Hancurnya Papua dan Kota Jayapura Karena Hoax Provokatif

MARI pintar dan bijak menggunakan media sosial. Banyak orang berpendidikan di negeri ini, yang kadang komentarnya di media sosial, tidak menunjukkan jati dirinya sebagai orang yang beradab.

Mari belajar saling memahami dengan tidak menggangu kepentingan orang lain, belajarlah untuk tidak selalu membawa masalah postingan seseorang dan masalah media sosial ke dunia nyata. Awas jangan salah kaprah, kehidupan nyatalah yang mewakili seluruh unsur kehidupan bersosial, bermandiri, dan bermartabat. Papua butuh figur manusia yang bisa mamaafkan sesama, bisa menerima segala perbedaan, bisa bersosialisasi dengan baik.

Hiduplah baik sama semua orang, dan saling menghargai. Apalah artinya hidup kalau kita hanya memikirkan diri sendiri, pribadi dan keluarga. Jadilah terang bagi semua orang. Orang asli Papua dan tanah Papua adalah mutiara kilau yang memikat semua mata, indah rupanya, dan elok.

Mari menjadi terang untuk semua orang, segala postingan seseorang harus dicerna dengan baik. Kalau anda atau siapapun yang tidak merasa turut memprovokasi konten – konten yang membuat rusuh Papua, jangan terpancing. Untuk itu bijaklah dalam bermedia sosial, ada batasan – batasan dan rambu – rambu dalam bermedia sosial.

Sayapun demikian, saya adalah rakyat Papua biasa, dan pemuda Papua biasa.Mama saya adalah seorang perempuan Papua yang sering berjualan pinang. Segala postingan saya adalah informasi. banyak informasi yang saya bagikan, termasuk status dan tulisan – tulisan saya, baik di media sosial Facebook dan lainnya, tetapi yang harus diingat adalah segala postingan saya adalah informasi berdasarkan data. Jadi apa yang saya sampaikan adalah kenyataan yang terjadi.

Hancurnya Papua, hancurnya Kota Jayapura salah satu akibatnya adalah mem-booming-nya isu rasial, dengan balutan komposisi isu lain yang membuat informasi sistem pola berpikir menjadi bias atau distorsi. Akibatnya, info yang diterima oleh masyarakat di Papua menjadi bias pula, dan endingnya rakyat Papua yang susah.

Mari menjadi kelompok yang bisa memadamkan api, bukan menyalakan api, akibatnya adalah internet di Papua diblokir pasca demo anarkis tanggal 29 Agustus 2019, harga semua barang naik, bensin 2 Botol saja bisa Rp 120.000, harga paling rendah bensin saja 25.000, anak – anak tidak ke sekolah, toko – toko tutup, angkutan transportasi lumpuh.

Kita telah merasakan susahnya kota Jayapura beberapa hari lalu, ekonomi lumpuh total, untuk itu mari berbenah diri, untuk melawan hoax dan berita – berita serta isu – isu provokatif. Pesan saya secara pribadi untuk keluarga saya di Papua dan Papua Barat adalah, saya mencintai kalian sama seperti diri saya sendiri. Jangan pernah merasa terganggu dengan berbagai postingan saya, karena di dunia nyatalah saya berada, bukan dunia maya.

Tetaplah tenang, tetaplah berdoa, tetaplah semangat, ini ujian buat Papua, ini ujian buat kita semua, dan ini ujian buat Indonesia. Saya percaya bahwa permasalahan Papua akan segera dapat teratasi. Hadirnya Panglima TNI dan Kapolri adalah bukti bahwa negara hadir di tengah – tengah masyarakat. Masyarakat silakan melakukan aktivitas seperti biasanya di Kota Jayapura. Papua tetap tanah damai, dan salah satu cara untuk menjaga Papua adalah dengan tidak menyebarkan postingan – postingan yang memprovokasi, yang menjurus ke isu rasial, agama, dan zeparatisme. Tetap menjaga emosional, tetap menjaga hati agar tidak membenci sesama, apalagi membenci akibat postingan di media sosial.

Pemuda – Pemudi Papua adalah pribadi yang cerdas, pemuda – pemudi Papua adalah Cenderawasih yang akan terbang memgelilingi dunia. Tetap sabar, tetap tenang, tetap saling menyayangi, sebab Mutiara Hitam, adalah mutiara yang indah, mutiara yang disenangi oleh raja – raja dunia karena bentuknya yang unik dan jika dipoles lagi. Bisa menjadi sesuatu yang mendatangkan berkat untuk orang lain. Pemuda Papua harus bisa merangkul semua orang, bisa menerima semua golongan, sabarlah dalam berbagai rintangan, sabarlah dalam berbagai kesesakan, biarkan Tuhan yang beracara, biarkan waktu Tuhan yang memulihkan.

Tetap Tersenyum, kalau tidak merasa buat salah jangan khawatir atau ragu- ragu, bahkan terkesan saling curiga serta emosi, sebab ini adalah dunia maya, dunia yang diciptakan manusia.

Albert Ali Wangai Kabiay Ketua DPP Pemuda Mandala Trikora Provinsi Papua

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close