Terjadi Kericuhan Antara Anggota TNI dan Warga di Karo Sumut, 10 Orang Terluka

Abadikini.com, JAKARTA – Kericuhan di SPBU yang ada di Desa Merek, Kecamatan Merek, Karo, Sumatera Utara (Sumut), berbuntut pada tindak kekerasan. Sejumlah warga terluka dipukuli puluhan personel TNI dari Batalyon 125/Simbisa.

Insiden ini terjadi di sekitar kantor polisi yang ada di Desa Merek, Senin (20/4) malam. “Lebih dari 10 orang warga yang terluka. Sempat dirawat di rumah sakit, tapi sekarang sudah pulang,” kata warga Desa Merek yang tak ingin disebutkan namanya.

Kepala Penerangan Kodam I Bukit Barisan (BB) Kolonel Inf Zeni Djunaidhi saat dikonfirmasi membenarkan insiden di Desa Merek. Namun dia berharap peristiwa itu tidak dibesar-besarkan agar tidak memperkeruh suasana.

Pihak Kodam I Bukit Barisan pun masih menyelidiki peristiwa itu. Pihak-pihak yang bersalah akan ditindak tegas. “Kami masih melakukan penyelidikan,” katanya.

Baik Kapendam I Bukit Barisan maupun warga sama-sama menyatakan insiden itu berawal dari kejadian di SPBU. Namun, versinya kedua pihak tidak sepenuhnya sama.

Menurut laporan awal yang diterima Zeni, kejadian ini merupakan buntut keributan antara sekelompok pemuda yang diduga sebagai preman dengan satpam SPBU tiga hari sebelumnya. Para pemuda itu tidak terima dibubarkan sehingga terjadi keributan.

“Tiga hari kemudian terjadi lagi. Si satpam ini kemudian menghubungi personel 125. Datanglah dia dengan gagah perkasa karena kan mau melindungi warga,” jelasnya.

Para pemuda itu pergi. Namun lanjut Zeni, ternyata mereka kembali membawa rekan-rekannya. Personel Batalyon 125 itu dikeroyok hingga terluka. “Ada CCTV di SPBU yang sedang didalami polisi,” sebutnya.

Sementara menurut warga, personel Batalyon 125 yang diduga sebagai pengawas tempat itu menodong seorang pemuda desa dengan pistol. “Anak itu dibawa ke kamar mandi lalu ditodong pistol,” jelas warga.

Dia melanjutkan, pemuda yang ditodong itu ketakutan dan pulang memanggil ayahnya. Mereka bersama warga kemudian datang ke SPBU itu.

Si warga mengaku tidak mengetahui pasti ada tidaknya tindakan kekerasan terhadap personel Batalyon 125. Namun pria itu diamankan ke kantor polisi setempat. Warga ingin dia diproses karena telah bertindak arogan dan menodongkan senjata api.

Dari kantor polisi, kata warga, mereka sempat menghubungi pihak Polisi Militer. Namun personel TNI yang diamankan itu diduga juga membuat laporan kepada teman-temannya. Tak lama berselang datang personel Provost Batalyon 125. Mereka tiba bersama puluhan personel berseragam lengkap. “Mereka naik satu truk, kalau tak salah masih ada dua mobil lagi,” ucap warga.

Dikutip dari Merdeka.com, Zeni membenarkan personel Batalyon 125 datang menggunakan truk dan minibus. “Benar ada satu truk, juga ada minibus,” jelasnya.

Menurut warga, personel dengan seragam TNI lengkap itu membabi-buta memukuli warga yang ada di lokasi. Tidak pandang bulu. Kepala desa setempat yang mencoba melindungi warganya pun sempat kena tendang sebelum akhirnya dilindungi petugas kepolisian setempat.

Warga pun berlarian. Ada yang masuk rumah, sebagian bersembunyi. “Ngeri memang kejadian malam itu. Macam teroris kami dibuat orang itu. Kami trauma, terutama mamak-mamaknya,” papar seorang warga.

Zeni menyatakan tindak kekerasan itu terjadi karena kesalahpahaman semata. Saat personel Batalyon 125 tiba, sebagian warga lari. “Kalau dia tidak bersalah, tentu dia tidak lari. Jadi dikejarlah, ditangkap dan melakukan perlawanan, terjadilah kekerasan itu,” sebutnya.

Begitupun, lanjut Zeni, pihaknya masih mengumpulkan informasi lengkap terkait kejadian itu. Korban luka pun masih didata untuk dilakukan langkah-langkah yang baik, termasuk memberikan hak-haknya.

Sementara warga berharap personel yang melakukan tindakan arogan dan kekerasan kepada rakyat harus ditindak tegas. “Kami menduga laporan yang disampaikan kepada teman-temannya tidak benar, sehingga begitu datang mereka langsung memukuli warga. Selain itu, kami minta pihak SPBU juga harus bertanggung jawab, jangan karena punya uang mereka bisa semena-mena,” ucap seorang tokoh masyarakat setempat yang juga tidak mau disebutkan namanya.

Saat ini kondisi di Desa Merek sudah kondusif. Keadaannya aman terkendali. Warga sudah bermusyawarah untuk menyikapi kejadian itu. Mereka pun telah bertemu pihak Kepolisian dan TNI untuk membicarakan langkah-langkah terbaik bagi semua pihak. “Masih trauma kami, tapi sebagian warga sudah berani pergi ke ladang,” sebut tokoh masyarakat itu.

Baca Juga

Back to top button