Batu Kelamin di Raja Ampat, Sekilas Terdengar Vulgar Namun Sangat Mengagumkan

Abadikini.com – Batu Kelamin, sekilas mendengar namanya pasti membuat telinga tergelitik, tapi memang benar adanya bentuk dari batu tersebut. Batuan stalaktit yang berada di pinggir laut yang terbentuk oleh air laut hingga menyerupai alat kelamin pria.

Sebelum memulai perjalanan menuju ke sana, saya sudah mencari foto atau gambar destinasi wisata ini melalui internet.

Dari hasil pencarian terlihat terdapat dua batu yang menggantung di kaki pulau karang dan bentuknya menyerupai alat kelamin pria. Namun saya tidak melihat secara detail kenapa bisa disebut Batu Kelamin.

Jarak tempuh dari Gurara Resort, hostel tempat saya menginap ke Batu Kelamin hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam dengan kapal kecil.

Selama perjalanan ke sana, si pemandu wisata Fadli mengingatkan kami untuk tidak bercanda atau tertawa saat melihat batu tersebut.

“Lebih jangan tertawa saja,” ucap Fadli.

Kapal yang semula bergerak dengan cepat mulai berjalan pelan, yang menjadi tanda bahwa akan tiba di destinasi wisata saya yang kedua di Festival Bahari Raja Ampat 2019. Nampak dari kejauhan terlihat bentuk yang sama persis seperti difoto yang saya lihat di laman internet.

Batu Kelamin ini ternyata terletak di salah satu pulau karang tak berpenghuni di sekitar perairan Teluk Mayalibit. Untuk melihat lebih dekat tidak perlu turun dari kapal, karena letaknya di ujung luar pulau itu.

Kapal pun makin mendekat dengan batu itu. Kali ini saya bisa melihat lebih detail dan jadi maklum mengapa namanya demikian.

Batu itu menggantung panjang ke bawah dan di ujung bawahnya mirip dengan alat kelamin pria. Apabila dilihat lebih jelas tinggi dari batu ini sekitar 3 meter dan memiliki diameter lingkaran kurang lebih 60 centimeter.

Tampaknya peringatan dari Fadli tidak dihiraukan oleh anggota rombongan tur, sesekali mereka tertawa terbahak-bahak melihat situs bebatuan ini.

Bentuknya memang sangat mirip dengan alat kelamin pria, maka menjadi bahan bercandaan. Saya pun hanya bisa tersenyum dan menanggapi dengan satir guyonan mereka.

Sebelum perjalanan ke sana, saya sempat mendengar salah satu ocehan ABK apabila tertawa saat melihat batu tersebut maka akan terjadi kejadian yang kurang mengenakan menimpanya. Entah itu benar atau tidak, saya memilih untuk mendengar peringatan itu.

Anggota rombongan tur pun bergantian untuk berdiri di depan dek kapal untuk memegang batu dan berfoto dengan batu itu.

Sesekali ada juga salah satu dari mereka bertanya nama asli dari batu itu dengan bahasa Papua. Baik dari Fadli dan ABK tidak menjawab, mereka hanya saling melihat dan berusaha untuk menahan tawa.

Menurut mereka tidak sopan saat mereka menyebut nama aslinya dan bahasanya tidak sopan untuk didengar.

Sambil menunggu giliran untuk berfoto, saya sempat bertanya mengenai Batu Kelamin langsung kepada Fadli. Saya bertanya siapa yang menemukan, apakah ada sesuatu yang sakral di sana dan apakah ada pasangan dari batu kelamin itu.

Lagi-lagi saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari mulut Fadli. Dia hanya menceritakan bahwa situs itu ditemukan oleh salah satu nelayan, sedangkan pertanyaan lainnya tidak dijawab sepenuhnya.

Dalam hati saya saat itu, mungkin setibanya di hostel saya akan mencari jawabannya.

Dan ternyata benar, setibanya di hostel saya mencari informasi lanjutan mengenai Batu Kelamin di internet.

Di salah satu artikel saya membaca bahwa ternyata Batu Kelamin yang menggantung itu memiliki pasangan yang letaknya berada di bawah persis batu yang menggantung.

Di sana juga menuliskan bahwa batu itu menyerupai alat kelamin wanita, dan batu itu hanya bisa terlihat apabila air laut surut.

Sayangnya saat saya di sana, air laut sedang tinggi dan batu kelamin yang berada di bawah tidak terlihat.

Selain itu, saya juga membaca dari sumber lain bahwa Batu Kelamin diniscaya bisa mengabulkan permohonan dan terhindar dari tolak bala.

Orang bisa memegang atau menyentuh langsung kedua batu tersebut sambil memejamkan mata, setelah itu menyempilkan koin di bebatuan karang yang berada di sekitarnya.

Hal ini juga terlewat, mata saya juga tidak terlalu jeli mengamati bebatuan yang berada di sekitar Batu Kelamin jadi tidak terlihat koin-koin yang menyempil di sana.

Rasa kecewa pun muncul setelah membaca semua artikel karena tidak mendapatkan informasi yang lengkap dari Fadli

Namun saya pun memaafkan dan memakluminya, hal itu sudah terbayar dengan panorama indah di sekitar Batu Kelamin.

Sumber Berita
CNN Indonesia
Topik Berita
Back to top button
Close