Dekat Pada Allah SWT

BERTAMBAH hari bertambah lagi usia kita, namim jiwa ini belum juga mampu dekat dan tunduk pada ilahi rabbi. Bagaimana bisa jiwa ini luruh di haribaan Allah, sementara saat shalat ia belum juga menghadap-nya, baru onggok tubuh kasar yang rukuk dan sujud, sementara jiwa masih mendongok angkuh dan berpaling dari-nya; pikiran melanglang buana menghadap dunia dan perhiasannya.

Alquarn tidak lagi menjadi obat penyembuh hati dan jiwa, sebab ia hanya berupa baccan dan lantunan suara saja, namun tidak berjejak di relung dada. Syahadat hanya diucapkan di bibir, bukan kesaksian dan keyakinan terdalam. Ibadah-ibadah yang di tegakkan hanya sebatas syarat dan penggugur beban kehidupan, tanpa menyisakan makna dan kekhusyukan.

Sobat, sudah berapa lama kita lakukan ritual-ritual semacam ini, kemudian kita merasa sudah bersimpuh di hadapan Tuhan? Sudah berapa lama kita angkuh dalam beribadah dan tidak khudu’ di hadapannya, sementara kepala kita tunduk di hadapan manusia sebagai alim yang penuh ilmu?.

Sudah berapa lama kita sholat dan zikir? Mungkin sudah puluhan ribu kali. Namun, kenapa kita belum juga dekat pada Allah SWT? Sebab shalat kitamasih tandus dan akan makna, hati kita masih hamapa rasa; melum menimbulkan rasa syukur, rasa nikmat, rasa tenang dan bahagia, seperti yang dirasakan Rasulullah SAW dalam shalatnya. Bukankah belia telah berpesan, “Shalat adalah Mi’rajnya umatku” yaitu shalat yang bukan sebatas fisik, namun juga menghadirkan Allah SWT di dalamnya. Jika kita shalat seperti Rasulullah SAW, niscaya kita kan merasakan apa yang beliau rasakan.

Jujur kita akui, dari dulu hingga kini shalat kita masih begitu-begitu saja; jasad kita seperti seorang hamba yang sedang rukuk-sujud di hadapan Allah SWT, namun hati dan pikiran liar kemana-mana. Tidakkah kita ingin dekat dengan Pencipta kita?

Oleh: Tim Redaksi Abadikini.com
Kajian Islami Musthafa Salim Al-Hiyet Menuju Allah, Bertemu Allah dan Bersama Allah

Topik Berita
Back to top button
Close