol kesehatan.

“Kita semua tidak akan bisa kembali pada pola kehidupan dengan perilaku lama saat sebelum pandemi Covid-19. Tetapi kita harus berubah dan menyesuaikan diri dengan pola perilaku baru dalam kehidupan kita dan menjadikan perilaku baru tersebut sebagai gaya hidup baru (new lifestyle),” pungkas Tri.

Adapun gaya hidup baru yang harus diterapkan adalah jaga jarak 1-2 meter, tidak jabat tangan, tidak cipika cipiki, hindari nongkrong bareng, nonton bareng, atau ngopi bareng dengan gaya kumpul sebagai gaya khas remaja.

“Selalu berjemur dan olah raga di pagi hari, istirahat cukup dan makan makanan yang sehat. Selalu cuci tangan menggunakan sabun atau membawa handsanitizer saat bepergian, selalu mandi dan mencuci pakaian setelah aktivitas di luar rumah,” imbaunya.

Yang juga menjadi gaya hidup baru yang harus diimplementasikan adalah selalu menggunakan masker dan menggantinya setiap 4 jam saat keluar rumah. Jika tidak ada aktivitas penting, biasakan untuk selalu stay at home dan melakukan aktivitas melalui media daring.

“Perilaku baru sebagai new life style ini diperlukan kesadaran dari para millenial dimanapun berada; di rumah, lingkungan teman sebaya, sekolah, kampus, tempat kerja, dan masyarakat,agar survive dan mampu menjadi generasi Emas menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Tri.

Perlu diketahui, Tri Anjaswarni sebagai narasumber tidak sendirian. Hadir juga narasumber dari Mahasiswa Prodi Pendidikan Sarjana Terapan Keperawatan & Profesi Ners Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Firdaus Khumairoh. Dengan sub tema, “Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Remaja di Masa Pandemi Covid-19”.

Khumairoh menjelaskan bahwa berdasarkan hasil Survey Nasional melalui google form kepada remaja dan Kawula Muda sejumlah 1027 responden didapatkan bahwa mayoritas remaja telah memahami cara penularan covid-19 yaitu melalui percikan cairan (droplet) yang keluar melalui mulut orang yang telah terinfeksi virus pada saat batuk, bersin atau bicara,” ungkapnya.

Firdaus menambahkan, hasil survey pengetahuan terkait cara penularan ini sangat baik dan dipahami remaja sehingga diharapkan remaja terus menjaga dan melakukan perlindungan diri dengan selalu menggunakan masker dan mengedukasi orang lain agar selalu menggunakan masker serta melakukan protokol kesehatan lain untuk mencegah penularan Covid-19 seperti selalu mencuci tangan, jaga jarak sosial, menjaga jarak fisik, menjaga kebersihan diri, meningkatkan kesehatan dan stay at home,” tutup Firdaus.

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close