Gua Gong, Gua Unik di Kampung Halaman SBY yang Wajib Anda Kunjungi

Gua Gong, disebut sebagai gua yang memiliki stalaktit dan stalakmit terbaik di Asia Tenggara. Salah satu daya tariknya adalah, ada stalaktit dan stalakmit yang berbunyi ketika dipukul seperti gong.

Abadikini.com, JAKARTA — Pacitan dikenal sebagai tanah kelahiran presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Selain itu, Pacitan juga dikenal sebagai kota seribu gua. Salah satunya adalah Gua Gong yang memiliki ornamen stalaktit dan stalakmit yang begitu variatif. Masing-masing mempunyai karakteristik. Ada yang menjulang tinggi, ada yang menjorok ke bawah. Bentuknya ada yang seperti gerigi, ada pula bulatan. Ornamen yang unik dan menarik itulah yang barangkali menjadikan Gua Gong yang berada di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Jatim) itu, terbaik stalaktit dan stalakmitnya di Asia Tenggara.

Karakteristik lainnya adalah ada sejumlah stalakmit kristal yang dipukul dengan tangan, bakal berbunyi. Suaranya nyaris sama dengan suara gong, yang merupakan salah satu alat musik gamelan. Itulah mengapa kemudian gua karst tersebut dinamakan sebagai Gua Gong.

Bisa dibayangkan, bagaimana Mbah Noyosemito dan Mbah Joyorejo, sesepuh desa setempat menemukan gua pada 1924 silam. Keduanya tidak sengaja menemukan gua, karena sebetulnya mereka mencari air untuk kampung setempat. Benar, mereka menemukan sejumlah mata air atau masyarakat setempat menyebutnya sebagai sendang.

Masyarakat hanya mengambil air saja, tidak lebih. Sebab, mereka menganggap kondisinya masih angker. Baru, pada 5 Maret 1995, Suryamin bersama sembilan warga lainnya masuk ke dalam gua. Berdasarkan kesepakatan warga, gua tersebut dinamakan Gua Gong. Hal itu didasarkan pada kepercayaan warga setempat, kalau pada waktu-waktu tertentu kerap terdengar suara gamelan dari dalam gua. Selain itu, ada stalakmit yang dipukul bisa berbunyi seperti gong. Pemkab Pacitan mulai membangun anak tangga dan melengkapinya dengan lampu dan blower mulai tahun 1996.

Salah satu panorama di dalam Gua Gong di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jatim. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia

Salah seorang pengunjung gua dari Banyumas, Marnoto, mengaku takjub dengan keindahan ornamen stalaktit dan stalakmit yang ada di Gua Gong. “Saya pernah beberapa kali ke gua, tetapi panoramanya tidak sebagus di sini. Setiap jengkal langkah, ada variasi stalaktit dan stalakmitnya. Benar-benar spektakuler,”ungkap Marnoto.

Menurut Parno dalam buku Gunung Sewu Unesco Global Geopark yang diterbitkan Kemendikbud pada 2018 menyebutkan, Gua Gong memiliki ruang dengan kubah raksasa, panjangnya mencapai 100 meter. Lebar gua antara 15-40 meter dan ketinggiannya mencapai 20-30 meter dengan kedalaman hingga 256 meter.

Untuk masuk ke dalam gua, tidak perlu terburu-buru. Karena selain jalannya menukik ke bawah, juga ada yang menanjak. Dengan jalan santai, maka bakal menemukan beragam ornamen yang ada di dalam gua tersebut. Dari sejumlah pendataan disebutkan, ornamen atau biasa disebut sebagai speleotem begitu variatif. Bentuk stalaktitnya ada yang meruncing, tipis melebar dan menjuntai menyerupai tirai. Pemukaan stalaktit ditumbuhi heliktit atau suatu ornamen dengan format melengkung.

Menurutnya, beberapa ornamen gua yang mempunyai bentuk unik dan ganjil diberi nama oleh juru kunci gua sesuai dengan imajinasinya. Selo Jengger Bumi, Selo Paku Buwono, dan Selo Bantaran Angin adalah sekumpulan stalakmit dan owstone yang masih aktif.

Stalakmit dan owstone diberi nama Selo Gerbang. Selo Citro Cipto Agung adalah nama sebuah kolam besar yang pinggirannya dibatasi oleh kolom-kolom kecil memanjang yang indah. Selo Adi Citro Buwono merupakan kumpulan owstone aktif dengan gurdam-gurdam kecil di bawahnya. Sedang Selo Susuh Angin adalah nama sekumpulan stalakmit besar yang terdapat di antara beberapa kolom.

Pengunjung tengah berswafoto dengan latar belakang ornamen Gua Gong. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia

Gua ini terbentuk oleh proses pelarutan pada batu gamping formasi Wonosari yang berumur 1,5-3 juta tahun. Proses karsifikasi terjadi tidak begitu lama setelah batu gamping terangkat dari dasar laut, sekitar 1,8 juta tahun lalu.

Gua Gong terletak di perbukitan karst Desa Bomo, Kecamatan Punung atau sekitar 38 km dari pusat Kota Pacitan. Jalanan berkelok-kelok, tetapi sudah mulus. Jika dari Solo atau Yogyakarta, perjalanan sekitar 3-4 jam. Untuk menjangkau gua, maka harus berjalan kaki terlebih dahulu dari tempat parkir yang jaraknya sekitar 300 meter. Ada pilihan lain, yakni naik ojek dengan tarif hanya Rp5.000/orang.

Di sekitar gua, ada pemandu wisata yang siap menemani berkeliling gua. Karena di dalam agak gelap, maka bisa menyewa senter untuk menerangi perjalanan menelusuri gua tersebut. Begitu masuk gua, rasanya seperti di “alam lain”.

Lubang di dalam perut bumi yang terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu menyajikan panorama menakjubkan.

Mata semakin termanjakan karena ada lampu-lampu yang sengaja dipasang oleh Pemkab Pacitan. Stalaktit dan stalakmit membentuk ornamen yang khas. Bahkan, setiap tahun ada perubahan, meski kecil. Stalaktit dan stalakmit masih terus bertambah panjang.

Pengunjung sedang berjalan melewati stalaktit dan stalakmit yang menakjubkan di Gua Gong. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia

Membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk mengeksplorasi dalam gua. Para pengunjung dapat melihat secara detail, bagaimana ornamen-ornamen di dalam gua. Meski telah dilengkapi dengan lampu, jalan dan kipas angin di sejumlah titik, tetapi stalaktit dan stalakmit gua tetap terpelihara dengan baik karena tidak boleh diapa-apakan. Ada tujuh ruangan yang dapat dinikmati oleh para pengunjung.

Ada stalakmit dan stalaktit yang bisa berbunyi ketika dipukul. Suaranya menggema seperti bunyi gong. Sehingga itu menjadi salah satu favorit pengunjung untuk mencobanya. “Gua Gong memang menjadi salah satu idola wisatawan yang hadir di Pacitan. Meski sebetulnya ada banyak gua di Pacitan. Selain memiliki stalaktit dan stalakmit yang begitu variatif di dalam gua, ada juga bagian dari stalakmit yang dipukul bisa berbunyi,”kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Pacitan Herman Budi Utomo.

Menurut Herman, Pacitan dijuluki sebagai Kota 1001 gua, karena banyaknya gua yang ada di kabupaten tersebut. Wilayah Pacitan sebelah selatan yang merupakan kawasan karst, menjadi berkah tersendiri, karena begitu banyak gua yang mempunyai daya tarik luar biasa. “Kami mempromosikan wisata gua, dan yang paling utama adalah Gua Gong, karena telah dilengkapi fasilitas. Mereka yang datang juga lebih nyaman, karena telah dibangun jalan supaya wisatawan dapat menikmati keindahan panorama di dalam gua,” ujarnya.

Wisatawan mengabadikan keelokan Gua Gong. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia

Bagian dari Gunung Sewu Geopark

Menurut Parno dalam bukunya buku Gunung Sewu Unesco Global Geopark yang diterbitkan Kemendikbud pada 2018, kawasan karst yang ada di Pacitan – termasuk Gua Gong – merupakan bagian dari Gunung Sewu Geopark yang telah dikukuhkan oleh Unesco menjadi Global Geoparks Network (GGN) pada tahun 2015. Kawasan tersebut meliputi Kabupaten Gunungkidul (DIY), Kabupaten Wonogiri (Jateng) dan Kabupaten Pacitan (Jatim). Gunung Sewu Unesco Global Geopark terdapat 30 situs geosite dan 3 situs non-geosite. Kawasan ini berbentuk conical hills yang terdiri atas 40.000 bukit kars dengan panjang kawasan mencapai 800 kilometer dengan luasan endapan batu gamping berumur Neogen (Miosen Tengah) mencapai 1.300 kilometer persegi dan ketebalan mencapai lebih 200 meter. Mayoritas bukit kars Gunung Sewu berbentuk kerucut atau tempurung kelapa terbalik.

Kawasan ini menjadi salah satu tempat terbaik untuk belajar batuan dan reservoir karbonat, baik morfologi, fasies dan lingkungan pengendapan, diagenesis, maupun reservoir karakteristik di Indonesia. Kekayaan Gunung Sewu Unesco Global Geopark salah satunya adalah gua. Gua Pindul merupakan gua yang sangat populer di Gunung Kidul.

Di Pacitan terdapat gua sangat panjang yang dikenal dengan nama Luweng Jaran dengan panjang mencapai 25 kilometer dan gua paling dalam yang dikenal dengan Luweng Ngepoh dengan kedalaman mencapai 200 meter. Sementara itu, di Kabupaten Wonogiri juga terdapat beberapa gua yang menarik seperti Gua Tembus, Gua Mrico, Gua Sodong, Gua Potro, Gua Sapen, Gua Gilap, dan Gua Sonya Ruri. Menurut ahli sejarah dan geologi gua-gua itu dinilai terbaik dengan keragaman gua, struktur lapisan gua, dan panorama alam yang khas.

Sementara, Tim Peneliti LIPI dalam bukunya Sejarah Gunung Sewu yang diterbitkan pada LIPI Press tahun 2018, menyebutkan di Jawa, luasan karst mencapai 5.000 km persegi yang tersebar di deretan Pegunungan Utara dan Pegunungan Selatan, salah satunya Karst Gunungsewu di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Karst Gunungsewu memiliki luas 1.300 km persegi dengan bentukan khas berupa ribuan kubah bukit yang membentuk bentang alam yang sangat unik dan khas. Karst Gunungsewu juga memiliki sistem perguaan dengan sungai bawah tanah yang panjangnya mencapai ribuan meter bahkan puluhan ribu, dan menjadi habitat berbagai spesies flora dan fauna.

Beberapa spesies khas gua dari kelompok mikroba sampai fauna bertulang belakang, seperti kelelawar, ditemukan di dalam gua dan berinteraksi satu sama lain membentuk ekosistem karst, baik di permukaan maupun di bawah permukaan.

Ornamen stalaktit dan stalakmit yang luar biasa di Gua Gong, Pacitan, Jatim. Foto : L Darmawan/Mongabay Indonesia

Keterkaitan antara komponen hayati dan nonhayati telah memberi ruang hidup bagi makhluk, seperti manusia, yang sudah terindikasi menghuni Gunungsewu sejak akhir Pleistocene. Hal ini terbukti dengan ditemukan beberapa sisa tulang dan tengkorak anak kecil yang diperkirakan berusia 11.500 tahun di Song Gupuh, serta berbagai spesies lain, seperti kerang, rusa, kera, banteng, kerbau, babi hutan, trenggiling, gajah, beruang madu, dan tapir. Hal ini juga membuktikan bahwa Gunungsewu merupakan habitat yang sangat ideal untuk hidup berbagai spesies fauna.

Dalam Bahasa Jawa, Sewu berarti seribu atau dapat diartikan sebagai jumlah yang tidak terhitung. Istilah “Gunungsewu” menggambarkan banyaknya bukit-bukit berbentuk kubah yang berjajar di sepanjang kawasan setempat. Hasil analisis citra penginderaan jauh yang dipublikasikan Haryono dan Day (2004) menunjukkan bahwa di kawasan Gunungsewu terdapat 7.280 bukit.

Kawasan karst terbentang dari Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul, di sisi barat sampai dengan Pantai Teleng Ria, Kabupaten Pacitan, di sisi timur. Secara administratif, kawasan ini terletak di empat kabupaten dan tiga provinsi, yaitu Kabupaten Bantul dan Gunungkidul (DIY), Wonogiri (Jateng), dan Pacitan (Jatim).

Menurut para peneliti LIPI, karst Gunungsewu mulai dikenal ketika Junghuhn pada 1850 menuliskan catatan perjalanannya di kawasan tersebut dalam karya monumentalnya Java, Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Structuur. Gunungsewu yang saat ini lebih dikenal sebagai kawasan karst yang kering dan tandus, pada masa itu merupakan kawasan yang berhutan lebat dengan berbagai spesies fauna hidup di dalamnya.

Setelah Junghuhn, Edward Jacobson menjelajah gua-gua di Gunungsewu dan menghasilkan beberapa catatan spesies fauna, seperti semut (Forel, 1912), kodok (Van Kampen, 1912), dan spesies baru kepiting khas gua yang dideskripsikan oleh Ihle (1912).

Sementara, untuk kubah Karst Gunungsewu terbagi menjadi tiga bentang yakni Karst Labirin, Karst Poligonal, dan Karst Kerucut. “Untuk Karst labirin atau labyrinth-cone karst adalah bentang alam yang didominasi oleh perpotongan koridor dan lembah sebagai hasil proses pelarutan. Tipe bentang alam ini terdapat di bagian selatan Gunungkidul. Kalau Karst Poligonal atau polygonal karst adalah bentang alam yang berupa kumpulan bukit kerucut (conical) padat dan bersatu. Bentang alam ini terdapat di bagian barat kawasan, serta Karst kerucut-terpisah atau residual cone karst adalah bentang alam dataran dengan bentukan bukit-bukit kerucut yang terpisah dan tersebar. Bentang alam ini terdapat di bagian timur laut kawasan dan sedikit di pesisir selatan,”tulis tim peneliti.

Sumber Berita
Mongabay Indonesia
Topik Berita

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button
Close