Revolusi Komunikasi, Medsos Dinilai Tingkatkan Elektabilitas Parpol

Abadikini.com, JAKARTA – Pemanfaatan media sosial (medsos) sebagai alat kampanye dinilai merupakan suatu bentuk revolusi komunikasi di ranah politik Indonesia. Peran medsos saat ini telah berhasil meningkatkan elektabilitas sejumlah partai politik (Parpol).

“Saat ini, kita tidak lagi melihat kampanye terbuka yang mengerahkan massa besar-besaran, justru di ranah media sosial lah kita melihat hiruk pikuknya kampanye untuk merebut hati netizen sehingga memilih partai tertentu,” kata Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing di Jakarta, Minggu (2/6).

Menurutnya, sejumlah Parpol sudah sejak lama sadar akan pentingnya media sosial dalam mendorong elektabilitas partai.

Di antara sekian banyak Parpol di Indonesia, akun Facebook PDIP menjadi akun Facebook terlama, tepatnya sejak 2008, diikuti oleh Partai Amanat Nasional (PAN) (delapan tahun) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) (tujuh tahun).

Di era seperti saat ini, lanjut Emrus, kampanye terbuka dinilai sudah tidak efektif lagi. Pasalnya, selain menyedot anggaran yang luar biasa besarnya, kehadiran massa yang begitu besar dalam sebuah kampanye terbuka bukanlah indikator kemenangan.

“Karena di balik keramaian massa yang disesaki beragam atribut, belum tentu terselip makna yang berarti,” ujarnya.

Meskipun demikian, lanjut Emrus, segencar atau seproduktif apapun sebuah Parpol berkampanye di media sosial, jika Parpol tersebut gagal menyampaikan ideologi atau pesan ke audiens, maka kampanye tersebut tetap akan sia-sia.

“Jadi konten sangat penting. Jangan sampai membuat konten yang cenderung negatif atau menjatuhkan Parpol lain. Lewat medsos, Parpol dapat menyuarakan gagasan dan visi-misi mereka secara lebih komprehensif dan bahkan berpotensi viral,” tambahnya.

Sementara itu, pengamat medsos Enda Nasution menuturkan, media sosial memiliki dua fungsi, yakni fungsi komunikasi pada konstituen dan masyarakat luas untuk membangun kedekatan emosional dan fungsi sebagai wadah aspirasi rakyat.

“(Medsos) tidak sekadar platform interaksi saja, tapi juga untuk membangun branding, kekaguman pada suatu entitas, khususnya pada parpol,” ungkapnya.

Selain prevalensi di ranah virtual, lanjut Enda, keunggulan atau kehadiran sebuah Parpol di medsos tak terlepas dari beberapa faktor, yakni figur atau kader partai, pemberitaan di media massa yang begitu masif, dan primordialisme.

“Semua saling terkait satu sama lain, tidak bisa berdiri sendiri,” tuturnya.

Berdasarkan hasil real count KPU pada Pemilu serentak 2019, PDIP berhasil memuncaki daftar hasil rekapitulasi final Pemilu Legislatif 2019 dengan peroleh jumlah suara mencapai 27.053.961 atau 19,33 persen, diikuti oleh Gerindra (12,57 persen), Golkar (12,31 persen), PKB (9,69 persen), dan Nasdem (9,05 persen).

Keberhasilan partai berlogo banteng ini dinilai tak lepas dari peran Prananda Prabowo atau akrab disapa Nanan, dalam memanfaatkan platform media sosial untuk membangun branding partainya.

Ditunjuk sebagai Ketua Bidang Ekonomi Kreatif PDIP untuk periode 2015-2020, putra Megawati Soekarnoputri ini memprioritaskan media sosial sebagai alat kampanye utama partainya, mengingat besarnya peran media sosial dan juga masifnya pengguna internet di Indonesia.

Editor
selly
Sumber Berita
merdeka

Baca Juga

Back to top button