NASA Kembali Temukan Lubang Hitam Raksasa

Abadikini.com – Para astronom di badan antariksa Amerika (NASA) kembali menemukan lubang hitam atau black hole berukuran supermasif menggunakan Chandra X-ray Observatory, yang tengah bersembunyi di balik awan gas padat.

Lubang hitam yang berukuran jutaan hingga miliaran kali lebih masif daripada Matahari ini biasanya tumbuh dengan menarik material dari cakram materi di sekitarnya. Pertumbuhan yang cepat itu menghasilkan sejumlah besar radiasi di sekitar lubang hitam.

Saat lubang hitam mengkonsumsi material dan menjadi lebih masif, material gas yang ada di dalam awan itu akan habis sampai black hole dan cakram terang terungkap.

“Sangat menantang untuk menemukan quasar dalam fase lubang hitam yang tengah diselimuti awan gas padat karena begitu banyak radiasi yang diserap dan tidak dapat dideteksi,” kata Pemimpin Studi Lubang Hitam Fabio Vito dari Pontificia Universidad Catolica de Chile dikutip laman NASA via CNN.

Temuan lubang hitam itu datang dari pengamatan sebuah quasar yang disebut PSO167-13. Teleskop mendeteksi setidaknya 200 quasar yang tengah bersinar ketika alam semesta berusia kurang dari satu miliar tahun atau sekitar 7 persen dari usia Bumi saat ini.

Vito dan tim menguji teleskop PS0167-13 menggunakan Chandra X-ray Observatory. Usai 16 jam pengamatan, hanya tiga foton sinar X yang terdeteksi dan semuanya relatif memiliki energi yang tinggi.

Akibat sinar X memiliki energi yang lebih rendah dan lebih mudah diserap, peneliti menyimpulkan bahwa quasar dikaburkan oleh gas sehingga hanya sinar X berenergi yang dapat mendeteksi quasar itu.

Quasar yang terdeteksi oleh sistem Chandra akan berubah menjadi jubah yang jaraknya kedua paling jauh sekitar 850 juta tahun. Big Bang masih menempati posisi pertama dengan objek antariksa terjauh yang pernah diamati peneliti sekitar 1,3 miliar tahun.

“Kami menduga bahwa sebagian besar lubang hitam supermasif yang tersembunyi di alam semesta, penting untuk didetesi dan dipelajari guna memahami bagaimana mereka dapat tumbuh hingga massa satu miliar Matahari lebih cepat,” tutur Robert Gilli, peneliti lubang hitam lainnya dari INAF Italia.

Editor
Irwansyah
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button