Modus Keraton Agung Sejagat, Bukannya Kasih Gaji Malah Minta Kontribusi Pengikut

Abadikini.com, JAKARTA — Raja Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso sukses menggaet banyak orang untuk bersedia menjadi pengikutnya. Berdasarkan pemeriksaan Polda Jateng, para pengikutnya wajib membayar uang Rp3 juta. Sebagai syarat masuk menjadi warga kerajaan.

Setelah membayar, Keraton Agung Sejagat menjanjikan para punggawa kerajaan itu mendapatkan gaji dengan mata uang dolar setiap bulannya. Janji gaji dolar itulah yang menjadi magnet untuk menarik masyarakat menjadi punggawa Keraton. Kenyataannya bertolak belakang. Selama ini punggawa keraton dan abdi dalemnya belum pernah dibayar.

Salah satu pengikut keraton, Linda menceritakan pengalamannya. Saat deklarasi keraton ini, Linda mengaku sudah memiliki kedudukan cukup tinggi. Sebagai punggawa kerajaan. Untuk mendapat kedudukan itu, memang tidak gratis. Linda memaklumi. Untuk mendirikan imperium baru memang butuh biaya.

“Itu kan untuk seragam, untuk surat menyurat. Pokoknya sebagai rintisan sebuah imperium,” kata Linda seperti dilansir Liputan6.com, Kamis (16/1/2020).

Raja dan ratu dari Keraton Agung Sejagat sudah ditangkap polisi. Namun Linda masih belum percaya bahwa dia adalah korban penipuan. Dia justru yakin bahwa Keraton Agung Sejagat itu benar-benar ada.

“Ya namanya juga warisan masa lampau, memang sulit untuk dibuktikan. Tapi bisa diyakini,” katanya.

Diberi Pangkat Jenderal

Pengikut lain adalah Namono, warga Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Namono menjadi pengikut Raja Keraton Agung Sejagat, Totok Santosa Hadiningrat, karena percaya dia adalah Sang Ratu Adil yang ditakdirkan menjadi pemimpin bumi.

“Dulu saya memang ikut DEC (Jogja DEC), tapi di hati kurang sreg,” kata Namono.

Setelah bergabung dengan keraton Raja Agung Sejagat, dia diberi pangkat ‘Jenderal’. Namono juga tak tahu jika pemimpin Jogja DEC dan Keraton Agung Sejagat ternyata orang yang sama yakni Toto Santoso. Hanya saja keyakinannya, sosok Raja tak akan menipunya. Namono mengelak saat ditanya biaya pendaftaran.

“Saya ini orang tidak punya, dari mana punya uang untuk membayar,” katanya dalam bahasa Jawa Kromo.

Utami, istri Namono justru membantah pernyataan suaminya. Dia sering dimintai uang oleh suaminya untuk kepentingan kegiatan Keraton Agung Sejagat.

“Minta saya banyak, sekitar Rp2 juta. Tiga tahun gabung, katanya jadi Jenderal tapi tidak pernah digaji,” kata Utami.

Keraton Nusantara Geram

Deklarasi dan pengumuman Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah tidak hanya meresahkan masyarakat setempat. Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) memastikan Keraton Agung Sejagat tidak terdaftar dalam arsip negara dan catatan sejarah.

Ketua FSKN PRA Arief Natadiningrat mengaku kaget seiring dengan perkembangan negara Indonesia, masih ada orang yang berani mendirikan keraton hingga mengklaim keturunan Majapahit.

“Kami prihatin saja apalagi mengklaim masih keturunan Syailendra dan penerus Majapahit. Keraton tersebut tidak ada dalam daftar keraton se-Nusantara,” kata Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon PRA Arief Natadiningrat kepada wartawan, Rabu (15/1/2020).

Arief mengatakan, dalam catatan yang dimiliki FSKN ada lebih dari 200 kerajaan atau kasultanan yang terdaftar pada persiapan kemerdekaan Indonesia, tidak termasuk Keraton Agung Sejagat.

Arief meragukan klaim keraton yang mengaku keturunan Wangsa Syailendra. Menurutnya, sulit untuk memelihara silsilah dari wangsa Syailendra yang berjaya di abad ke 7 dan 8 masehi itu.

“Mengidentifikasi silsilahnya itu cukup sulit apalagi mengaku keturunan Majapahit. Kerajaan Majapahit itu setelah runtuh menjadi Demak, kemudian runtuh dan jadi Pajang, runtuh lagi menjadi Mataram, kemudian runtuh menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Begitu RI lahir hanya ada Surakarta dengan kasunanan dan Mangkunegaran, kemudian Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman,” ujar dia.

Arief mengaku prihatin klaim Keraton Agung Sejagat didanai oleh Swiss. Menurut dia, Keraton se nusantara pernah berkumpul dengan tokoh nasional termasuk Sukarno di Tapak Siri.

“Untuk membangun keraton harus ada magersari atau warga di sekitar keraton, itulah yang nantinya dibina keraton. Ini tidak diajak bicara, tiba-tiba dibangun dan ada kegiatan,” sambung Arief.

Keraton se-Nusantara menyatakan diri membantu kemerdekaan Indonesia. Pernyataan tersebut karena saat itu hanya keraton yang memiliki perbekalan hingga bantuan dana untuk membantu perjuangan masyarakat Indonesia.

“Jadi tidak ada harta keraton disimpan di bank luar negeri harta keraton banyak digunakan untuk kepentingan kemerdekaan. Sisa aset saja,” ujar dia.

Menurut Arief, keberadaan Keraton Agung Sejagat adalah mimpi pemimpin keraton yang diembuskan ke masyarakat terkait informasi bohong.

Sumber Berita
Merdeka
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close