Bagaimana Jika, Bumi Benar-benar Datar?

Bumi, tempat kita hidup itu bulat. Tahun 1947, Militer Amerika Serikat mengambil foto Bumi dari udara menggunakan V-2 rocket dan menemukan hasil foto yang menunjukkan Bumi memiliki lengkungan. Bumi dan Bulan sama-sama bulat karena alasan sama, yani punya gravitasi. Meski begitu, ada sekelompok kecil orang yang bersikeras bawah Bumi itu datar, kaum flat-earthers.

Abadikini.com, JAKARTA – Tentu kita sudah memahami betul, bahwa Bumi itu seperti bola bulat. Ini fakta sederhana yang diketahui manusia selama ribuan tahun, dan dikonfirmasi tak terbantahkan begitu Uni Soviet meluncurkan satelit Sputnik 1 pada 1957 yang mengilingi Bumi dari angkasa.
Sebelumnya, pada 1947, Militer Amerika Serikat mengambil foto Bumi dari udara menggunakan V-2 rocket dan menemukan hasil foto yang menunjukkan Bumi memiliki lengkungan. Fakta yang mengindikasikan Bumi benar-benar bulat, sebagaima dilansir dari Smithsonian.

Foto pertama yang diambil dari luar angkasa yang menunjukkan Bumi memiliki lengkungan, pertanda Bumi bulat. Foto: White Sands Missile Range/Applied Physics Laboratory via Smithsonian

Meski begitu, kita juga tahu, ada sekelompok kecil orang yang bersikeras bawah Bumi itu datar. Mereka menyebut dirinya flat-earthers. Tanpa henti, mereka membanjiri informasi tentang datarnya Bumi melalui berbagai ruang informasi. Paling masif di sosial media.

Kaum bumi datar [Flat Earth Society] didirikan oleh Samuel Shenton tahun 1956 dan anggotanya percaya bahwa Bumi berbentuk datar karena terlihat datar. Banyak flat-earthers melakukan upaya menjabarkan penjelasan alternatif guna menentang kenyataan Bumi bulat.

Tapi mari kita berandai, jika Bumi benar-benar datar, bukan bulat, kira-kira apa yang akan terjadi?

Bumi yang tampak dari permukaan Bulan. Foto: NASA/Goddard/Arizona State University

Seorang ilmuwan planet dari Caltech University, Pasadena, California, David Stevenson, menyatakan jika sebuah benda kosmik dibentuk menjadi cakram [bukan bola], maka benda tersebut harus berputar amat sangat cepat.

“Sayangnya, perputaran tersebut justru akan menghancurkan Bumi [sebelum benda berbentuk cakram terbentuk] karena planet ini akan hancur menjadi partikel-partikel kecil,” lanjutnya, sebagaiman dikutip dari Live Science.

Pada 1850-an, seorang fisikawan dan matematikawan asal Skotlandia
James Clerk Maxwell menunjukkan bukti matematis bahwa bentuk padat seperti cakram bukanlah konfigurasi yang stabil di kosmos.

Pendapat itu ia ungkapkan saat meneliti cincin Saturnus. Penelitian tersebut mengungkapkan, cincin Saturnus tercipta dari banyak partikel kecil yang tidak berkaitan satu sama lain. Penghitungan matematikanya juga menjelaskan mengapa tidak ada piringan seukuran planet yang mengambang di sekitar galaksi.

Foto Bumi dan Bulan dalam tiga versi berbeda.Di sebelah kiri Bumi dan Bulan memiliki kontras yang sama, di tengah kecerahan Bulan meningkat relatif terhadap Bumi, dan di sebelah kanan Bumi terlihat berwarna. Foto: NASA 

Ruang angkasa yang menunjukkan Bumi terbit dari permukaan Bulan. Foto: NASA/GSFC/Arizona State UniversityUntuk membuat Bumi menjadi pipih [seperti dalam bayangan flat-earther] tanpa memutarnya dengan sangat cepat, kata Maxwell, dibutuhkan keajaiban dan sihir. Bagaimanapun, Bumi yang rata tidak akan bertahan lama, karena dalam beberapa jam saja, gaya gravitasi akan menekan Bumi kembali menjadi bulat.

Gravitasi secara merata akan menarik semua benda dari berbagai sisi, dan kemudian membentuknya bulat seperti bola. Jika Bumi menyerupai cakram, maka planet ini tidak mungkin bisa menyesuaikan dengan kondisi gravitasi aktual, seperti yang ditunjukkan matematika Maxwell. Artinya, bentuk cakram akan ‘menghilangkan’ gravitas.

Dan jika gravitasi hilang, maka segala sesuatu yang ada di Bumi dengan cepat berhenti. Demikian pula dengan atmosfer, yang menyediakan penyokong kehidupan bagi makhluk hidup. Hal ini dikarenakan atmosfer yang mengelilingi bumi ditahan oleh gravitasi agar terus ‘menempel’ di atas Bumi.

Lantas, bagaimana dengan pasang-surut air laut? Ini juga hilang, sebab peristiwa alam tersebut disebabkan tarikan gravitasi Bulan, yang menarik samudra dan menyebabkan air laut secara halus menonjol keluar saat berombak. Bulan pun akan hilang, karena bulan sendiri yang kita tahu dan liat, berada di tempatnya karena adanya gravitasi bumi.

Gravitasi juga membuat struktur berlapis di Bumi, dengan material terpadat yang berada di inti, material yang ringan membentuk mantel dan material paling ringan membentuk kerak bumi.

Tanpa struktur berlapis ini, Bumi tentu menjadi tempat yang tak bisa ditinggali. Inti luar cair Bumi, misalnya, bertindak sebagai magnet dinamis raksasa, yang menciptakan medan magnet planet.

“Jika Bumi berbentuk datar, lempeng tektonik, pergerakan lempeng kaku yang membentuk kerak planet, juga tidak akan bekerja,” ujar James Davis, seorang ahli geofisika di Columbia University Lamont-Doherty Earth Observatory, New York.

Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) yang berada di orbitnya di Bulan. Foto: LROC/Iroc.sese.asu.edu

Ketika Maxwell pada 1850-an menyatakan bahwa cincin Saturnus terbuat dari banyak partikel kecil, ia melakukannya dengan menerapkan pengetahuan umum tentang cara kerja gravitasi dan gaya rotasi. Esainya tentang subjek tersebut, sebagian besar berpedoman pada persamaan matematika. Sedangkan teori Bumi datar tidak memungkinkan hal tersebut.

Bumi dan Bulan sama-sama bulat karena alasan sama, yani punya gravitasi. “Kaum bumi datar harus menciptakan penjabaran independen untuk Bumi dan Bulan dan mengapa mereka bisa ada seperti sekarang ini, dan keterangan mereka sering bertentangan satu sama lain. Ini bukan cara kerja teori ilmiah,” pungkas Davis.

Sumber Berita
Mongabay
Topik Berita

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button
Close