Smart City, Smart Building dan Pemindahan Ibukota Baru RI di Era Revolusi Industri 4.0

Oleh: Hasnil Fajri

                                                                                  

Praktisi, Pengamat & Penulis ICT & Ekonomi Keatif

Abadikini.com, JAKARTA – Wacana pemindahan ibukota kembali mengemuka. Wacana tersebut sebelumnya telah dicetuskan sejak era Presiden pertama RI, Soekarno, namun jika diselisik lebih jauh, wacana pemindahan ibu kota sudah berlangsung sejak lama, bahkan saat zaman penjajahan.Pada 2017, di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi), wacana pemindahan ibu kota negara kembali ramai diperbincangkan. Lewat Bappenas, wacana pemindahan ibu kota negara pun terus digodok dan akhirnya Presiden Jokowi beberapa waktu lalu telah memutuskan akan memindahkan Ibukota Indonesia ke luar Pulau Jawa.

Awalnya Ada tiga Pulau yang akan dipilih sebagai Alternatif yaitu Pulau Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan, bahkan Pemerintah sudah mengundang Kepala daerah dari kepulauan yang disebutkan diatas minus Sumatra untuk mendiskusikan rencana pemindahan ibukota tersebut yang dipimpin oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas.

Bahkan Presiden Jokowi beserta beberapa anggota Kabinet Kerja sudah visit Kaltim dan Kalteng. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah kawasan Bukit Soeharto di Kabupatan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang terletak di antara dua kota besar yakni Balikpapan dan Samarinda. Setelah itu Jokowi terbang ke Palangka Raya untuk mengunjungi kawasan yang disebut sebagai ‘segi tiga emas’ di Kalimantan Tengah yaitu Kabupaten Tanah Mas, Katingan dan Pulang Pisau. Namun Jokowi kemudian hanya mengunjungi Tanah Mas, dan batal ke kedua kabupaten lainnya.

Pemindahan ibu kota juga sejalan dengan fokus dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) nasional untuk lima tahun ke depan. “Pemerintah ingin mengurangi kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa,” Ada beberapa Faktor Alasan Pemindahan ibukota diantaranya Banjir tahunan dan Kemacetan kota Jakarta yang semakin parah serta kepadatan Penduduk Jakarta. Tapi dilain sisi untuk Membangun Ibukota baru membutuhkan Ketersediaan Lahan yang cukup disamping Ketersediaaan Air dan Bebas dari Bencana dan last but not least Anggaran dan Biaya tentunya, kajian dari Bappenas diperkirakan akan menelan anggaran antara Rp.323 hingga Rp.466 Triliun dan akan memakan waktu sekitar 10 tahun hingga selesai secara keseluruhan.

Harapan Pemindahan Ibukota dari Jakarta ke ibukota baru yang sudah mengerucut Ke Pulau Kalimantan ini tentunya ingin mengikuti kisah Sukses dari beberapa negara di dunia seperti:AS yang memindahkan  ibukota dari New York ke Washington DC pada tahun 1800, Jepang yang memindahkan  ibukota dari Kyoto ke Tokyo pada tahun 1959,Brazil yang memindahkan  ibukota dari Rio De Janeiro ke Brazilia pada tahun 1960, Australia yang memindahkan ibukota dari Melbourne ke Canberra pada tahun 1913, Malaysia yang memindahkan  ibukota dari KL ke Putrajaya pada tahun 1999. Dalam pembicaraan tentang pemindahan ibu kota negara yang terpisah dari pusat bisnis, ibukota Australia Canberra termasuk yang sering disebut sebagai rujukan.

“Ibu kota yang baru perlu Infrastruktur yang baik dan Terintegrasi mulai dariInfrastruktur Ekonomimeliputi semua Prasarana Umum seperti jalan, air bersih (pipa), sanitasi, waduk, tanggul, kanal, pengolahan limbah, pelistrikan, stasiun kereta api, bandara, pelabuhan, terminal bus hingga Infrastruktur Digital (ICT)maupun Infrastruktur Sosialseperti perumahan, rumah sakit, sekolah, universitas, tempat beribadah, stadion, taman kota dan tempat hiburan, berkaca pada masalah-masalah yang telah terjadi di Pembangunan Infrastruktur Jakarta.”Dalam Pembangunan ekonomi, Pembangunan Infrastruktur menjadi salah satu aspek penting. Tidak bisa dipungkiri bahwa laju pertumbuhan ekonomi negara tidak lepas dari pengaruh infrastruktur yang ada dalam negara tersebut. Pertumbuhan Ekonomi ini pada akhirnya juga akan mempengaruhi Kesejahteraan masyarakatnya.

Seiring rencana Pemindahan Ibukota negara keluar Pulau Jawa, ini Saat dan momen yang tepat Pemerintah Mengimplementasikan Pembangungan Ibukota RI dengan Smart City dan Smart Building secara terIntegrasi dari Awal (Titik Nol).Menurut SmartCities.ieee.org,Smart City adalah sebuah kota pintar menyatukan Teknologi, Pemerintah dan Masyarakat dan termasuk  tapi tidak terbatas pada elemen-elemen berikut ini: 1. ekonomi pintar (smart economy) 2. mobilitas pintar (smart mobility) 3. lingkungan pintar (smart environment) 4. orang pintar (smart people) 5. Hidup pintar (smart living) 6. pemerintahan pintar (smart governance).

Kota Pintar adalah kota yang mana perencanaan kota dipahami dengan tujuan menghubungkan semua satu sama lain menggunakan state-of-the-art teknologi. Konektivitas ini, yang menciptakan sejumlah besar data, kemudian digunakan untuk meningkatkan layanan kota dan infrastruktur serta meningkatkan lingkungan warga dan kualitas hidup. Karena perencanaan perkotaan kota pintar dan berkelanjutan mempengaruhi setiap orang, sangat penting bahwa kita (pemerintah) mengetahui dan memahami apa teknologi yang terlibat dalam membangun kota yang pintar dan bagaimana mereka (partisipasi publik) dapat membantu mencapai tujuan akhir dari transformasi perkotaan menjadi benar-benar kota pintar masa depan.

Masing-masing kota pun melakukan fokus berbeda dalam membangun kotanya menjadi kota yang pintar, tergantung Skala Prioritas.

Smart Building / Gedung Pintar adalah Sebuah bangunan dan infrastruktur yang memberikan pemilik, operator dan penghuni dengan lingkungan yang fleksibel, efektif, nyaman dan aman melalui penggunaan sistem teknologi gedung yang  terintegrasi, komunikasi, dan control. Bangunan pintar kadang-kadang disebut sebagai ‘bangunan otomatis(automated building), bangunan cerdas (intelligent building), atau bangunan yang menggabungkan teknologi pintar. Namun, itu adalah istilah yang cukup ambigu yang pada tingkat yang paling dasar telah digunakan untuk menggambarkan bangunan yang mencakup teknologi seperti: Automated systems. Intelligent building management systems, Energy efficiency measures, Wireless technologies, Digital infrastructure, Adaptive energy systems, Networked appliances, Data gathering devices, Information and communications networks, Assistive technologies &Remote monitoring.

Karena Pembangunan Ibukota RI yang baru dilakukan dari Titik Nol maka Pembangunan Gedung-gedung Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, Rumah Dinas, Sarana Kesehatan, Sarana Pendidikan (SD s/d Perguruan Tinggi), Lembaga Pemasyarakatan, Sarana Olahraga & Hiburanserta Sarana pendukung lainnya bisa Mengimplementasikan Smart Building dan Smart City sekaligus secara bersamaan, Hal ini akan Jadi Pionner dan Role Model Pembangunan Kota baru yang mengimplementasikan kedua Teknologi tersebut secara bersamaan dan Terintegrasi di Indonesia, karena semua Smart City yang sudah dimplementasikan di Indonesia saat ini Kota dan gedung serta fasilitas pendukung sudah berdiri terlebih dahulu dan dibangun dari puluhan bahkan hingga ratusan tahun yang lalu seperti Kota Jakarta, Kota Bandung, Kota Surabaya, Kota Semarang, Kota Bogor, Kota Makassar dsb baru setelah itu diImplementasikan Smart City dan Smart Building (beberapa diantaranya).

Beruntung di era kita dimana Pemerintah berencana membangun kota baru untuk memindahkan Ibukota dari Jakarta ke Kalimantan ini , dunia sudah memasuki era Industri 4.0. Untuk mewujudkan Smart City dan Smart Building kita membutuhkan Digital Infrastruktur baik itu Intrastruktur Telekomunikasi maupun Infrastruktur IT.

Untuk Infrastruktur Telekomunikasi Indonesia kita sudah berhasil menggelar Palapa Ring (Fiber optic) seluas 36 ribu km dari sabang hingga merauke, Satelit Merah Putih dan satelit Nusantara untuk  internet broadband dan 3 operator telekomunikasi (tsel, isat dan xl) sudah berhasil menguji layanan 5G tahun lalu. 5G akan sangat mendukung kesuksesan implementasi jaringan Smart City di Ibukota baru yang akan dibangun disamping keberadaan jaringan fiber optik dan Satelit.

Untuk Infrastruktur IT kebutuhan Data Center dan Cloud Computing serta Security Manajemen (Cyber dan Data Security) adalah kebutuhan dasar Infrastruktur IT yang mesti disiapkan.

Jadi selain pemerintah bisa mengimplementasikan Smart City dan Smart Building yang didukung olehDigital Infrastruktur berbasis industri 4.0, pada saat yang sama Pemerintah juga dapat mengimplementasikan Aplikasi dan Teknologi yang menjadi penopang utama pembangunan sistem Industri 4.0 untuk menjadikan Ibukota Baru RI menjadi Ibukota yang Pintar, Modern, Green, Kreatif,Futuristik, Berkelanjutan dan Berdaya Saing berbasis Teknologi.

Adapun Aplikasi dan Teknologi yang menjadi penopang utama pembangunan ibukota baru RI menggunakan sistem industri 4.0 antara lain sebagai berikut :

Internet of Things (IoT)

Segala sesuatu yang merupakan bagian dari sebuah kota yang pintar perlu terhubung satu sama lain sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan satu sama lain sebagai bagian dari keseluruhan. IoT menyediakan tubuh perangkat berkomunikasi yang menyediakan komunikasi lancar menyediakan solusi pintar untuk setiap situasi dan masalah.

Ada berbagai sensor yang berbeda yang digunakan dalam IoT. Berikut adalah beberapa: The Internet of Things (IoT) adalah apa yang membuat segala sesuatu di kota terhubung. Ini adalah tulang belakang kota yang memungkinkan setiap gerakan dan menghubungkan setiap titik. IoT menawarkan konektivitas yang canggih perangkat pintar (smart devices), wearables, rumah tangga pintar (smart home appliances) dan layanan, perangkat medis, kendaraan terhubung, hiburan pintar (smart entertainment), bangunan pintar (smart building) , mobilitas umum yang pintar (smart public mobility), infrastruktur kota pintar (smart city infrastructure), dan semua sistem dan layanan yang melampaui komunikasi mesin-ke-mesin (M2M).

Kebanyakan segala sesuatu berhubungan dengan hari ini memiliki sensor mengumpulkan dan mengirimkan data ke awan (Cloud). Jaringan terhubung, atau Internet of Things (IoT) interkoneksi semua perangkat yang membuat mereka bekerja bersama-sama. Sensor yang tertanam dalam setiap perangkat fisik yang membentuk ekosistem Internet of Things (Iot).

Teknologi Geospasial

Cara yang tepat untuk membangun perencanaan kota untuk kota pintar membutuhkan ketepatan dan analisis dan penggunaan data yang rinci. Ini adalah persis peran utama bermain teknologi geospasial atau geolokasi. Teknologi Geospasial menyediakan pondasi yang mendasari setiap solusi kota pintar (smart city) dapat dibangun.Geospatial  menyediakan lokasi dan kerangka yang diperlukan untuk mengumpulkan dan menganalisis data, mengubah data tersebut dengan cara memfasilitasi solusi berbasis perangkat lunak di sekitar infrastruktur kota pintar.

Artificial Intelligence (AI)

Jumlah besar data yang dihasilkan oleh sebuah kota pintar akan tidak berguna tanpa menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk proses untuk menghasilkan informasi dan nilai. AI memproses dan menganalisa data yang dihasilkan dari mesin-ke-mesin (M2M) interaksi dalam konteks sebuah kota pintar, toko pintar dan infrastruktur kota. Ada banyak aplikasi smart city di mana AI dapat memainkan peran kunci. Dari perbaikan lalu lintas ke manajemen parkir pintar (smart parking management)untuk integrasi aman naik mobil pribadi dan Layanan Antar-Jemput.

Selain itu, penggunaan AI memungkinkan manajemen untuk memiliki pemahaman yang tepat tentang bagaimana kota bekerja. AI dapat membantu dalam perencanaan rute Transportasi Umum otonom, Manajemen Power grid, Manajemen lalu lintas yang pintar, Pengiriman dengan Drone, Layanan pos otonom, atau unit fasilitas perawatan kesehatan, hal tersebut diatas hanya untuk menyebutkan beberapa dari berbagai aplikasi dalam konteks kota pintar.

Robotik

Kolaborasi manusia-robot dapat menambah kota, pekerjaan, kesehatan dan kehidupan sosial di kota pintar masa depan. Mengintegrasikan robot di ruang kota dengan cepat mengubah beberapa kota paling berteknologi maju menjadi  kota pintar yang nyata. Kota-kota seperti Dubai, Tokyo dan Singapura adalah contoh bagaimana robot di dunia nyata dapat hidup berdampingan dengan manusia. Ahli di bidang Robotika positif tentang manfaat kerja robot dapat membawa manfaat kepada masyarakat di berbagai bidang. Kolaborasi manusia-robot perlu menimbang dua hal: Bagaimana robot bekerja dan bagaimana manusia memutuskan untuk menggunakan robot.

Pada tahun 2020, Jepang akan memperkenalkan taksi robot untuk para wisatawan yang bepergian ke negara tersebut selama Olimpiade. Kursi pintar akan disiapkan di bandara untuk atlet Paralimpiade . Dan  robot sosial akan berinteraksi dengan manusia dalam 20 bahasa yang berbeda. Robot dengan fungsi sosial penerjemah akan membantu orang-orang asing yang berkomunikasi dengan penduduk setempat di Jepang. Hal ini mungkin terdengar bagian dari film fiksi ilmiah. Namun, itu adalah kenyataan yang akan dialami segera oleh banyak pengunjung di Tokyo.

Proyek kota pintar Dubai mencakup bekerja robot sosial dalam pelayanan publik,  cara yang sama dilakukan di kota Rotterdam, Belanda  Dubai juga menggunakan robot dalam sistem pengawasan dan kebijakan, dan sistem transportasi, sesuatu yang Dubai harapkan untuk memiliki minimal 25 persen otomatisasi pada tahun 2030 menuju tujuan yang lebih besar pada tahun 2050.

Taksi terbang Dubai dikembangkan oleh firma drone jerman, Velocopter dan diuji di wilayah udara Dubai pada 2017. Seorang perwira polisi humanoid juga merupakan bagian dari rencana Dubai. Setelah percobaan selesai, Dubai akan menggantikan 25 persen dari kekuatan polisi dengan polisi robot pada tahun 2030.

Di Singapura, rencana pemerintah nasional dalam memperkenalkan robot sebagai ekstensi fisik untuk manajemen dan kota kontrol sistem yang ada. Setelah diuji kemungkinan ini selama bertahun-tahun sekarang dan bekerjasama dengan Airbus helikopter bus antar-jemput yang driverless, robot digunakan sebagai Singapura Post Delivery melalui drone. Hotel di Singapore juga menggunakan layanan robot untuk membersihkan kamar dan layanan kamar. Selain itu, seorang pilot saat ini sedang mengevaluasi bagaimana robot dapat digunakan untuk pendidikan pra-sekolah dalam waktu dekat.

Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR)

Untuk pengembangan kota pintar, teknologi yang mendalam seperti Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) merupakan komponen kunci dari Revolusi Industri keempat. VR dan AR memerlukan sejumlah besar data dan mereka membutuhkannya dengan cepat untuk memberikan VR dan AR pengalaman bergerak. Untuk ini, pentingnya mendapatkan kesiapan jaringan 5G di ibukota baru adalah langkah pertama untuk menjamin keberhasilan teknologi ini.

Setelah jaringan 5G terpasang di Ibukota baru, kita dapat berharap untuk hidup di sebuah dunia yang tadinya hanya mungkin di bidang fiksi beberapa tahun yang lalu. Sekarang, menjadi sebuah kenyataan.

Blockchain

Blockchain adalah transformasi global ekonomi digital. Namun, Blockchain teknologi masih sebuah konsep yang cukup baru di lingkungan kota pintar. Mengintegrasikan teknologi Blockchain ke kota pintar dapat memainkan peran penting dalam menghubungkan semua layanan kota pintar yang pada saat yang sama dapat meningkatkan keamanan dan layanan transparansi.

Blockchain teknologi dapat digunakan dalam diri mengeksekusi kontrak atau kontrak pintar (smart contract) ; ini adalah perjanjian antara pihak-pihak yang langsung ditulis ke dalam baris kode. Kontrak pintar memungkinkan untuk dipercaya dan transparansi transaksi tanpa membutuhkan mediasi pihak ketiga. Hal ini membuat proses lebih mudah, lebih murah, lebih aman dan lebih cepat.  Blockchain teknologi dapat membantu dalam penagihan dan transaksi pengolahan, penanganan fasilitas manajemen atau memfasilitasi grid pintar energi berbagi.

Bagaimanapun, investasi untuk Implementasi Smart City, Smart Building, Aplikasi dan Teknologi yang menjadi penopang utama pembangunan sistem Industri 4.0 pada Ibukota baru RI tersebut memerlukan modal dan biaya yang cukup besar berupa Infrastruktur, Hardware, Software dan Solusinya selain Ketersediaan Lahan. sarana fisik dan penunjanglainnya.

Implementasi Smart City, Smart Building, Aplikasi dan Teknologi lainnya (IoT,GeoSpatial,AI,Robotik, VR/AR, BlockChain, Cloud, Datacenter, Cibersecurity & Digital Infrasruktur lainnya) dapat dilakukan secara bertahap sesuai skala prioritas dengan metode Staging dan bisa dilakukan Pemindahan bertahap begitu tiap Staging selesai. Proses Pembangunan termasuk Pemindahan Ibukota Baru ini diperkirakan memakan waktu 5-10 tahun.

Solusi Investasi (modal dan biaya)dalam membangun Ibukota RI yang baru ini tidak bisa hanya Pemerintah Pusat sendirian menerapkannya, tapi hendaknya melibatkan pihak BUMN, BUMD dan Swasta dengan skema Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) selain dana dari APBN seperti sudah disampaikan oleh Mentri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala BappenasNasional Bambang Brodjonegoro

Adapun wacana Pemerintah yang akan membentuk sebuah Badan Otoritas untuk mengurus Pemindahan Ibukota ini hendaknya beranggotakan semua shareholder dan stakeholder terkait: Praktisidan Pakar,Akademisi, Komunitas   dari semua bidang yang terkaitselain dari unsur Pemerintah dan Birokrasi guna mendapatkan Hasil Kajian dan Blueprint detailserta Implementation Plan& Strategi yang terbaik untukdieksekusi dan diimplementasikan, jangan lupa mengundang Partisipasi Publik (diluar anggota badan otoritas) pada Forum Grup Discussion(FGD) sesuai bidang masing-masing. Last but not Least Pemilihan Konsultan Pendamping dan Perusahaan Mitra Pemerintah (Konsorsium) yang terlibat Pemindahan dan Pembangunan Ibukota baru haruslah sudah Berpengalaman dan mempunyai Track Record serta mempunyai Integritas Terbaik.

Editor
Rafael N

Baca Juga

Back to top button