Kejutan Malaysia, Syed Saddiq dan Pemimpin Milenial

Malaysia, negeri jiran terdekat kita belum lama ini telah melakukan Pemiluhan Raya Umum yang ke 14 (PRU 14). Koalisi Pakatan Harapan yang dipimpin oleh tokoh lama, Tun Mahattir dan tokoh pergerakan Islam, Anwar Ibrahim, telah berhasil mengalahkan petahana koalisi Barisan Nasional yang dipimpin oleh Tun Razak. Tepat pada 10 Mei bulan lalu Malaysia telah mendapatkan pemimpin baru yang dilantik di depan Yang Dipertuan Agung Muhammad V.

Salah satu yang unik dari Perdana Menteri (PM) ke-7 ini adalah ia dilantik di usianya yang ke-92 tahun dan merupakan bekas PM ke-4. Mahathir Mohamad, yang adalah seorang dokter, pernah memimpin Malaysia pada 1981 hingga 2003 dan dijuluki “Bapak Modernisasi” Malaysia. Ketika menjabat sebagai PM, ia memimpin Partai Ketubuhan Kebangsaan Melayu Bersatu (Pekembar), partai inti dari koalisi Barisan Nasional (BN) yang memimpin pemerintahan Malaysia sejak merdeka tahun 1957. Dahulu ia sempat dikenal sebagai pemimpin yang otoriter. Anwar Ibrahim sebagai wakil PM salah satu yang menjadi korban dan musuh politiknya. Kini ia dan Anwar bersatu untuk merealisasikan agenda reformasi membangun Malaysia Baharu bersama koalisi Pakatan Harapan. Ia juga tercatat sebagai pemimpin tertua di dunia saat ini.

Tak hanya itu, kejutan lain datang kembali seiring dilantiknya kabinet PM Mahathir. Diantaranya adalah Menteri Belia dan Sukan yang dipercayakan kepada Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, seorang anak muda dengan usia 25 tahun. Dia mencetak sejarah sebagai menteri termuda dalam sejarah Malaysia. Dia menggantikan Khairy Jamaluddin, yang juga menjadi menteri termuda saat dilantik tahun 2013 lalu. Waktu itu, usia Khairy, 37 tahun.

Saddiq merupakan sarjana hukum dari Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM). Namanya mulai mencuat ketika menolak tawaran beasiswa S2 dari Universitas Oxford jurusan Kebijakan Publik pada Oktober 2017 lalu. Ia lebih memilih untuk aktif dalam politik dan berjuang dalam gerakan anti korupsi. Saat menolak beasiswa itu, Syed Saddiq telah aktif di dunia politik dan melanjutkan karier politik di PPBM. Dia juga disebut ingin aktif melawan korupsi di Malaysia.

Penulis bersama Syed Saddiq.

Kami sempat berjumpa dalam event #WorldQuranHour di mana ia didaulat menjadi brand ambassador. Acara tersebut dihadiri oleh 4000 peserta dan diadakan di Masjid Sultan Haji Ahmad Shah, International Islamic University of Malaysia. Kesan saya terhadapnya setelah sempat berbual(ngobrol sebentar) adalah ia cerdas, tegas dan santun. Kecerdasan intelektualnya berhasil ia bawa dalam kecerdasan berkomunikasi. Di sela-sela keramaian dan berganti jadwal, ia sempatkan menyapa putra saya, Ananda Muhammad Alfatih Harjunadhi yang ketika itu saya gendong. Hal ini menurut saya menunjukkan kepiawaiannya dalam komunikasi. Meski muda ia tak terperangkap dalam rasa angkuh dan merasa pintar, hal yang biasa menyerang jiwa muda. Ia memiliki kepekaan sosial yang lengkap.

Syed Saddiq memimpin ikrar. Dok: dokumentasi pribadi.

Selain Saddiq, ada satu menteri lagi yang memiliki usia muda. Yaitu Yeo Bee Yin, Menteri Tenaga, Teknologi, Sains, Perubahan Iklim dan Alam Sekitar. Kalau di Indonesia adalah Menristek. Ia berusaia 35 tahun dan merupakan alumni Cambridge.

Menurut data yang dilansir oleh Tribunnews, penduduk Malaysia saat ini memiliki usia rata-rata 28 Tahun. Artinya, banyak sekali stok generasi muda yang siap berkontribusi di berbagai bidang. Saya juga mendapati data ketika bersilaturahim dengan Dr. Munthaha, seorang dosen IIUM asal Lamongan, Jawa Timur. Beliau mengemukakan data dari KBRI, jumlah mahasiswa Malaysia yang kuliah di luar negeri mencapai 120 ribu. Sedangkan mahasiswa Indonesia sekitar 60 ribu. Padahal populasi Indonesia jauh lebih besar yakni Indonesia 257 juta jiwa, Malaysia 30 juta jiwa. Oleh karenanya tidak mengherankan apabila pucuk pimpinan bidang-bidang tertentu di Malaysia telah siap diestafetkan ke anak muda yang kita kenal dengan generasi milenial saat ini.

POLITIK DAN GENERASI M

Arena politik dan kepemimpian di Malaysia kini telah mulai bergeser dengan melibatkan banyak sekali generasi muda. Kesuksesan Mahathir dalam memenangkan PRU 14 juga tak luput dari peran anak-anak muda yang dipimpin oleh Syed Saddiq. Di tanah air kita, sudah semestinya anak-anak muda penuh karya mulai peduli dan aktif di arena politik untuk mewakili dan merepresentasikan suara generasi milenial (Gen M).

Selain energi dan zamannya, generasi M saat ini berdasarkan survey dari International Varkey Foundation, telah memiliki sumber kebahagiaan yang jauh dari nilai materialisme, yaitu agama. Hal ini menjadi kabar gembira dan sejalan untuk membangun cita-cita generasi muda bebas korupsi. Materi bukanlah menjadi ukuran kebahagiaan. Idealisme lah yang akan memimpin indentitas generasi M membawa perubahan untuk masyarakat dan bangsanya.

Generasi M selain mewakili generasi milenial, juga bisa lebih spesifik kepada generasi muda muslim. Dicetuskan oleh Shelina Janmohamed, konsultan pencitraan Islam secara global yang berpengalaman membangun merek dengan audiens Muslim. Wanita yang pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 50 tokoh Muslim Berpengaruh di Dunia ini mengatakan, “Generasi M adalah populasi Muslim muda yang terus bertumbuh, dan percaya akan iman dan modernitas”.

Dalam bukunya “Generation M: Young Muslims Changing the world” Shelina juga menulis, “Melalui pertumbuhan Generasi M, pergantian kekuatan ekonomi serta politik akan mengarah pada Timur Tengah dan Asia.”

Inilah momen shifting dunia, di mana sebelumnya para generasi dan pemimpin dunia modern menempatkan agama sebagai penghambat menuju masa depan. Menurut teori mereka, Sains, teknologi & kemajuan tersebar luas maka agama akan menghilang. Namun berbeda dengan sikap Generasi M. Generasi M meyakini dan menganggap agama bisa memimpin modernitas menjadi lebih baik.

Malaysia telah mencatat sejarah baru di era milenial ini. Dipimpin oleh pemimpin tertua dan disaat bersamaan memiliki pemimpin termuda dalam pemerintahan. Semoga generasi milenial Indonesia, khususnya generasi muda muslim, mampu mengambil inspirasinya untuk kita teladani apa yang baik dan ditingkatkan apa yang masih kurang. Zaman ini sangat terbuka bermacam cara dan media untuk berkontribusi dalam membangun bangsa, melalui kekuatan gagasan, ilmu, ide, dan modernitas. Kini saatnya generasi milenial memimpin.

Oleh: Agastya Harjunadhi, ST. MPd.
(Penggiat Pendidikan dan pengembangan Komunitas anak Muda. Youth Leader Ambassador Indonesia Malaysia Youth Program 2014. Founder Future Leaders Cirlcle. Penulis saat ini tinggal di Malaysia).

Setiap Tulisan di Kolom Opini Abadikini.com adalah tanggung jawab penulis, Mau kirim Opini ke abadikini.com silahkan ke redaksi@abadikini.com

Baca Juga

Back to top button