Politik Dua Muka dalam Pandangan Islam

Abadikini.com, JAKARTA – Islam merupakan ajaran agama yang lengkap. Islam mengatur berbagai hal, termasuk ilmu pemerintahan. Islam melarang tindakan munafik melalui memuji di depan penguasa dan bertindak lain di belakangnya.

Ada hadits yang mengisahkan tindakan itu seperti dikutip dari Syarah Shahih Al-Bukhari jilid ke-10. Berikut kisah lengkapnya :

Abu Nu’aim memberitahukan pada kami, Ashim bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar telah memberitahukan pada kami dari ayahnya, ia berkata “Beberapa orang berkata pada Ibnu Umar, “Dahulu jika kami menemui penguasa kami, maka kami mengatakan sesuatu yang berbeda pada saat kami telah meninggalkannya.” Maka Ibnu Umar berkata “Kami menganggap itu adalah suatu kemunafikan.”

Larangan di sini menunjukkan keharaman karena perbuatan seperti ini merupakan kemunafikan. Bahkan tindakan itu justru menutup mata penguasa atas kesalahannya.

“Seseorang menghadap penguasa, menteri, pejabat lalu memuji sehingga mereka merasa menunaikan kewajibannya dan tidak sadar atas kesalahannya karena terlena pujian itu,” tulis buku tersebut.

Dari tafsiran hadits itu dinyatakan seseorang yang melakukannya dianggap salah karena dusta dan menipu penguasa. Orang semacam itu pun juga membiarkan penguasa atas ketidakadilannya.

Tindakan kemunafikan itu disadari atau tidak sudah ada sejak zaman dahulu hingga hari ini. Misalnya ada sebagian orang yang memuji langkah penguasa di depannya. Tapi ketika tak berada bersama penguasa, maka mereka mencela dan mengkritik tajam.

Tak terkecuali di Indonesia yang menganut budaya tidak enakan ketika mengkritik pemimpin. Padahal ternyata penguasa dianjurkan menerima kritik sebagai bentuk masukan demi pemerintahan yang lebih baik.

Pemimpin tak seharusnya membalas kritikan dengan tangan besi, misalnya memenjarakan si pengkritik.

Terakhir, ada pesan yang begitu tepat dari hadits yang diangkat Imam Al Bukhari dengan sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW tentang kemunafikan suatu kaum berikut ini :

“Manusia paling buruk adalah orang bermuka dua, yaitu orang yang mendatangi suatu kaum dengan muka tertentu, dan mendatangi lainnya dengan muka yang lain.”

Sumber Berita
Republika

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button